alexametrics
25.5 C
Bojonegoro
Sunday, July 3, 2022

Ronald Hadi Wijaya, Peracik Jamu Herbal di Bojonegoro

FEATURES – Seger kewarasan, itulah motto yang ia sematkan pada pikiran konsumennya. Karena bagi Ronald Hadi Wijaya sehat itu indah dan jamu herbal merupakan obat dari alam yang harus dilestarikan. Dia menyebutnya seperti koki, tapi yang diracik bahan rempah-rempah dan tumbuh-tumbuhan.

Hiruk pikuk pasar kota Bojonegoro seusai magrib sangat menenangkan hati. Melihat banyak orang sedang sibuk bertransaksi dengan rukun, seperti matahari dan rembulan dengan penuh keakraban bertukar posisi . Riuhnya pedagang menjajakan dagangannya berburu pembeli, berharap datang setumpuk rezeki.

Sebagian besar ketika malam hari diisi para penjual sayur mayur, warung kopi, warung makan, ikan segar, dan sebagainya. Tetapi ketika menyusuri deretan pertokoan pasar, ada salah satu toko yang terlihat berbeda, toko tersebut menjual beraneka macam rempah-rempah.

Tanpa pikir panjang, seusai tuntas menikmati pasar, lalu berbelok di toko tersebut dan parkir di depan warung makan di dekat toko tersebut. Kondisi tepi jalan pasar saat itu memang berjejal ramai. Penasaran pun muncul, karena dari luar tak terlihat jamu dalam bentuk sachet yang biasanya digantung rapi di tembok.

Ketika masuk, seorang pria berkacamata ke luar dari dalam ruangan di balik tokonya. Dia menyapa dengan ramah, lalu memesankan segelas es teh di salah satu warung depan tokonya, sembari menunggu dirinya yang baru saja membuka tokonya. “Bentar ya mas, saya siap-siap dulu baru buka toko soalnya, mau masak air,” ujarnya. 

Baca Juga :  Antisipasi Omicron, Kirim Sampel ke ITD Unair

Ternyata, toko jamu itu tidak buka dari pagi hingga malam, melainkan pagi hingga siang, lalu malam buka lagi hingga pukul 22.00. Setelah menunggu sekitar 15 menit, pria tersebut baru memperkenalkan namanya, yakni Ronald Hadi Wijaya. 

Dia terjun ke dalam dunia jamu herbal belum genap setahun. Sebelumnya, Ronald, sapaan akrabnya, berbisnis tembakau, tetapi akhir-akhir ini bisnis tersebut kurang menguntungkan. “Dulu bisnis tembakau, tapi karena pabrik-pabrik kecil banyak kolaps akhirnya banting setir menggeluti jamu-jamu herbal,” jelasnya.

Ilmu meracik jamu herbal dia dapatkan dari mertuanya yang berdomisili di Kota Batu. Ilmu tersebut turun temurun kurang lebih setengah abad. “Ilmunya sudah 50 tahun lebih, karena mertua saya juga dapat ilmunya dari orang tuanya,” tuturnya. Proses belajarnya pun tak instan, sekitar sembilan tahun. Karena belajarnya apabila sedang berkunjung ke Kota Batu saja. “Saya belajarnya lama, karena saya jadi menantunya sekitar 2009 silam,” terangnya. 

Baca Juga :  Elf Masuk Jurang Hutan, Sembilan Penumpang Luka

Hal tersulitnya tentu menghafalkan nama tumbuh-tumbuhan sekaligus aneka rempah-rempah. Setelah hafal nama-namanya, perlu belajar meracik sesuai dengan takarannya dan tahu manfaat jamu tersebut. 

Tetapi karena Ronald memang tertarik dengan ilmu meracik jamu herbal tersebut, akhirnya dia membulatkan tekad berbisnis jamu herbal. Sehingga stoknya pun hingga kini masih dipasok oleh distributor yang sudah berlangganan dengan mertuanya. 

Pasokan jamu ada yang sudah serbuk dan kering. Jadi, konsumen bisa pilih, mau direbus sendiri di rumah atau minum langsung yang serbuk di tempatnya. Konsumen paling banyak membeli jamu pegal linu, vitalitas, sari rapet, kencing manis, dan kolesterol. Bahkan, ada konsumen yang minta jamu untuk mengobati hernia dan batu empedu.

“Kalau jamu herbal sifatnya itu memperbaiki sel-sel yang rusak dan minim efek samping, kalau sudah parah tentunya tetap saya sarankan diperiksakan ke dokter,” tutur bapak satu anak itu. 

Uniknya, konsumen tak hanya cari jamu saja, tetapi ada yang digunakan untuk memasak. Karena dia menyediakan beraneka macam rempah-rempah seperti merica, lada, kapulaga, kemiri, kencur, dan sebagainya.

FEATURES – Seger kewarasan, itulah motto yang ia sematkan pada pikiran konsumennya. Karena bagi Ronald Hadi Wijaya sehat itu indah dan jamu herbal merupakan obat dari alam yang harus dilestarikan. Dia menyebutnya seperti koki, tapi yang diracik bahan rempah-rempah dan tumbuh-tumbuhan.

Hiruk pikuk pasar kota Bojonegoro seusai magrib sangat menenangkan hati. Melihat banyak orang sedang sibuk bertransaksi dengan rukun, seperti matahari dan rembulan dengan penuh keakraban bertukar posisi . Riuhnya pedagang menjajakan dagangannya berburu pembeli, berharap datang setumpuk rezeki.

Sebagian besar ketika malam hari diisi para penjual sayur mayur, warung kopi, warung makan, ikan segar, dan sebagainya. Tetapi ketika menyusuri deretan pertokoan pasar, ada salah satu toko yang terlihat berbeda, toko tersebut menjual beraneka macam rempah-rempah.

Tanpa pikir panjang, seusai tuntas menikmati pasar, lalu berbelok di toko tersebut dan parkir di depan warung makan di dekat toko tersebut. Kondisi tepi jalan pasar saat itu memang berjejal ramai. Penasaran pun muncul, karena dari luar tak terlihat jamu dalam bentuk sachet yang biasanya digantung rapi di tembok.

Ketika masuk, seorang pria berkacamata ke luar dari dalam ruangan di balik tokonya. Dia menyapa dengan ramah, lalu memesankan segelas es teh di salah satu warung depan tokonya, sembari menunggu dirinya yang baru saja membuka tokonya. “Bentar ya mas, saya siap-siap dulu baru buka toko soalnya, mau masak air,” ujarnya. 

Baca Juga :  Antisipasi Omicron, Kirim Sampel ke ITD Unair

Ternyata, toko jamu itu tidak buka dari pagi hingga malam, melainkan pagi hingga siang, lalu malam buka lagi hingga pukul 22.00. Setelah menunggu sekitar 15 menit, pria tersebut baru memperkenalkan namanya, yakni Ronald Hadi Wijaya. 

Dia terjun ke dalam dunia jamu herbal belum genap setahun. Sebelumnya, Ronald, sapaan akrabnya, berbisnis tembakau, tetapi akhir-akhir ini bisnis tersebut kurang menguntungkan. “Dulu bisnis tembakau, tapi karena pabrik-pabrik kecil banyak kolaps akhirnya banting setir menggeluti jamu-jamu herbal,” jelasnya.

Ilmu meracik jamu herbal dia dapatkan dari mertuanya yang berdomisili di Kota Batu. Ilmu tersebut turun temurun kurang lebih setengah abad. “Ilmunya sudah 50 tahun lebih, karena mertua saya juga dapat ilmunya dari orang tuanya,” tuturnya. Proses belajarnya pun tak instan, sekitar sembilan tahun. Karena belajarnya apabila sedang berkunjung ke Kota Batu saja. “Saya belajarnya lama, karena saya jadi menantunya sekitar 2009 silam,” terangnya. 

Baca Juga :  ASN Wajib Bawa Surat Tugas

Hal tersulitnya tentu menghafalkan nama tumbuh-tumbuhan sekaligus aneka rempah-rempah. Setelah hafal nama-namanya, perlu belajar meracik sesuai dengan takarannya dan tahu manfaat jamu tersebut. 

Tetapi karena Ronald memang tertarik dengan ilmu meracik jamu herbal tersebut, akhirnya dia membulatkan tekad berbisnis jamu herbal. Sehingga stoknya pun hingga kini masih dipasok oleh distributor yang sudah berlangganan dengan mertuanya. 

Pasokan jamu ada yang sudah serbuk dan kering. Jadi, konsumen bisa pilih, mau direbus sendiri di rumah atau minum langsung yang serbuk di tempatnya. Konsumen paling banyak membeli jamu pegal linu, vitalitas, sari rapet, kencing manis, dan kolesterol. Bahkan, ada konsumen yang minta jamu untuk mengobati hernia dan batu empedu.

“Kalau jamu herbal sifatnya itu memperbaiki sel-sel yang rusak dan minim efek samping, kalau sudah parah tentunya tetap saya sarankan diperiksakan ke dokter,” tutur bapak satu anak itu. 

Uniknya, konsumen tak hanya cari jamu saja, tetapi ada yang digunakan untuk memasak. Karena dia menyediakan beraneka macam rempah-rempah seperti merica, lada, kapulaga, kemiri, kencur, dan sebagainya.

Artikel Terkait

Most Read

Harga Garam Setara Beras

Senggol Elf, Tabrak Motor, Hantam Pohon

Artikel Terbaru

Makin Sombong, Makin Bernilai

Kehilangan Akun Line


/