alexametrics
31.2 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Air Bengawan Naik, 30 Persen Ikan Keramba Mati

Radar Bojonegoro – Datangnya musim penghujan membuat ketinggian air Bengawan Solo meningkat. Keadaan tersebut membuat budidaya ikan keramba terganggu. Dampaknya 30 persen dari 8.000 ikan ditebar mati.

Ketua Kelompok Budiaya Ikan Keramba Karya Makmur Desa Gedongarum, Kecamatan Kanor Rohmat mengatakan, ketika debit air Sungai Bengawan Solo naik, tentu menjadi kendala budidaya ikan keramba.

Tentu, jaring menyempit. Ikan tidak leluasa bergerak yang mengakibatkan kematian. Selain itu banyaknya limbah memicu ikan-ikan mati. Dan terdapat predator seperti burung dan kurakura. “Juga sampah kayu yang bisa merobek jaring,” ungkapnya.

Rohmat mengatasi kendala dengan meminimalisir kerugian. Terpaksa memindah ke kolam mandiri. Namun, kolamnya butuh lahan luas dan dalam. Sebab ikan dibudidaya adalah patin. Sebaliknya, cukup membahayakan membiarkan ikan keramba di sungai.

Baca Juga :  Megaproyek 2021 Diminta Lelang Lebih Awal

Sebab musim hujan ini arusnya deras. Namun, Rohmat mengakui budidaya ikan keramba di Bengawan Solo panen lebih cepat dan optimal. “Musim kemarau predator, musim penghujan arus deras dan sampah kayu,” beber dia.

Kasi Perikanan Budidaya Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro Anita Setyarini mengatakan, tahun ini terdapat pengembangan budidaya ikan keramba atau jaring apung. Tiga pengembangan dilakukan di Kelompok Kedung Jaya Desa Kedung Sumber, Kecamatan Temayang.

Kelompok Karya Makmur Desa Gedongarum, Kecamatan Kanor. Dan Kelompok Tirta Madu Desa Lebaksari Kecamatan Baureno. Ketiga pengembangan itu memanfaatkan aliran Bengawan Solo dan Waduk Pacal. Pengembangan Kelompok Karya Makmur dan Tirta Madu dilakukan Bengawan Solo. Sedangkan Kelompok Kedung Jaya di Waduk Pacal. “Semua sudah terlaksana,” ungkapnya.

Baca Juga :  Puspa Gandha Wangi

Menurut Nita, musim penghujan membuat pengembangan di Bengawan Solo terkendala. Terlebih musim penghujan datang lebih awal. Akibatnya air keruh, keberlangsungan hidup ikan kurang bagus. “Ketika tidak hujan airnya bening,” ujarnya.

Nita menjelaskan 30 persen dari 8.000 ikan ditebar di keramba mengalami kematian. Untuk mengatasi hal itu ikan dipindah ke kolam. Dan akan dikembalikan ke jaring setelah kondisi air normal.

“Kemungkinan banjir merusak keramba juga ada,” katanya. Sedangkan budidaya ikan keramba di Waduk Pacal tidak mengalami kendala berarti. Bahkan akan panen dalam waktu dekat. “Lebih enak di waduk,” jelasnya. (irv)

Radar Bojonegoro – Datangnya musim penghujan membuat ketinggian air Bengawan Solo meningkat. Keadaan tersebut membuat budidaya ikan keramba terganggu. Dampaknya 30 persen dari 8.000 ikan ditebar mati.

Ketua Kelompok Budiaya Ikan Keramba Karya Makmur Desa Gedongarum, Kecamatan Kanor Rohmat mengatakan, ketika debit air Sungai Bengawan Solo naik, tentu menjadi kendala budidaya ikan keramba.

Tentu, jaring menyempit. Ikan tidak leluasa bergerak yang mengakibatkan kematian. Selain itu banyaknya limbah memicu ikan-ikan mati. Dan terdapat predator seperti burung dan kurakura. “Juga sampah kayu yang bisa merobek jaring,” ungkapnya.

Rohmat mengatasi kendala dengan meminimalisir kerugian. Terpaksa memindah ke kolam mandiri. Namun, kolamnya butuh lahan luas dan dalam. Sebab ikan dibudidaya adalah patin. Sebaliknya, cukup membahayakan membiarkan ikan keramba di sungai.

Baca Juga :  Pengemudi Motor Tewas Dihantam Truk

Sebab musim hujan ini arusnya deras. Namun, Rohmat mengakui budidaya ikan keramba di Bengawan Solo panen lebih cepat dan optimal. “Musim kemarau predator, musim penghujan arus deras dan sampah kayu,” beber dia.

Kasi Perikanan Budidaya Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro Anita Setyarini mengatakan, tahun ini terdapat pengembangan budidaya ikan keramba atau jaring apung. Tiga pengembangan dilakukan di Kelompok Kedung Jaya Desa Kedung Sumber, Kecamatan Temayang.

Kelompok Karya Makmur Desa Gedongarum, Kecamatan Kanor. Dan Kelompok Tirta Madu Desa Lebaksari Kecamatan Baureno. Ketiga pengembangan itu memanfaatkan aliran Bengawan Solo dan Waduk Pacal. Pengembangan Kelompok Karya Makmur dan Tirta Madu dilakukan Bengawan Solo. Sedangkan Kelompok Kedung Jaya di Waduk Pacal. “Semua sudah terlaksana,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pelatihan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa 2017

Menurut Nita, musim penghujan membuat pengembangan di Bengawan Solo terkendala. Terlebih musim penghujan datang lebih awal. Akibatnya air keruh, keberlangsungan hidup ikan kurang bagus. “Ketika tidak hujan airnya bening,” ujarnya.

Nita menjelaskan 30 persen dari 8.000 ikan ditebar di keramba mengalami kematian. Untuk mengatasi hal itu ikan dipindah ke kolam. Dan akan dikembalikan ke jaring setelah kondisi air normal.

“Kemungkinan banjir merusak keramba juga ada,” katanya. Sedangkan budidaya ikan keramba di Waduk Pacal tidak mengalami kendala berarti. Bahkan akan panen dalam waktu dekat. “Lebih enak di waduk,” jelasnya. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/