alexametrics
26.5 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Kerajinan Bambu Ngraho Perlu Terobosan

NGRAHO – Kerajinan bambu di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngraho, perlu ada terobosan. Bila tidak, produk andalan masyarakat desa setempat ini akan tergerus pasar yang kian kompetitif. Padahal, kerajinan bambu ini memiliki nilai jual dan menjadi ekonomi desa setempat. Camat Ngraho Moh Saipurrohim mengakui kerajinan bambu di Desa Sugihwaras, memiliki potensi apik karena jenis produknya berkembang.

Bukan lagi rinjing, kleyak, tempeh, kerajinan bambu sudah mengarah suvenir. Misalnya, tempat tisu dan lampu. “Sudah waktunya Ngraho punya produk ikonik. Semoga saja kerajinan bambu ini bisa,” ucapnya. Menurut Saipul, sapaan akrabnya, perlu penguatan kelompok hingga akses pasar agar kerajinan khas ini semakin berkembang. “Penganekaragaman produk kerajinan ini juga menjadi penting,” jelasnya.

Baca Juga :  Pasar Jadi ‘’Kanvas’’ Grafiti 

Dia berharap perlu ada standardisasi kualitas. Serta, peningkatan kompetensi perajin. “Modal dan kemitraan itu pasti,” ujarnya. “Dari berpikir individual ke cara berpikir kelompok,” lanjut dia. Damayanti pendamping keluarga penerima manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) menceritakan, awal dimulai pelatihan ini karena sering melihat keluarga didampinginya banyak membuat anyaman bambu.

Lalu, mendorong kegiatan pelatihan dibantu kecamatan. Warga pun termotivasi memproduksi. “Rerata perajin ini dari kalangan tidak mampu. Sebab mereka penerima manfaat dari PKH,” kata dia. Yanti mengatakan, tak mudah menggerakkan ibu-ibu tersebut. Namun, melihat permintaan pasar, ternyata ibu-ibu semakin termotivasi memproduksi kerajinan anyaman bambu.

NGRAHO – Kerajinan bambu di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngraho, perlu ada terobosan. Bila tidak, produk andalan masyarakat desa setempat ini akan tergerus pasar yang kian kompetitif. Padahal, kerajinan bambu ini memiliki nilai jual dan menjadi ekonomi desa setempat. Camat Ngraho Moh Saipurrohim mengakui kerajinan bambu di Desa Sugihwaras, memiliki potensi apik karena jenis produknya berkembang.

Bukan lagi rinjing, kleyak, tempeh, kerajinan bambu sudah mengarah suvenir. Misalnya, tempat tisu dan lampu. “Sudah waktunya Ngraho punya produk ikonik. Semoga saja kerajinan bambu ini bisa,” ucapnya. Menurut Saipul, sapaan akrabnya, perlu penguatan kelompok hingga akses pasar agar kerajinan khas ini semakin berkembang. “Penganekaragaman produk kerajinan ini juga menjadi penting,” jelasnya.

Baca Juga :  Suami Aniaya Isteri Gara Gara HP

Dia berharap perlu ada standardisasi kualitas. Serta, peningkatan kompetensi perajin. “Modal dan kemitraan itu pasti,” ujarnya. “Dari berpikir individual ke cara berpikir kelompok,” lanjut dia. Damayanti pendamping keluarga penerima manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) menceritakan, awal dimulai pelatihan ini karena sering melihat keluarga didampinginya banyak membuat anyaman bambu.

Lalu, mendorong kegiatan pelatihan dibantu kecamatan. Warga pun termotivasi memproduksi. “Rerata perajin ini dari kalangan tidak mampu. Sebab mereka penerima manfaat dari PKH,” kata dia. Yanti mengatakan, tak mudah menggerakkan ibu-ibu tersebut. Namun, melihat permintaan pasar, ternyata ibu-ibu semakin termotivasi memproduksi kerajinan anyaman bambu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/