alexametrics
24.3 C
Bojonegoro
Thursday, May 19, 2022

Kedelai Impor Naik, Pembeli Tempe Menurun

Radar Lamongan – Nilai tukar rupiah terhadap dolar yang kembali melemah, membuat komoditi impor merangkak naik. Salah satunya, harga kedelai. Kondisi itu berimbas terhadap pelaku usaha tempe di Lamongan.

‘’Semula harga kedelai impor Rp 6.500 per kilogram (kg), sekarang sudah mencapai Rp 7.600 per kg,’’ tutur salah satu perajin tempe di Kelurahan Sukomulyo, Lamongan, Rokhim kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (2/10).

Dia tidak bisa menaikkan harga atau mengurangi ukuran tempe. Alasannya, persaingan usaha tempe cukup ketat. ‘’Terkait persaingan pasar. Kalau dirubah (ukurannya) malah ditinggalkan pembeli, karena perajin tempe juga banyak,’’ ujar Rokhim sambil mengernyitkan dahi.

Harga tempe saat ini Rp 2 ribu hingga Rp 8 ribu per potong tergantung ukuran. Bahkan, ada tempe seharga Rp 30 ribu untuk ukuran sekitar satu meter. ‘’Dalam kondisi ini, yang terpenting bisa bertahan,’’ imbuh Rokhim sambil menata potongan tempe di atas anyaman bambu.

Baca Juga :  Tiga Siswa Menjadikan Daun Sukun Bahan Pembuat Mi

Meski situasi sulit, Rokhim mengaku tidak mengurangi jumlah pekerja. Dia juga tidak mengurangi gaji empat pekerjanya. ‘’Sekarang berpikir setiap hari bisa berputar saja, sudah bagus,’’ katanya. Menurut dia, adanya pandemi corona virus disease 2019 (covid-19) membuat penjualan tempe kian seret. Sebab, daya beli masyarakat ikut terpengaruh.

‘’Sebelum covid-19 sehari berproduksi 8 kuintal. Tapi kalau sekarang, hanya menghabiskan 2 kuintal saja per hari,’’ tutur Rokhim. Dia menuturkan, awal covid-19 harga kedelai impor sempat Rp 8 ribu lebih per kg.

Setelah itu, harga melandai dan baru minggu ini kembali merangkak naik. Kondisi itu dinilai Rokhim cukup berat. Selain biaya operasional yang naik, jumlah pembeli menurun drastis. ‘’Bahan baku naik tidak apaapa, asalkan pasarnya ramai. Tapi sekarang kan kondisinya serba sulit semua. Harga bahan baku naik, tapi pembelinya juga turun,’’ keluhnya.

Baca Juga :  Atlet Junior Perlu Jam Terbang

Dia berharap pandemi covid-19 ini segera mereda dan kondisi normal kembali. Menurut dia, semua jenis usaha terdampak saat pandemi covid-19 ini. ‘’Semoga segera berakhir. Tapi untungnya di Lamongan ini tidak ada penutupan pasar. Sebab itu satu-satunya pelanggan utama,’’ tutur Rokhim.

Radar Lamongan – Nilai tukar rupiah terhadap dolar yang kembali melemah, membuat komoditi impor merangkak naik. Salah satunya, harga kedelai. Kondisi itu berimbas terhadap pelaku usaha tempe di Lamongan.

‘’Semula harga kedelai impor Rp 6.500 per kilogram (kg), sekarang sudah mencapai Rp 7.600 per kg,’’ tutur salah satu perajin tempe di Kelurahan Sukomulyo, Lamongan, Rokhim kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (2/10).

Dia tidak bisa menaikkan harga atau mengurangi ukuran tempe. Alasannya, persaingan usaha tempe cukup ketat. ‘’Terkait persaingan pasar. Kalau dirubah (ukurannya) malah ditinggalkan pembeli, karena perajin tempe juga banyak,’’ ujar Rokhim sambil mengernyitkan dahi.

Harga tempe saat ini Rp 2 ribu hingga Rp 8 ribu per potong tergantung ukuran. Bahkan, ada tempe seharga Rp 30 ribu untuk ukuran sekitar satu meter. ‘’Dalam kondisi ini, yang terpenting bisa bertahan,’’ imbuh Rokhim sambil menata potongan tempe di atas anyaman bambu.

Baca Juga :  Bubur Sura di Perkampungan Arab

Meski situasi sulit, Rokhim mengaku tidak mengurangi jumlah pekerja. Dia juga tidak mengurangi gaji empat pekerjanya. ‘’Sekarang berpikir setiap hari bisa berputar saja, sudah bagus,’’ katanya. Menurut dia, adanya pandemi corona virus disease 2019 (covid-19) membuat penjualan tempe kian seret. Sebab, daya beli masyarakat ikut terpengaruh.

‘’Sebelum covid-19 sehari berproduksi 8 kuintal. Tapi kalau sekarang, hanya menghabiskan 2 kuintal saja per hari,’’ tutur Rokhim. Dia menuturkan, awal covid-19 harga kedelai impor sempat Rp 8 ribu lebih per kg.

Setelah itu, harga melandai dan baru minggu ini kembali merangkak naik. Kondisi itu dinilai Rokhim cukup berat. Selain biaya operasional yang naik, jumlah pembeli menurun drastis. ‘’Bahan baku naik tidak apaapa, asalkan pasarnya ramai. Tapi sekarang kan kondisinya serba sulit semua. Harga bahan baku naik, tapi pembelinya juga turun,’’ keluhnya.

Baca Juga :  Sedot Cadangan Air dari Galian Simpanan

Dia berharap pandemi covid-19 ini segera mereda dan kondisi normal kembali. Menurut dia, semua jenis usaha terdampak saat pandemi covid-19 ini. ‘’Semoga segera berakhir. Tapi untungnya di Lamongan ini tidak ada penutupan pasar. Sebab itu satu-satunya pelanggan utama,’’ tutur Rokhim.

Artikel Terkait

Most Read

BPNT Bisa Mundur hingga Juni

Bakal Ajukan Rp 300 Juta

Artikel Terbaru


/