alexametrics
30.7 C
Bojonegoro
Saturday, June 25, 2022

Perahu Penyeberangan Jembatan Bojonegoro Blora Akan Dikonsep Wisata

Beroperasinya Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora (TBB) memudahkan dua warga kabupaten melintas. Kapanpun. Namun, ada pekerjaan rumah (PR) merawat para jasa penyeberangan perahu agar tetap hidup.

Suara diesel perahu penyeberangan di bawah Jembatan TBB begitu nyaring. Terasa berat melintas Sungai Bengawan Solo. Perahu mengangkut sekitar 20 motor dan 39 penumpang, kemarin siang (3/1). Tak ada yang memakai pelampung. Namun, mereka sudah terbiasa menyeberang Sungai Bengawan Solo dengan perahu. Sudah akrab dengan Bengawan Solo, meski debit pasang usai hujan. Mungkin kemarin menjadi hari terakhir beroperasinya perahu penyeberangan di selatan Jembatan TBB itu.

Wajah-wajah penumpang sesekali menengok ke atas, memandang Jembatan TBB yang baru diresmikan kemarin (3/1). Jembatan membujur barat timur itu terdapat beragam warga yang penasaran jembatan beton itu. Jawa Pos Radar Bojonegoro mendatangi tempat perahu penyeberangan bersandar. Jaraknya sekitar 300 meter dari Jembatan TBB.

Terlihat beberapa orang menunggu perahu, kebetulan harus bergantian dan menunggu perahu penuh. Sampai di sisi Bojonegoro, perahu bersandar. Satu per satu penumpang dan pengendara motor turun. Beberapa motor dengan muatan kayu di dorong pengemudi perahu karena tak mampu menanjak karena licinnya jalan di tepi bengawan.

Baca Juga :  Hanya Empat Proyek Dimenangkan Kontraktor Lokal

Wajah Muhammad Sayuti terlihat sedih dan sedikit lemas. Bukan karena capek. Namun karena kemarin bisa jadi hari terkahirnya bekerja di atas perahu penyebarangan. Adanya jembatan akan membuat penumpang memilih menggunakan jemabatan. Warga Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Blora, itu memastikan kemarin banyak penumpang seperti ketika hari raya. “Semoga ada kompensasi pemerintah. Untuk modal usaha,” ujarnya.

Sayuti tak memiliki perahu sendiri. Perahu merupakan milik orang yang disewa. Sistem bagi hasil. Sementara itu, Siswo salah satu penumpang mengaku prihatin jika jasa penyebarangan perahu tutup. Merasa kasihan dengan pengemudi perahu yang sudah lama berjasa itu. “Semoga mendapat pekerjaan lain,” ungkapnya.

Camat Ngraho Saipurrohim mengatakan, mendorong mengubah perahu penyeberangan menjadi perahu wisata. Sebagai upaya menjadikan Desa Luwihaji sebagai titik pendukung destinasi yang lebih besar pada 3-5 tahun ke depan.

Baca Juga :  Bahaya, BPOM Temukan 49 Merek Jamu Berbahan Kimia

Selain itu, Desa Luwihaji menyimpan sejarah selama ini belum terungkap. Menurut Camat, ada sejarah terkait keberadaan makam Ki Nanggul Yudha beserta tiga pengikutnya. Mereka disebut sebagai penderek Sunan Bonang saat memerangi keangkaramurkaan Ki Bancak Ngilo. Kemudian diperintahkan untuk tidak mengikuti pengejaran. Sebaliknya tetap mukim di Desa Luwihaji untuk menyebarkan agama Islam.

“Secara konseptual memantik pertanyaan sebenarnya Islam masuk ke wilayah Bojonegoro dari titik mana, adalah sebuah kemenarikan belum diungkap,” tutur Camat. Juga diseberang Bengawan Solo ada situs Gua Sentono. Membuat sebagai wisata desa dengan konsep yang sedang ditawarkan kepada pelaku di desa melalui badan usaha milik desa atau BUMDes. (irv)

Beroperasinya Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora (TBB) memudahkan dua warga kabupaten melintas. Kapanpun. Namun, ada pekerjaan rumah (PR) merawat para jasa penyeberangan perahu agar tetap hidup.

Suara diesel perahu penyeberangan di bawah Jembatan TBB begitu nyaring. Terasa berat melintas Sungai Bengawan Solo. Perahu mengangkut sekitar 20 motor dan 39 penumpang, kemarin siang (3/1). Tak ada yang memakai pelampung. Namun, mereka sudah terbiasa menyeberang Sungai Bengawan Solo dengan perahu. Sudah akrab dengan Bengawan Solo, meski debit pasang usai hujan. Mungkin kemarin menjadi hari terakhir beroperasinya perahu penyeberangan di selatan Jembatan TBB itu.

Wajah-wajah penumpang sesekali menengok ke atas, memandang Jembatan TBB yang baru diresmikan kemarin (3/1). Jembatan membujur barat timur itu terdapat beragam warga yang penasaran jembatan beton itu. Jawa Pos Radar Bojonegoro mendatangi tempat perahu penyeberangan bersandar. Jaraknya sekitar 300 meter dari Jembatan TBB.

Terlihat beberapa orang menunggu perahu, kebetulan harus bergantian dan menunggu perahu penuh. Sampai di sisi Bojonegoro, perahu bersandar. Satu per satu penumpang dan pengendara motor turun. Beberapa motor dengan muatan kayu di dorong pengemudi perahu karena tak mampu menanjak karena licinnya jalan di tepi bengawan.

Baca Juga :  Bapenda Apresiasi Pengumuman, Pelunasan PBB-P2 Tercepat 

Wajah Muhammad Sayuti terlihat sedih dan sedikit lemas. Bukan karena capek. Namun karena kemarin bisa jadi hari terkahirnya bekerja di atas perahu penyebarangan. Adanya jembatan akan membuat penumpang memilih menggunakan jemabatan. Warga Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Blora, itu memastikan kemarin banyak penumpang seperti ketika hari raya. “Semoga ada kompensasi pemerintah. Untuk modal usaha,” ujarnya.

Sayuti tak memiliki perahu sendiri. Perahu merupakan milik orang yang disewa. Sistem bagi hasil. Sementara itu, Siswo salah satu penumpang mengaku prihatin jika jasa penyebarangan perahu tutup. Merasa kasihan dengan pengemudi perahu yang sudah lama berjasa itu. “Semoga mendapat pekerjaan lain,” ungkapnya.

Camat Ngraho Saipurrohim mengatakan, mendorong mengubah perahu penyeberangan menjadi perahu wisata. Sebagai upaya menjadikan Desa Luwihaji sebagai titik pendukung destinasi yang lebih besar pada 3-5 tahun ke depan.

Baca Juga :  Mengenal Bojonegoro Parenting Club (BPC)

Selain itu, Desa Luwihaji menyimpan sejarah selama ini belum terungkap. Menurut Camat, ada sejarah terkait keberadaan makam Ki Nanggul Yudha beserta tiga pengikutnya. Mereka disebut sebagai penderek Sunan Bonang saat memerangi keangkaramurkaan Ki Bancak Ngilo. Kemudian diperintahkan untuk tidak mengikuti pengejaran. Sebaliknya tetap mukim di Desa Luwihaji untuk menyebarkan agama Islam.

“Secara konseptual memantik pertanyaan sebenarnya Islam masuk ke wilayah Bojonegoro dari titik mana, adalah sebuah kemenarikan belum diungkap,” tutur Camat. Juga diseberang Bengawan Solo ada situs Gua Sentono. Membuat sebagai wisata desa dengan konsep yang sedang ditawarkan kepada pelaku di desa melalui badan usaha milik desa atau BUMDes. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Biru Milik Langit

Februari Rastra Berubah Jadi BPNT 

Olah TKP, Kabur, Residivis Didor 

Artikel Terbaru


/