alexametrics
22.5 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Berarsitektur Eropa, Milik Saudagar Tembakau Pribumi

Wilayah Kecamatan Padangan, menyimpan sejarah panjang. Jejaknya hingga kini masih awet. Salah satunya berupa rumah-rumah tua berarsitektur Eropa.

LALU lintas kendaraan begitu padat. Roda-roda kendaraan tak berhenti menggelinding. Suara klakson nyaring. Truk, bus, dan motor bergiliran berhenti. Bergantian melintas di perempatan Desa/Kecamatan Padangan. 

Itulah suasana perempatan lampu merah Desa Padangan, kemarin siang (2/1). Perempatan itu cukup padat. Berdekatan dengan Jembatan Kecamatan Kasiman. Juga, hanya sekitar 3 kilometer dari Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. 

Dari wilayah Bojonegoro Kota, menuju perempatan Desa Padangan, ini butuh sekitar 45 menit. Jaraknya sekitar 33 kilometer. Di sekitar perempatan Desa Padangan, terdapat beragam rumah-rumah tua. Arsitekturnya khas. Mencolok karena berada di tepi jalan raya.

Barat perempatan, hanya sekitar belasan meter terdapat salah satu rumah tua mencolok. Lokasinya di timur Polsek Padangan. Sekilas, rumah itu mirip bangunan peninggalan milik Belanda. 

Sejak 2017, rumah tua tersebut kini menjadi aset Pemkab Bojonegoro. Namun sebelum dibeli pemkab setempat, ternyata rumah tersebut dibangun dan milik pribumi. Bukan milik orang Belanda.

Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan mengunjungi bangunan tua tersebut. Setiba di lokasi, kondisi rumah tampak sepi. Tak seramai kendaraan lalu lalang di jalan poros Bojonegoro-Cepu. 

Tak lama kemudian, datanglah seorang pria seraya mengambil kunci di dalam saku. Membuka pintu gerbang rumah. Pria tersebut adalah Fachrudin. Penjaga sekaligus cicit dari pemilik awal dan asli rumah tua yakni H. Ali Rasyad.

Baca Juga :  72 Tahun Persibo: Semua Pernah Juara, yang Belum Kasta Tertinggi

‘’Rumah ini dibangun pada 1911 dan rampung sekitar 1922. Dan ditempati pada 1932,” kata pria tinggal di Desa Banjarjo, Kecamatan Padangan.

H. Ali Rasyad merupakan seorang saudagar tembakau yang masyhur dan terpandang kala itu. Namun, Fachrudin tak mengetahui secara pasti alasan rumah itu bermodelkan mirip bangunan Belanda ataupun Eropa.

‘’Dulu di wilayah sini banyak orang Belanda ataupun Eropa. Kakek kerap berinteraksi dan bertransaksi dengan mereka,” ujar dia.

Wajar saja karena seperti diketahui Kecamatan Padangan sempat menjadi pusat administrasi di masa lampau. Terlebih lokasi rumah tua cukup dekat (beberapa ratus meter ke selatan) dengan bantaran Sungai Bengawan Solo yang berfungsi sebagai sentra perdagangan.

‘’Dulu kan Taman Bengawan Padangan (dekat jembatan penghubung Padangan-Kasiman) merupakan pelabuhan. Pintu masuk perdagangan atau perekonomian,” ujarnya dengan santai.

Menurut dia, setiap ruangan rumah tersebut memiliki fungsi masing-masing. Bagian depan sebagai teras. Ruangan di baliknya ruang tamu. Sebelahnya, ruangan bermoncong bulat kedepan sebagai tempat rapat serta transaksi jual beli tembakau.

Di belakang ruang tamu berfungsi sebagai kamar. Di sebelahnya terdapat ruangan yang ada anak tangga untuk menuju ruangan atas. Sedangkan, ruangan paling belakang berfungsi dapur (juga terdapat sumur) hingga kamar mandi.

Baca Juga :  Kuota Pupuk Lebih Rendah dari Usulan 

‘’Ada juga ruangan di atas (loteng) sebagai gudang. Mungkin untuk tempat penyimpanan tembakau,” imbuh dia.

Menurut dia, beberapa pengamat atau budayawan pernah mengunjungi rumah menghadap ke selatan itu. Ada yang dari Kabupaten Mojokerto maupun lokal Bojonegoro. Hasilnya, setiap ukiran-ukiran di dinding rumah memiliki arti tersendiri. Hiasan serta warna-warni kaca pada pintunya pun sama.

‘’Jadi ada arti berbeda-beda. Mereka (pengamat atau budayawan) tahu itu. Saya yang lahir dan pernah tinggal di sini tidak mengetahuinya,” ucapnya.

Adapun rumah tua menghadap ke selatan ini sudah dibeli Pemkab Bojonegoro pada 2017 lalu. Fungsinya sebagai cagar budaya dan terbuka untuk masyarakat umum. Namun, ia mengakui jumlah pengunjung umum masih terbilang minim.

‘’Karena pengunjung masih bingung kalau akan masuk. Di dalam rumah tidak ada isinya. Sehingga hanya sedikit yang datang,” tambah dia.

Pengunjung paling banyak yang hendak foto prewedding. Fachrudin tak bisa menghitung persis jumlahnya. Namun, intensitasnya terasa saat memasuki masa atau bulan yang ramai pernikahan.

‘’Tapi setelah mendapat perawatan dari pemkab, Desember 2019 lalu baru ada satu pengunjung. Sedangkan sebelumnya banyak,” bebernya. (*/rij)

Wilayah Kecamatan Padangan, menyimpan sejarah panjang. Jejaknya hingga kini masih awet. Salah satunya berupa rumah-rumah tua berarsitektur Eropa.

LALU lintas kendaraan begitu padat. Roda-roda kendaraan tak berhenti menggelinding. Suara klakson nyaring. Truk, bus, dan motor bergiliran berhenti. Bergantian melintas di perempatan Desa/Kecamatan Padangan. 

Itulah suasana perempatan lampu merah Desa Padangan, kemarin siang (2/1). Perempatan itu cukup padat. Berdekatan dengan Jembatan Kecamatan Kasiman. Juga, hanya sekitar 3 kilometer dari Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. 

Dari wilayah Bojonegoro Kota, menuju perempatan Desa Padangan, ini butuh sekitar 45 menit. Jaraknya sekitar 33 kilometer. Di sekitar perempatan Desa Padangan, terdapat beragam rumah-rumah tua. Arsitekturnya khas. Mencolok karena berada di tepi jalan raya.

Barat perempatan, hanya sekitar belasan meter terdapat salah satu rumah tua mencolok. Lokasinya di timur Polsek Padangan. Sekilas, rumah itu mirip bangunan peninggalan milik Belanda. 

Sejak 2017, rumah tua tersebut kini menjadi aset Pemkab Bojonegoro. Namun sebelum dibeli pemkab setempat, ternyata rumah tersebut dibangun dan milik pribumi. Bukan milik orang Belanda.

Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan mengunjungi bangunan tua tersebut. Setiba di lokasi, kondisi rumah tampak sepi. Tak seramai kendaraan lalu lalang di jalan poros Bojonegoro-Cepu. 

Tak lama kemudian, datanglah seorang pria seraya mengambil kunci di dalam saku. Membuka pintu gerbang rumah. Pria tersebut adalah Fachrudin. Penjaga sekaligus cicit dari pemilik awal dan asli rumah tua yakni H. Ali Rasyad.

Baca Juga :  Noni, Nyonya, hingga Tuan Belanda

‘’Rumah ini dibangun pada 1911 dan rampung sekitar 1922. Dan ditempati pada 1932,” kata pria tinggal di Desa Banjarjo, Kecamatan Padangan.

H. Ali Rasyad merupakan seorang saudagar tembakau yang masyhur dan terpandang kala itu. Namun, Fachrudin tak mengetahui secara pasti alasan rumah itu bermodelkan mirip bangunan Belanda ataupun Eropa.

‘’Dulu di wilayah sini banyak orang Belanda ataupun Eropa. Kakek kerap berinteraksi dan bertransaksi dengan mereka,” ujar dia.

Wajar saja karena seperti diketahui Kecamatan Padangan sempat menjadi pusat administrasi di masa lampau. Terlebih lokasi rumah tua cukup dekat (beberapa ratus meter ke selatan) dengan bantaran Sungai Bengawan Solo yang berfungsi sebagai sentra perdagangan.

‘’Dulu kan Taman Bengawan Padangan (dekat jembatan penghubung Padangan-Kasiman) merupakan pelabuhan. Pintu masuk perdagangan atau perekonomian,” ujarnya dengan santai.

Menurut dia, setiap ruangan rumah tersebut memiliki fungsi masing-masing. Bagian depan sebagai teras. Ruangan di baliknya ruang tamu. Sebelahnya, ruangan bermoncong bulat kedepan sebagai tempat rapat serta transaksi jual beli tembakau.

Di belakang ruang tamu berfungsi sebagai kamar. Di sebelahnya terdapat ruangan yang ada anak tangga untuk menuju ruangan atas. Sedangkan, ruangan paling belakang berfungsi dapur (juga terdapat sumur) hingga kamar mandi.

Baca Juga :  237.700 Lahan di Bojonegoro Belum Bersertifikat

‘’Ada juga ruangan di atas (loteng) sebagai gudang. Mungkin untuk tempat penyimpanan tembakau,” imbuh dia.

Menurut dia, beberapa pengamat atau budayawan pernah mengunjungi rumah menghadap ke selatan itu. Ada yang dari Kabupaten Mojokerto maupun lokal Bojonegoro. Hasilnya, setiap ukiran-ukiran di dinding rumah memiliki arti tersendiri. Hiasan serta warna-warni kaca pada pintunya pun sama.

‘’Jadi ada arti berbeda-beda. Mereka (pengamat atau budayawan) tahu itu. Saya yang lahir dan pernah tinggal di sini tidak mengetahuinya,” ucapnya.

Adapun rumah tua menghadap ke selatan ini sudah dibeli Pemkab Bojonegoro pada 2017 lalu. Fungsinya sebagai cagar budaya dan terbuka untuk masyarakat umum. Namun, ia mengakui jumlah pengunjung umum masih terbilang minim.

‘’Karena pengunjung masih bingung kalau akan masuk. Di dalam rumah tidak ada isinya. Sehingga hanya sedikit yang datang,” tambah dia.

Pengunjung paling banyak yang hendak foto prewedding. Fachrudin tak bisa menghitung persis jumlahnya. Namun, intensitasnya terasa saat memasuki masa atau bulan yang ramai pernikahan.

‘’Tapi setelah mendapat perawatan dari pemkab, Desember 2019 lalu baru ada satu pengunjung. Sedangkan sebelumnya banyak,” bebernya. (*/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/