alexametrics
24 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Sebulan Limbah Medis RSUD Bojonegoro Tembus 8.187 Kilogram

Radar Bojonegoro – Limbah Medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro mencapai 8.187 kilogram per akhir Juli. Data tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan Juni yang berjumlah 4.014 kilogram.

Kepala Bidang Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Ana Muhayanah menjelaskan, selama satu bulan kebijakan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), limbah medis di RSUD meningkat. Hal itu dipengaruhi meningkatnya pasien dirawat. “Meningkat dua kali lipat dibandingkan sebelumnya,” ujarnya kemarin (2/7).

Dari data dihimpunnya per Juli akhir terdapat 8.187 kilogram limbah medis. Sedangkan, Juni total limbah medis hanya mencapai 4.014. Rerata per hari sampah medis berjumlah 200 kilogram lebih.

Baca Juga :  Pelatihan Berkelanjutan, PEPC Kuatkan UMKM

Ana menuturkan, dalam pengelolaannya berbeda dengan limbah yang berasal dari rumah tangga, karena limbah medis termasuk limbah yang berbahaya. “Harus melalui prosedur telah ditetapkan KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan),” katanya.

Lanjut Ana, proses pengelolaan menggunakan alat incenerator untuk membakar limbah. Hanya alat tersebut hanya dimiliki oleh dua rumah sakit saja yakni RSUD di Jalan Veteran dan RSUD Padangan. Sedangkan puskesmas masih bekerja sama dengan pihak ketiga.

Menurut Ana, pengelolaan limbah medis di puskesmas tidak dapat diikutkan dengan pembakaran di RSUD. Kapasitas penampungan tidak mencukupi untuk mengakomodir limbah medis di berbagai puskesmas. “Selain itu RS juga bukan tempat pengelolaan sampah,” katanya.

Baca Juga :  Korsleting Listrik, Siapa Harus Mencegah?

Ana mengungkapkan belum ada pengadaan incinerator di DLH Bojonegoro, karena selain butuh anggaran besar, saat ini anggaran direfocusing untuk penangan Covid-19. “Keinginannya ada alat itu, tapi masih belum bisa dan perizinannya cukup rumit,” jelasnya. (luk)

Radar Bojonegoro – Limbah Medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro mencapai 8.187 kilogram per akhir Juli. Data tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan Juni yang berjumlah 4.014 kilogram.

Kepala Bidang Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro Ana Muhayanah menjelaskan, selama satu bulan kebijakan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), limbah medis di RSUD meningkat. Hal itu dipengaruhi meningkatnya pasien dirawat. “Meningkat dua kali lipat dibandingkan sebelumnya,” ujarnya kemarin (2/7).

Dari data dihimpunnya per Juli akhir terdapat 8.187 kilogram limbah medis. Sedangkan, Juni total limbah medis hanya mencapai 4.014. Rerata per hari sampah medis berjumlah 200 kilogram lebih.

Baca Juga :  Di Kanor, Elpiji 3 Kg Langka

Ana menuturkan, dalam pengelolaannya berbeda dengan limbah yang berasal dari rumah tangga, karena limbah medis termasuk limbah yang berbahaya. “Harus melalui prosedur telah ditetapkan KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan),” katanya.

Lanjut Ana, proses pengelolaan menggunakan alat incenerator untuk membakar limbah. Hanya alat tersebut hanya dimiliki oleh dua rumah sakit saja yakni RSUD di Jalan Veteran dan RSUD Padangan. Sedangkan puskesmas masih bekerja sama dengan pihak ketiga.

Menurut Ana, pengelolaan limbah medis di puskesmas tidak dapat diikutkan dengan pembakaran di RSUD. Kapasitas penampungan tidak mencukupi untuk mengakomodir limbah medis di berbagai puskesmas. “Selain itu RS juga bukan tempat pengelolaan sampah,” katanya.

Baca Juga :  Investor Mangkrak, Terbanyak di Pantura

Ana mengungkapkan belum ada pengadaan incinerator di DLH Bojonegoro, karena selain butuh anggaran besar, saat ini anggaran direfocusing untuk penangan Covid-19. “Keinginannya ada alat itu, tapi masih belum bisa dan perizinannya cukup rumit,” jelasnya. (luk)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/