alexametrics
26 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Rumah Pribadi Digunakan Rumah Baca

Untuk menyebarkan virus membaca tidak terbatas oleh tempat. Seperti Rumah Baca Sinau Srengenge. Meski berada di kecamatan paling selatan di Blora, yakni Kecamatan Kradenan.

Suara riuh anak-anak terdengar di rumah yang terletak di RT 2/RW 2, Desa Mojorembun, Kecamatan Kradenan. Rumah tidak terlalu luas ini banyak ditempati oleh anak-anak sekolah. Mereka saling berbicara, tapi banyak dari mereka lebih fokus di buku yang masing-masing mereka bawa.

Di sela-sela ramainya anak-anak sekolah itu, seorang pria dewasa ada di tengah-tengah mereka. Dia nampak memperhatikan dan sesekali ada salah satu dari mereka mendatanginya untuk bertanya sesuatu.

M. Nur Rofiq Addiansyah, 22, inisiator Rumah Baca Sinau Srengenge yang menjadi komunitas baca di Kecamatan Kradenan.

Rofiq, sapaan akrabnya, menjelasakan, sebenarnya rumah baca miliknya ini baru berdiri sejak 28 April 2018 lalu. Berawal dari komunitas baca dan suka membantu warga Mojorembun yang setiap tahunnya selalu menjadi korban banjir.

Saat ada banjir itulah, dirinya dan teman-temannya yang lain memberikan buku kepada anak-anak korban banjir. Kemudian komunitas rumah baca itu mulai berjalan.

Baca Juga :  Cepu Dijadikan Tata Ruang Nasional

Selama ini kesadaran anak-anak untuk membaca di Kecamatan Kradenan masih kurang. “Ditambah selama ini perpustkaan di sekolah mati, meski ada tidak pernah dibuka,” ujar pria lulusan program pasca sarjana ilmu politik dan pemerintahan fisipol Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta ini.

Kondisi itu, lanjutnya, menggerakkan untuk menghidupkan literasi di desanya. Apalagi saat itu baru saja selesai menimba ilmu di Jogjakarta. Kemudian dirinya dan angkatan muda Muhammadiyah Kradenan menggerakkan literasi.

Rumah baca ini bertujuan mengampanyekan kegiatan membaca di sekolah-sekolah, permainan edukatif, bedah buku atau film, pendampingan belajar, pelatihan menulis, serta mencoba membantu sekolah-sekolah untuk kembali menghidupkan kegiatan literasi.

Selama ini sasaran dari rumah bacanya adalah anak sekolah di sekitar desanya. “Peserta literasi tak terbatas pada anak-anak, tapi semua kalangan umur yang mau dan memiliki semangat untuk belajar,” jelasnya.

Untuk membentuk rumah baca ini, menurut Rofiq, membutuhkan usaha banyak. Bahkan pengurus rumah baca sering mengeluarkan uang pribadi untuk memenuhi kebutuhan kegiatan.

Belum berhenti di situ saja, saat kegiatan juga membutuhkan kreativitas dari pengurus rumah baca. Seperti harus memiliki tema yang berbeda-beda.

Baca Juga :  Jadi Diplomasi Meja Makan

Ada tentang literasi pasar, literasi di pinggir kali, literasi kuliner, literasi pahlawan, literasi kitab suci,  dan beragam tema lainnya.

Mengajak anak-anak dan masyarakat untuk belajar di lapangan bersama-sama. Itu dilakukan untuk lebih membuat rumah baca miliknya banyak diminati. Agar tidak melulu di rumah.

Pecapaian dari rumah bacanya adalah pada Januari 2019 lalu mendampingi belajar anak-anak SD yang akan lomba cerdas cermat. “Hasilnya SDN 1 Mojorembun meraih juara 1,” jelasnya.

Meski begitu, menurut Rofiq, sampai saat ini rumah bacanya itu belum memiliki lokasi tetap.

Kesulitan transportasi untuk mengangkut buku juga dirasakan. Karena memang rumah baca ini mengangkat model taman baca bergerak (moving library). “Kalau untuk buku-bukunya lumayan, hanya buku fiksi anak masih kurang,” imbuhnya.

Hingga saat ini dirinya masih belum pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Blora. Padahal perpustakaannya cukup dekat dengan Kecamatan Kradenan. Selain Mojorembun, juga di Desa Sumber, Menden, dan Medalem.

Selama ini rumah bacanya mendapatkan bantuan dari PP Muhammadiyah. Sampai saat ini itulah yang dimanfaatkan.

Untuk menyebarkan virus membaca tidak terbatas oleh tempat. Seperti Rumah Baca Sinau Srengenge. Meski berada di kecamatan paling selatan di Blora, yakni Kecamatan Kradenan.

Suara riuh anak-anak terdengar di rumah yang terletak di RT 2/RW 2, Desa Mojorembun, Kecamatan Kradenan. Rumah tidak terlalu luas ini banyak ditempati oleh anak-anak sekolah. Mereka saling berbicara, tapi banyak dari mereka lebih fokus di buku yang masing-masing mereka bawa.

Di sela-sela ramainya anak-anak sekolah itu, seorang pria dewasa ada di tengah-tengah mereka. Dia nampak memperhatikan dan sesekali ada salah satu dari mereka mendatanginya untuk bertanya sesuatu.

M. Nur Rofiq Addiansyah, 22, inisiator Rumah Baca Sinau Srengenge yang menjadi komunitas baca di Kecamatan Kradenan.

Rofiq, sapaan akrabnya, menjelasakan, sebenarnya rumah baca miliknya ini baru berdiri sejak 28 April 2018 lalu. Berawal dari komunitas baca dan suka membantu warga Mojorembun yang setiap tahunnya selalu menjadi korban banjir.

Saat ada banjir itulah, dirinya dan teman-temannya yang lain memberikan buku kepada anak-anak korban banjir. Kemudian komunitas rumah baca itu mulai berjalan.

Baca Juga :  Bekuk Residivis Ganja di Depan Rumah

Selama ini kesadaran anak-anak untuk membaca di Kecamatan Kradenan masih kurang. “Ditambah selama ini perpustkaan di sekolah mati, meski ada tidak pernah dibuka,” ujar pria lulusan program pasca sarjana ilmu politik dan pemerintahan fisipol Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta ini.

Kondisi itu, lanjutnya, menggerakkan untuk menghidupkan literasi di desanya. Apalagi saat itu baru saja selesai menimba ilmu di Jogjakarta. Kemudian dirinya dan angkatan muda Muhammadiyah Kradenan menggerakkan literasi.

Rumah baca ini bertujuan mengampanyekan kegiatan membaca di sekolah-sekolah, permainan edukatif, bedah buku atau film, pendampingan belajar, pelatihan menulis, serta mencoba membantu sekolah-sekolah untuk kembali menghidupkan kegiatan literasi.

Selama ini sasaran dari rumah bacanya adalah anak sekolah di sekitar desanya. “Peserta literasi tak terbatas pada anak-anak, tapi semua kalangan umur yang mau dan memiliki semangat untuk belajar,” jelasnya.

Untuk membentuk rumah baca ini, menurut Rofiq, membutuhkan usaha banyak. Bahkan pengurus rumah baca sering mengeluarkan uang pribadi untuk memenuhi kebutuhan kegiatan.

Belum berhenti di situ saja, saat kegiatan juga membutuhkan kreativitas dari pengurus rumah baca. Seperti harus memiliki tema yang berbeda-beda.

Baca Juga :  Belum Semua CJH Melunasi BPIH

Ada tentang literasi pasar, literasi di pinggir kali, literasi kuliner, literasi pahlawan, literasi kitab suci,  dan beragam tema lainnya.

Mengajak anak-anak dan masyarakat untuk belajar di lapangan bersama-sama. Itu dilakukan untuk lebih membuat rumah baca miliknya banyak diminati. Agar tidak melulu di rumah.

Pecapaian dari rumah bacanya adalah pada Januari 2019 lalu mendampingi belajar anak-anak SD yang akan lomba cerdas cermat. “Hasilnya SDN 1 Mojorembun meraih juara 1,” jelasnya.

Meski begitu, menurut Rofiq, sampai saat ini rumah bacanya itu belum memiliki lokasi tetap.

Kesulitan transportasi untuk mengangkut buku juga dirasakan. Karena memang rumah baca ini mengangkat model taman baca bergerak (moving library). “Kalau untuk buku-bukunya lumayan, hanya buku fiksi anak masih kurang,” imbuhnya.

Hingga saat ini dirinya masih belum pernah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Blora. Padahal perpustakaannya cukup dekat dengan Kecamatan Kradenan. Selain Mojorembun, juga di Desa Sumber, Menden, dan Medalem.

Selama ini rumah bacanya mendapatkan bantuan dari PP Muhammadiyah. Sampai saat ini itulah yang dimanfaatkan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/