alexametrics
29.6 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Pratu Jefri Ardianto, Atlet Dayung Nasional asal Kecamatan Dander

BOJONEGORO – Rasa bangga selalu hinggap ketika seorang putra daerah dari Bojonegoro memiliki sebuah prestasi skala nasional dan internasional. Kali ini, sosok berprestasi tersebut merupakan seorang pemuda asal Desa/Kecamatan Dander yang juga merupakan Korps Marinir TNI AL dengan penempatan tugas di Kompi Senapan Garuda Sakti Yonif-6 Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, sejak 2012 lalu. Pria itu bernama Jefri Ardianto atau di dalam kesatuan TNI AL, dirinya dipanggil Pratu Jefri. Ada banyak medali emas yang dia sabet dari berbagai ajang kejuaran cabang olahraga (cabor) dayung lingkup nasional maupun internasional.

Sayangnya, Jawa Pos Radar Bojonegoro tak bisa menemuinya secara langsung, sebab jadwal latihannya sebagai atlet dayung sangat padat. Sehingga, hanya bisa menghubungi melalui sambungan telepon pada Selasa (1/5) malam lalu. Saat itu, dia perjalanan dari Jakarta ke mes latihannya di wilayah Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, setelah mengikuti kejuaraan Asian Rowing Cup di Singapura pada 26-29 April lalu. “Maaf nunggu, ini baru sampai di mes pelatihan nasional (pelatnas),” terangnya mengawali pembicaraan saat ditelepon.

Suaranya begitu lantang dan tegas ketika ditelepon. Tak ada kesan jemawa ketika mengobrol dirinya. Sebab, setiap langkah dalam hidupnya, modalnya hanya satu, yakni keyakinan. “Sing penting yakin (yang penting yakin, Red) dan tak pernah lupa berdoa,” katanya. Sejak mengawali pendidikan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 2011 sebagai tamtama angkatan 31, Pratu Jefri sangat yakin dengan langkahnya. Kemudian, berangkat dari seorang pedayung team dolphin binaan Batalyon Infanteri (Yonif)-6  Marinir, Pratu Jefri menjelma menjadi sosok yang bermental juara. “Berkat didikan yang kuat dan disiplin berlatih,” ucapnya.

Baca Juga :  Pedagang Pasar Gabus : Paguyuban Sarankan Ditempati Pedagang Baru

Awalnya, pria kelahiran 16 Januari 1993 itu hanya sebatas tentara, tidak ada latar belakang atlet. Namun, seiring berjalannya waktu, ia banyak mengikuti berbagai pelatihan termasuk salah satunya rowing (dayung). Selanjutnya, ia selalu ikut kejuaraan dayung antarbatalyon dan tamtama. Karena mengetahui dirinya punya bakat terpendam di cabor dayung, kemudian ia mengikuti seleksi atlet dayung dragon booth mewakili Provinsi DKI Jakarta pada 2013. “Ketika seleksi juga bersama 10 marinir lainnya, namun kini hanya saya saja yang ditarik mengikuti pelatnas setelah saya dianggap mumpuni ketika mewakili Pemprov DKI Jakarta,” jelas alumni siswa SMAN 2 Bojonegoro tahun 2010 itu.

Pratu Jefri pun mengikuti kejuaraan nasional pra PON pada 2015 dan memeroleh satu medali emas. Selanjutnya, PON XIX 2016 lalu, dia juga sabet satu emas dan dua perak. Prestasi tersebut jadi modalnya tergabung Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) dan mewakili Indonesia di kancah internasional. Di antaranya seperti World Cup Liga di Swiss, Navigation Systems Researsch Foundation (NSRF) di Belanda, Under Twenty Three di Bulgaria, dan Thailand Asian Champion Rowing di Thailand. “Kejuaraan di Belanda menghasilkan 1 emas dan 1 perak, di Bulgaria menghasilkan perunggu, di Swiss juara nomor 4, di Thailand mendapat 1 emas,” paparnya. Selain itu, masih ada banyak lagi kejuaraan yang ia ikuti. “Kalau Asia, juga pernah ikut kejuaraan di Vietnam dan Malaysia. Pernah ikut kejuaraan di Swiss dan Australia,” ujarnya. Saat ini, total raihan medali emasnya sebanyak 13 buah, 3 medali perak, dan 1 perunggu.

Baca Juga :  Awas, Calo Perangkat Desa Bergentayangan !

Adapun pengalaman unik ketika mengikuti kejuaraan dayung di Australia pada Maret lalu. Tamtama berpangkat dua balok merah lurus itu sempat terkendala mengurus visa ketika hendak berangkat ke Australia. Sebab, dirinya seorang TNI AL, ada kemungkinan alasannya dipersulit karena Indonesia dan Australia sempat ada gesekan. Lalu, ketika sampai di Australia, nasib apes menimpanya lagi, kopernya hilang di bandara. “Saat itu cukup bingung juga, karena semua perlengkapan untuk lomba di dalam koper itu semua, tetapi karena yakin akan lancar, akhirnya kami bawa pulang 1 medali dan 2 perak,” jelasnya.

Sementara itu, Pratu Jefri tengah sibuk mengikuti pelatnas cabor dayung untuk mewakili Indonesia pada Asian Games 2018 bulan Agustus mendatang di Palembang, Sumatera Selatan. Selama berkarir sebagai atlet dayung, dia sangat diandalkan kategori lomba 8 pedayung kelas ringan dan 4 pedayung kelas ringan. Targetnya pun ke depan tak terlalu muluk-muluk. “Saya hanya ingin berjuang terus semaksimal mungkin hingga batas akhir, karena pengalaman bertanding berbeda-beda,” pungkas anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Suwarno dan Yusmiati itu. (*/nas)

BOJONEGORO – Rasa bangga selalu hinggap ketika seorang putra daerah dari Bojonegoro memiliki sebuah prestasi skala nasional dan internasional. Kali ini, sosok berprestasi tersebut merupakan seorang pemuda asal Desa/Kecamatan Dander yang juga merupakan Korps Marinir TNI AL dengan penempatan tugas di Kompi Senapan Garuda Sakti Yonif-6 Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, sejak 2012 lalu. Pria itu bernama Jefri Ardianto atau di dalam kesatuan TNI AL, dirinya dipanggil Pratu Jefri. Ada banyak medali emas yang dia sabet dari berbagai ajang kejuaran cabang olahraga (cabor) dayung lingkup nasional maupun internasional.

Sayangnya, Jawa Pos Radar Bojonegoro tak bisa menemuinya secara langsung, sebab jadwal latihannya sebagai atlet dayung sangat padat. Sehingga, hanya bisa menghubungi melalui sambungan telepon pada Selasa (1/5) malam lalu. Saat itu, dia perjalanan dari Jakarta ke mes latihannya di wilayah Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, setelah mengikuti kejuaraan Asian Rowing Cup di Singapura pada 26-29 April lalu. “Maaf nunggu, ini baru sampai di mes pelatihan nasional (pelatnas),” terangnya mengawali pembicaraan saat ditelepon.

Suaranya begitu lantang dan tegas ketika ditelepon. Tak ada kesan jemawa ketika mengobrol dirinya. Sebab, setiap langkah dalam hidupnya, modalnya hanya satu, yakni keyakinan. “Sing penting yakin (yang penting yakin, Red) dan tak pernah lupa berdoa,” katanya. Sejak mengawali pendidikan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 2011 sebagai tamtama angkatan 31, Pratu Jefri sangat yakin dengan langkahnya. Kemudian, berangkat dari seorang pedayung team dolphin binaan Batalyon Infanteri (Yonif)-6  Marinir, Pratu Jefri menjelma menjadi sosok yang bermental juara. “Berkat didikan yang kuat dan disiplin berlatih,” ucapnya.

Baca Juga :  Sudah Punya Anak dan Cucu, 38 Pasutri Ini Tak Kantongi Akta Nikah

Awalnya, pria kelahiran 16 Januari 1993 itu hanya sebatas tentara, tidak ada latar belakang atlet. Namun, seiring berjalannya waktu, ia banyak mengikuti berbagai pelatihan termasuk salah satunya rowing (dayung). Selanjutnya, ia selalu ikut kejuaraan dayung antarbatalyon dan tamtama. Karena mengetahui dirinya punya bakat terpendam di cabor dayung, kemudian ia mengikuti seleksi atlet dayung dragon booth mewakili Provinsi DKI Jakarta pada 2013. “Ketika seleksi juga bersama 10 marinir lainnya, namun kini hanya saya saja yang ditarik mengikuti pelatnas setelah saya dianggap mumpuni ketika mewakili Pemprov DKI Jakarta,” jelas alumni siswa SMAN 2 Bojonegoro tahun 2010 itu.

Pratu Jefri pun mengikuti kejuaraan nasional pra PON pada 2015 dan memeroleh satu medali emas. Selanjutnya, PON XIX 2016 lalu, dia juga sabet satu emas dan dua perak. Prestasi tersebut jadi modalnya tergabung Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) dan mewakili Indonesia di kancah internasional. Di antaranya seperti World Cup Liga di Swiss, Navigation Systems Researsch Foundation (NSRF) di Belanda, Under Twenty Three di Bulgaria, dan Thailand Asian Champion Rowing di Thailand. “Kejuaraan di Belanda menghasilkan 1 emas dan 1 perak, di Bulgaria menghasilkan perunggu, di Swiss juara nomor 4, di Thailand mendapat 1 emas,” paparnya. Selain itu, masih ada banyak lagi kejuaraan yang ia ikuti. “Kalau Asia, juga pernah ikut kejuaraan di Vietnam dan Malaysia. Pernah ikut kejuaraan di Swiss dan Australia,” ujarnya. Saat ini, total raihan medali emasnya sebanyak 13 buah, 3 medali perak, dan 1 perunggu.

Baca Juga :  Tak Hanya Cabai, Harga Daging Ayam Juga Melambung

Adapun pengalaman unik ketika mengikuti kejuaraan dayung di Australia pada Maret lalu. Tamtama berpangkat dua balok merah lurus itu sempat terkendala mengurus visa ketika hendak berangkat ke Australia. Sebab, dirinya seorang TNI AL, ada kemungkinan alasannya dipersulit karena Indonesia dan Australia sempat ada gesekan. Lalu, ketika sampai di Australia, nasib apes menimpanya lagi, kopernya hilang di bandara. “Saat itu cukup bingung juga, karena semua perlengkapan untuk lomba di dalam koper itu semua, tetapi karena yakin akan lancar, akhirnya kami bawa pulang 1 medali dan 2 perak,” jelasnya.

Sementara itu, Pratu Jefri tengah sibuk mengikuti pelatnas cabor dayung untuk mewakili Indonesia pada Asian Games 2018 bulan Agustus mendatang di Palembang, Sumatera Selatan. Selama berkarir sebagai atlet dayung, dia sangat diandalkan kategori lomba 8 pedayung kelas ringan dan 4 pedayung kelas ringan. Targetnya pun ke depan tak terlalu muluk-muluk. “Saya hanya ingin berjuang terus semaksimal mungkin hingga batas akhir, karena pengalaman bertanding berbeda-beda,” pungkas anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Suwarno dan Yusmiati itu. (*/nas)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/