alexametrics
31.9 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Kayu Tebangan Pohon Penghijauan Dijual Lelang atau Diecer

- Advertisement -

Radar Bojonegoro – Gelondongan kayu menumpuk di kompleks tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk. Kayu-kayu tersebut hasil penebangan pohon penghijauan di sejumlah jalan protokol.

Kayu hasil tebangan pohon penghijauan tersebut bakal dijual. Prosedur penjualannya tengah disiapkan dinas lingkungan hidup (DLH). Kayu-kayu yang ditebang itu sebagian besar berjenis angsana atau sono kembang. Harganya juga tidak mahal. Berbeda dengan jenis sono keling yang harganya cukup mahal.

‘’Kalau pohon sono keling mungkin sudah banyak yang pesan. Ini sono kembang, sampai saat ini belum ada yang menya takan ingin beli,’’ ujar Kabid Persampahan DLH Bojonegoro Ahmad Sholeh Fatoni kemarin (2/9).

Saat ini, DLH tengah menyiapkan mekanisme penjualannya. Ada dua opsi. Yakni, dilelang atau dijual langsung secara eceran. Setelah mekanismenya kayu-kayu itu bisa segera dijual. Untuk harga, pihaknya masih melakukan kajian. Sehingga, tidak terlalu mahal juga tidak terlalu murah.

Baca Juga :  Tidak Kerja pun Bisa Dapat Pesangon

Kayu-kayu hasil tebangan itu jumlahnya mencapai ratusan batang. Bisa terus bertambah karena penebangan masih berlangsung. Menurut Fatoni, kayu jenis sono kembang bisa digunakan berbagai macam kerajinan. Namun, untuk perabot seperti meja, kursi, dan lemari kurang bagus. Kurang kokoh. Hal itu membuat harganya tidak terlalu tinggi.

- Advertisement -

‘’Beda dengan jenis sonokeling kualitasnya lebih bagus dari kayu jati,’’ jelasnya. Penebangan pohon di sejumlah jalan protokol dilakukan karena trotoar akan dibangun. Penebangan dilakukan sendiri oleh rekanan yang akan mengerjakan proyek itu.

Rencananya, pohon-pohon yang ditebang itu akan diganti lagi. Yakni, saat proyek pembangunan trotoar selesai. Penggantian pohon akan dilakukan oleh kontraktor. Jenis tanamanya adalah tabebuya. ‘’Nanti pohon tabebuya. Jenisnya beda dengan yang sudah ada. Daunnya lebih lebat. Sehingga, bisa menjadi peneduh,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Janjikan saat Pencoblosan Tidak Ada Pemadaman

Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Mochlasin Afan mengatakan, penebangan pohon untuk proyek trotoar memang tidak bisa dihindari. Sebab, jika tidak ditebang pohon itu akan roboh karena terimbas pengerjaan proyek.

Hal itu terjadi tahun lalu. Meski demikian, lanjut dia, pemkab harus segera mengganti pohon yang ditebang itu. Se hingga, kawasan kota tidak gersang karena banyaknya pohon yang berkurang. ‘’Kabarnya satu pohon akan diganti 10 pohon baru. Ini harus direalisasikan,’’ tuturnya.

Radar Bojonegoro – Gelondongan kayu menumpuk di kompleks tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk. Kayu-kayu tersebut hasil penebangan pohon penghijauan di sejumlah jalan protokol.

Kayu hasil tebangan pohon penghijauan tersebut bakal dijual. Prosedur penjualannya tengah disiapkan dinas lingkungan hidup (DLH). Kayu-kayu yang ditebang itu sebagian besar berjenis angsana atau sono kembang. Harganya juga tidak mahal. Berbeda dengan jenis sono keling yang harganya cukup mahal.

‘’Kalau pohon sono keling mungkin sudah banyak yang pesan. Ini sono kembang, sampai saat ini belum ada yang menya takan ingin beli,’’ ujar Kabid Persampahan DLH Bojonegoro Ahmad Sholeh Fatoni kemarin (2/9).

Saat ini, DLH tengah menyiapkan mekanisme penjualannya. Ada dua opsi. Yakni, dilelang atau dijual langsung secara eceran. Setelah mekanismenya kayu-kayu itu bisa segera dijual. Untuk harga, pihaknya masih melakukan kajian. Sehingga, tidak terlalu mahal juga tidak terlalu murah.

Baca Juga :  Studi Kelayakan Flyover Bojonegoro Dianggarkan Rp 449 Juta

Kayu-kayu hasil tebangan itu jumlahnya mencapai ratusan batang. Bisa terus bertambah karena penebangan masih berlangsung. Menurut Fatoni, kayu jenis sono kembang bisa digunakan berbagai macam kerajinan. Namun, untuk perabot seperti meja, kursi, dan lemari kurang bagus. Kurang kokoh. Hal itu membuat harganya tidak terlalu tinggi.

- Advertisement -

‘’Beda dengan jenis sonokeling kualitasnya lebih bagus dari kayu jati,’’ jelasnya. Penebangan pohon di sejumlah jalan protokol dilakukan karena trotoar akan dibangun. Penebangan dilakukan sendiri oleh rekanan yang akan mengerjakan proyek itu.

Rencananya, pohon-pohon yang ditebang itu akan diganti lagi. Yakni, saat proyek pembangunan trotoar selesai. Penggantian pohon akan dilakukan oleh kontraktor. Jenis tanamanya adalah tabebuya. ‘’Nanti pohon tabebuya. Jenisnya beda dengan yang sudah ada. Daunnya lebih lebat. Sehingga, bisa menjadi peneduh,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Toilet dan Kecepatan Kereta¬†

Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro Mochlasin Afan mengatakan, penebangan pohon untuk proyek trotoar memang tidak bisa dihindari. Sebab, jika tidak ditebang pohon itu akan roboh karena terimbas pengerjaan proyek.

Hal itu terjadi tahun lalu. Meski demikian, lanjut dia, pemkab harus segera mengganti pohon yang ditebang itu. Se hingga, kawasan kota tidak gersang karena banyaknya pohon yang berkurang. ‘’Kabarnya satu pohon akan diganti 10 pohon baru. Ini harus direalisasikan,’’ tuturnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/