alexametrics
23.9 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Pimpin Final Porprov, Dikejar Pemain Sidoharjo

DI LAMONGAN, wasit berlisensi nasional hanya hitungan jari. Salah satunya, Agung Setiyawan, yang kini dipercaya memimpin laga pada Liga 1 U-20.

Salah satu perbankan di pinggir Jalan Veteran Lamongan cukup ramai kemarin (2/8) pukul 10.00 Wib. Seorang berpotongan cepak dengan setelan kaus olahraga, celana training, dan sepatu sport menyambut Jawa Pos Radar Lamongan dengan sumringah.  Ruangan bank yang tidak terlalu luas membuat banyak yang harus berdiri, termasuk Agung.

Jadwal wasit 27 tahun itu cukup padat kemarin. Setelah mengurus transaksi di bank, Agung harus memenuhi panggilan sidang Komisi Disiplin (Komdis) Asprov PSSI Jatim pukul 13.00 di Surabaya. Itu menjadi sidang kedua atas insiden kericuhan pada final cabang olahraga (cabor) sepak bola Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim Ke-VI, Sabtu (13/7) di Stadion Bumi Wali Tuban.

‘’Sidang pertama dulu tidak bisa hadir karena mengikuti penyegaran wasit di Tangerang,’’ tutur Agung kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Wasit berlisensi C1 nasional ini menjadi pengadil lapangan pada laga pamungkas yang memertemukan tuan rumah Kabupaten Tuban dan Kabupaten Sidoarjo. Ketika skor 1-1, Agung menilai pemain Sidoarjo melakukan pelanggaran kepada pemain Tuban. Wasit berpostur 168 sentimeter (cm) itu memberikan hadiah tendangan bebas pada menit 90+1 untuk Tuban.

Algojo dari Tuban mampu mencetak gol dari tendangan bebas tersebut. Skor berubah, 2-1.

Ketika Agung meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, sorak kebahagiaan dari tim Tuban pun pecah. Namun, situasinya berbeda bagi Agung bersama asisten wasit dan wasit cadangan. Sebab, jajaran ofisial dan sebagian pemain Sidoarjo berlarian mengejar mereka. Agung berusaha menyelematkan diri. Rasa lelah memimpin pertandingan 90 menit tak dirasakannya. Yang ada di pikiran Agung, bisa sampai ke lorong dan ruangan wasit.

Baca Juga :  PT KIG Kembali Peduli Warga Sekitar KIT

‘’Saya panik karena dari pihak tim Sidoarjo sudah terlihat emosi. Waktu itu sempat kena tendangan, tapi alhamdulillah tidak mengalami luka yang serius,’’ kenang Agung sambil senyum kecil sembari menggeleng-gelengkan kepala.

Bagi dia, laga tersebut menjadi pengalaman paling tak terlupakan. Pertandingan Tuban v Sidoarjo menjadi laga pertama yang dipimpinnya setelah mendapatkan lisensi wasit C1 nasional, Januari lalu. Namun, Agung tak khawatir karena merasa apa yang dilakukannya telah sesuai law of the game.

Agung sudah menyiapkan rekaman video pertandingan untuk sidangnya kemarin siang. Sebelumnya, wasit kelahiran 8 Desember 1991 ini juga mengirimkan kronologi insiden ketika dirinya memberikan tendangan bebas.

‘’Sulitnya menjadi wasit itu, kita menutuskan benar tapi dianggap salah. Kita tahu aturan, tapi belum tentu orang lain tahu,’’ ujar wasit bergelar Sarjana Pendidikan Olahraga Unesa Surabaya 2017 tersebut.

Insiden yang bisa mengancam nyawanya itu, tak menyurutkan semangat Agung untuk menjadi pengadil lapangan. Dia sudah ditunjuk menjadi wasit pada Liga 1 U-20. Alumnus Smada Lamongan 2010 itu sudah menjadi wasit Persija U-20 v Semen Padang U-20 di Jakarta (30/7). Saat ini, Agung menunggu surat penugasan dari PSSI untuk memimpin laga selanjutnya.

‘’Untuk fee, saya terima tiap pertandingan,’’ tutur wasit yang juga menjadi guru honorer di SMPN 1 Lamongan tersebut.

Agung awalnya menjadi pemain sepak bola. Winger menjadi posisi favoritnya. Agung terakhir membela tim sepak bola Lamongan di Porprov Jatim 2009. Mindset Agung berubah setelah memasuki bangku perkuliahan. Dia memutuskan untuk menggeluti dunia perwasitan dengan mengikuti kursus wasit C3 di Lamongan. Setelah satu minggu mengikuti tes, Agung lulus dan mampu memimpin pertandingan di lingkup kabupaten.

Baca Juga :  Gondol Rp 170 Juta, Dua Sindikat Nasabah Dibekuk

‘’Orang tua juga mengarahkan saya untuk menjadi wasit,’’ ujar wasit asal Desa Wajik, Kecamatan/Kabupaten Lamongan tersebut.

Setelah dua tahun memimpin pertandingan di kompetisi internal Askab PSSI Lamongan, Agung mendapatkan kesempatan naik tingkatan. Dia mengikuti kursus wasit dan mendapatkan lisensi C2 di Probolinggo pada 2016. Selanjutnya, Agung memimpin pertandingan di tingkat Asprov Jatim. Saat dirinya memimpin pertandingan Liga 3, sempat terjadi kericuhan pada laga Arema Indonesia v Mojosari Putera.

‘’Walaupun ricuh, tapi tak sampai mengejar wasit. Paling berkesan saat memegang lisensi C2, yaitu menjadi wasit di final Soeratin U-15 antara Bhayangkara FC U-15 v Putera Jenggolo Sidoarjo,’’ ujarnya.

Namun, Agung makin memahami beratnya mengemban tugas menjadi wasit. Semula di benaknya, dirinya tak memilih menjadi pemain bola karena rentan cedera parah. Namun, Agung menyadari bahwa profesi wasit lebih berat dibandingkan sekedar ketakutan akan cedera. Wasit harus siap menerima amukan, bogeman, ataupun perlakukan fisik dari siapapun ketika memimpin pertandingan.

Meski begitu, Agung makin terlecut untuk menjadi pengadil lapangan yang lebih profesional. Impianya mampu meraih lisensi FIFA. Kini dirinya menanamkan untuk terus berlatih menjaga kebugaran fisik.

‘’Untuk menjaga fisik melalui program latihan dengan interval tiga hari latihan, satu hari istirahat. Latihan berupa lari dan pergerakan wasit di dalam lapangan,’’ jelasnya.

DI LAMONGAN, wasit berlisensi nasional hanya hitungan jari. Salah satunya, Agung Setiyawan, yang kini dipercaya memimpin laga pada Liga 1 U-20.

Salah satu perbankan di pinggir Jalan Veteran Lamongan cukup ramai kemarin (2/8) pukul 10.00 Wib. Seorang berpotongan cepak dengan setelan kaus olahraga, celana training, dan sepatu sport menyambut Jawa Pos Radar Lamongan dengan sumringah.  Ruangan bank yang tidak terlalu luas membuat banyak yang harus berdiri, termasuk Agung.

Jadwal wasit 27 tahun itu cukup padat kemarin. Setelah mengurus transaksi di bank, Agung harus memenuhi panggilan sidang Komisi Disiplin (Komdis) Asprov PSSI Jatim pukul 13.00 di Surabaya. Itu menjadi sidang kedua atas insiden kericuhan pada final cabang olahraga (cabor) sepak bola Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim Ke-VI, Sabtu (13/7) di Stadion Bumi Wali Tuban.

‘’Sidang pertama dulu tidak bisa hadir karena mengikuti penyegaran wasit di Tangerang,’’ tutur Agung kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Wasit berlisensi C1 nasional ini menjadi pengadil lapangan pada laga pamungkas yang memertemukan tuan rumah Kabupaten Tuban dan Kabupaten Sidoarjo. Ketika skor 1-1, Agung menilai pemain Sidoarjo melakukan pelanggaran kepada pemain Tuban. Wasit berpostur 168 sentimeter (cm) itu memberikan hadiah tendangan bebas pada menit 90+1 untuk Tuban.

Algojo dari Tuban mampu mencetak gol dari tendangan bebas tersebut. Skor berubah, 2-1.

Ketika Agung meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, sorak kebahagiaan dari tim Tuban pun pecah. Namun, situasinya berbeda bagi Agung bersama asisten wasit dan wasit cadangan. Sebab, jajaran ofisial dan sebagian pemain Sidoarjo berlarian mengejar mereka. Agung berusaha menyelematkan diri. Rasa lelah memimpin pertandingan 90 menit tak dirasakannya. Yang ada di pikiran Agung, bisa sampai ke lorong dan ruangan wasit.

Baca Juga :  Harga Ikan Ekspor Turun

‘’Saya panik karena dari pihak tim Sidoarjo sudah terlihat emosi. Waktu itu sempat kena tendangan, tapi alhamdulillah tidak mengalami luka yang serius,’’ kenang Agung sambil senyum kecil sembari menggeleng-gelengkan kepala.

Bagi dia, laga tersebut menjadi pengalaman paling tak terlupakan. Pertandingan Tuban v Sidoarjo menjadi laga pertama yang dipimpinnya setelah mendapatkan lisensi wasit C1 nasional, Januari lalu. Namun, Agung tak khawatir karena merasa apa yang dilakukannya telah sesuai law of the game.

Agung sudah menyiapkan rekaman video pertandingan untuk sidangnya kemarin siang. Sebelumnya, wasit kelahiran 8 Desember 1991 ini juga mengirimkan kronologi insiden ketika dirinya memberikan tendangan bebas.

‘’Sulitnya menjadi wasit itu, kita menutuskan benar tapi dianggap salah. Kita tahu aturan, tapi belum tentu orang lain tahu,’’ ujar wasit bergelar Sarjana Pendidikan Olahraga Unesa Surabaya 2017 tersebut.

Insiden yang bisa mengancam nyawanya itu, tak menyurutkan semangat Agung untuk menjadi pengadil lapangan. Dia sudah ditunjuk menjadi wasit pada Liga 1 U-20. Alumnus Smada Lamongan 2010 itu sudah menjadi wasit Persija U-20 v Semen Padang U-20 di Jakarta (30/7). Saat ini, Agung menunggu surat penugasan dari PSSI untuk memimpin laga selanjutnya.

‘’Untuk fee, saya terima tiap pertandingan,’’ tutur wasit yang juga menjadi guru honorer di SMPN 1 Lamongan tersebut.

Agung awalnya menjadi pemain sepak bola. Winger menjadi posisi favoritnya. Agung terakhir membela tim sepak bola Lamongan di Porprov Jatim 2009. Mindset Agung berubah setelah memasuki bangku perkuliahan. Dia memutuskan untuk menggeluti dunia perwasitan dengan mengikuti kursus wasit C3 di Lamongan. Setelah satu minggu mengikuti tes, Agung lulus dan mampu memimpin pertandingan di lingkup kabupaten.

Baca Juga :  Mencetak Generasi Berkarakter

‘’Orang tua juga mengarahkan saya untuk menjadi wasit,’’ ujar wasit asal Desa Wajik, Kecamatan/Kabupaten Lamongan tersebut.

Setelah dua tahun memimpin pertandingan di kompetisi internal Askab PSSI Lamongan, Agung mendapatkan kesempatan naik tingkatan. Dia mengikuti kursus wasit dan mendapatkan lisensi C2 di Probolinggo pada 2016. Selanjutnya, Agung memimpin pertandingan di tingkat Asprov Jatim. Saat dirinya memimpin pertandingan Liga 3, sempat terjadi kericuhan pada laga Arema Indonesia v Mojosari Putera.

‘’Walaupun ricuh, tapi tak sampai mengejar wasit. Paling berkesan saat memegang lisensi C2, yaitu menjadi wasit di final Soeratin U-15 antara Bhayangkara FC U-15 v Putera Jenggolo Sidoarjo,’’ ujarnya.

Namun, Agung makin memahami beratnya mengemban tugas menjadi wasit. Semula di benaknya, dirinya tak memilih menjadi pemain bola karena rentan cedera parah. Namun, Agung menyadari bahwa profesi wasit lebih berat dibandingkan sekedar ketakutan akan cedera. Wasit harus siap menerima amukan, bogeman, ataupun perlakukan fisik dari siapapun ketika memimpin pertandingan.

Meski begitu, Agung makin terlecut untuk menjadi pengadil lapangan yang lebih profesional. Impianya mampu meraih lisensi FIFA. Kini dirinya menanamkan untuk terus berlatih menjaga kebugaran fisik.

‘’Untuk menjaga fisik melalui program latihan dengan interval tiga hari latihan, satu hari istirahat. Latihan berupa lari dan pergerakan wasit di dalam lapangan,’’ jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/