alexametrics
23.5 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Desak Disdik Uji Coba Tatap Muka SD dan SMP

Radar Bojonegoro – Uji coba tatap muka terbatas mulai diterapkan SMA dan SMK. Hal ini memantik masukan agar Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro segera mengadaptasi kebijakan tersebut terhadap SD dan SMP.

Ketua Dewan Pendidikan Bojonegoro Ridlwan Hambali mengatakan, sudah saatnya uji coba tatap muka terbatas segera berlaku untuk lembaga SD dan SMP. Adaptasi kebiasaan baru harus segera direalisasikan di sektor pendidikan.

‘’Jangan hanya diwacanakan saja. Perlu segera direalisasikan secara bertahap,” katanya kemarin (2/9). Menurut dia, hal ini bukan berarti mengesampingkan keutamaan yakni keselamatan dan keamanan siswa. Namun, lebih ke pembiasaan pola hidup baru.

Mengingat penerapan sistem pembelajaran daring ini membuat para siswa berada pada titik jenuh. ‘’Karena itu diperlukan (tatap muka terbatas), untuk mengurangi atau menghilangkan kejenuhan anak-anak,” ujar pria juga Rektor Unugiri Bojonegoro itu.

Hal ini untuk mengantisipasi dampak lain gegara terbiasa menggenggam smartphone. Baik itu dampak kesehatan mata hingga kecanduan handphone melalui game dan sebagainya. Prinsipnya pembelajaran tatap muka ini akan menambah variasi sistem belajar.

Baca Juga :  Van Der Wijk Masih Belum Miliki Data Pasti

‘’Tidak hanya secara daring saja, ada sistem lain termasuk tatap muka. Jadi istilahnya kombinasi sistem belajar,” imbuhnya. Ridlwan mencontohkan penerapan sistem pembelajaran di Kabupaten Jombang. Kaitannya menggelar tatap muka terbatas. Siswa masuk ke sekolah secara bergantian dan terjadwal. Dalam sehari ada kombinasi tatap muka dan daring.

‘’Jadi saya rasa di Bojonegoro baiknya juga menerapkan itu. Dan nantinya tetap akan dievaluasi secara berkala pelaksanaannya,” tandas dia. Disinggung kekhawatiran orang tua jika sekolah menggelar tatap muka? Ridlwan memastikan, memang Covid-19 ini belum reda sepenuhnya. Sehingga wajar saja jika orang tua masih mengkhawatirkan potensi lahirnya klaster baru.

‘’Prinsipnya ini bukan pemaksaan. Cukup siswa yang memperoleh persutujuan dari orang tua saja. Poinnya disdik dan sekolah memberikan kesempatan fasilitas mengatasi kejenuhan hingga problematika pembelajaran daring,” lanjut dia.

Baca Juga :  Jelang Idul Adha, Disnakkan Tandai Kambing Yang Belum Cukup Umur

Hal senada dikatakan Anggota Komisi C DPRD Bojonegoro Hidayatus Sirot. Bahwa langkah uji coba tatap muka patut segera terealisasi pada SD dan SMP. Penerapan protokol kesehatan sudah menjadi kebiasaan baru di masyarakat.

‘’Apalagi saya rasa sekolah bisa memfasilitasi kebutuhuan sarpras itu. Sehingga baiknya segera dimatangkan dan direalisasikan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro. Menurut Tatus, sapaannya, orang tua lebih khawatir anaknya berkeliaran di luar rumah dan berada di warung kopi wifi.

Sebab, potensi penularan Covid-19 hingga contoh teladan secara sikap dan perilaku yang kurang baik lebih besar. Mengingat warung kopi diisi beragam orang dari berbagai usia. ‘’Selain itu, kalau di warung kopi kan tidak ada yang mengontrol. Alangkah lebih baik kan di sekolah saja. Karena di sekolah ada guru yang mengawasi (orang tua tidak begitu khawatir),” tuturnya.

Radar Bojonegoro – Uji coba tatap muka terbatas mulai diterapkan SMA dan SMK. Hal ini memantik masukan agar Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro segera mengadaptasi kebijakan tersebut terhadap SD dan SMP.

Ketua Dewan Pendidikan Bojonegoro Ridlwan Hambali mengatakan, sudah saatnya uji coba tatap muka terbatas segera berlaku untuk lembaga SD dan SMP. Adaptasi kebiasaan baru harus segera direalisasikan di sektor pendidikan.

‘’Jangan hanya diwacanakan saja. Perlu segera direalisasikan secara bertahap,” katanya kemarin (2/9). Menurut dia, hal ini bukan berarti mengesampingkan keutamaan yakni keselamatan dan keamanan siswa. Namun, lebih ke pembiasaan pola hidup baru.

Mengingat penerapan sistem pembelajaran daring ini membuat para siswa berada pada titik jenuh. ‘’Karena itu diperlukan (tatap muka terbatas), untuk mengurangi atau menghilangkan kejenuhan anak-anak,” ujar pria juga Rektor Unugiri Bojonegoro itu.

Hal ini untuk mengantisipasi dampak lain gegara terbiasa menggenggam smartphone. Baik itu dampak kesehatan mata hingga kecanduan handphone melalui game dan sebagainya. Prinsipnya pembelajaran tatap muka ini akan menambah variasi sistem belajar.

Baca Juga :  Sandiaga Uno ke Bojonegoro, Kang Yoto Sambut Bak Kawan Lama

‘’Tidak hanya secara daring saja, ada sistem lain termasuk tatap muka. Jadi istilahnya kombinasi sistem belajar,” imbuhnya. Ridlwan mencontohkan penerapan sistem pembelajaran di Kabupaten Jombang. Kaitannya menggelar tatap muka terbatas. Siswa masuk ke sekolah secara bergantian dan terjadwal. Dalam sehari ada kombinasi tatap muka dan daring.

‘’Jadi saya rasa di Bojonegoro baiknya juga menerapkan itu. Dan nantinya tetap akan dievaluasi secara berkala pelaksanaannya,” tandas dia. Disinggung kekhawatiran orang tua jika sekolah menggelar tatap muka? Ridlwan memastikan, memang Covid-19 ini belum reda sepenuhnya. Sehingga wajar saja jika orang tua masih mengkhawatirkan potensi lahirnya klaster baru.

‘’Prinsipnya ini bukan pemaksaan. Cukup siswa yang memperoleh persutujuan dari orang tua saja. Poinnya disdik dan sekolah memberikan kesempatan fasilitas mengatasi kejenuhan hingga problematika pembelajaran daring,” lanjut dia.

Baca Juga :  Jalan Tikung - Sumberkerep Jadi Pilot Project

Hal senada dikatakan Anggota Komisi C DPRD Bojonegoro Hidayatus Sirot. Bahwa langkah uji coba tatap muka patut segera terealisasi pada SD dan SMP. Penerapan protokol kesehatan sudah menjadi kebiasaan baru di masyarakat.

‘’Apalagi saya rasa sekolah bisa memfasilitasi kebutuhuan sarpras itu. Sehingga baiknya segera dimatangkan dan direalisasikan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro. Menurut Tatus, sapaannya, orang tua lebih khawatir anaknya berkeliaran di luar rumah dan berada di warung kopi wifi.

Sebab, potensi penularan Covid-19 hingga contoh teladan secara sikap dan perilaku yang kurang baik lebih besar. Mengingat warung kopi diisi beragam orang dari berbagai usia. ‘’Selain itu, kalau di warung kopi kan tidak ada yang mengontrol. Alangkah lebih baik kan di sekolah saja. Karena di sekolah ada guru yang mengawasi (orang tua tidak begitu khawatir),” tuturnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/