alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Bumikan Salawat. Gamelan Ajisoka, Grup Musik Jawa-Modern

BOKS – Kholik Ubaidillah masih tidak percaya jika minggu lalu, dia dan teman-temannya baru saja satu panggung bersama Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto). Bahkan, Sabrang mengatakan jika permainan Ajisoka cukup mempesona. 

“Tentu saja itu pengalaman paling berkesan sejauh ini,” kata pria 32 tahun akrab disapa Obeh tersebut. 

Penampilannya bersama Sabrang di Jombang beberapa waktu lalu dalam rangka memperingati ulang tahun ke-65 Emha Ainun Nadjib. Dan, bisa tampil di tempat tersebut menjadi momentum bersejarah bagi Ajisoka. 

Sebagai koordinator Ajisoka, Obeh memang tahu dan merasakan perkembangan grup musik dia geluti sejak awal hingga kini. Jika dipikir-pikir kembali, Obeh seperti tidak percaya jika Ajisoka masih bergerak dan kian besar sampai sekarang. Sebab, jika bergerak murni hanya berlandaskan materi, menurutnya, tentu sudah bubar sejak lama. 

“Selain motivasi materi, memang ada motivasi lain yang membuat kita tetap kuat hingga kini,” ucap Obeh. 

Baca Juga :  Airlangga Hartarto Hibahkan Bantuan 2 Bus Listrik & Microbus untuk UGM

Kali pertama bertemu pada 2013 lalu. Mayoritas anggota Ajisoka menyukai pemikiran Emha Ainun Nadjib sekaligus suka mendengar Kiai Kanjeng. Nah, dari kesukaan mendengar lagu sama itu lah, mereka memutuskan membuat grup musik. Sejak 2013 itu pula mereka sering tampil di berbagai agenda. Meski, waktu itu belum memiliki nama. Terbentuk nama Ajisaka pada 2015. Sebelumnya, saat tampil mereka tidak menggunakan nama. 

Ajisoka memiliki perbedaan dibanding musik berbasis grup lainnya. Mereka menggunakan  instrumen musik-musik Jawa. Istilahnya mewarisi orang Jawa. Karena itu, mereka memakai saron dan bonang. Uniknya lagi, meski yang dimainkan lagu-lagu umum, mereka tidak pakai doremi sebagai mazhab nada. Melainkan pakai slendro dan pelok. 

“Makanya bagi yang belum pernah memainkannya bakalan bingung,”  ujar Obeh. 

Bapak dua anak itu menceritakan, awal pembentukan Ajisoka hanya 6 orang.  Terdiri dari vocal, gitar, bass, keyboard dan dua saron. Saat ini, jumlah personil sudah lengkap. Semua alat ada. Bahkan untuk drum, bass, melodi, kendang, seruling, biola, semuanya ada. 

Baca Juga :  Eks Kades Trucuk Dituntut 6,5 Tahun Pidana

Ajisoka, tutur Obeh, ikatannya bukan bayaran berapa, tapi siap sengsara atau tidak. Terkadang, hanya dengan dipuji saja sudah suka. Meski begitu, Obeh mengaku jika saat ini sudah ada yang mulai membayar penampilannya. Tapi, Ajisoka sendiri tidak berani mematok harga. 

Motivasi lain selain materi adalah keinginan bersedekah salawat. Karena itu, terkadang biaya operasional juga ditanggung sendiri. Sedekah salawat ditujukan menghidupkan  salawat. Alasan memilih konsep gamelan, disebabkan karena gamelan tinggalan orang Jawa. Dia tidak rela jika budaya Jawa hilang terkikis 

Ajisoka lahir di Dusun Soka Desa Bungur, Kecamatan Kanor. Istilah Ajisoka terinspirasi dari nama dusun tersebut. Selain memainkan lagu-lagu berbahasa Arab berbasis salawat, Ajisoka juga memainkan lagu-lagu pop lainnya. Ajisoka sudah pernah tampil di sejumlah kota lain seperti Lamongan, Tuban, Cepu, hingga Gresik.

BOKS – Kholik Ubaidillah masih tidak percaya jika minggu lalu, dia dan teman-temannya baru saja satu panggung bersama Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto). Bahkan, Sabrang mengatakan jika permainan Ajisoka cukup mempesona. 

“Tentu saja itu pengalaman paling berkesan sejauh ini,” kata pria 32 tahun akrab disapa Obeh tersebut. 

Penampilannya bersama Sabrang di Jombang beberapa waktu lalu dalam rangka memperingati ulang tahun ke-65 Emha Ainun Nadjib. Dan, bisa tampil di tempat tersebut menjadi momentum bersejarah bagi Ajisoka. 

Sebagai koordinator Ajisoka, Obeh memang tahu dan merasakan perkembangan grup musik dia geluti sejak awal hingga kini. Jika dipikir-pikir kembali, Obeh seperti tidak percaya jika Ajisoka masih bergerak dan kian besar sampai sekarang. Sebab, jika bergerak murni hanya berlandaskan materi, menurutnya, tentu sudah bubar sejak lama. 

“Selain motivasi materi, memang ada motivasi lain yang membuat kita tetap kuat hingga kini,” ucap Obeh. 

Baca Juga :  Mudik Lebaran, Ditambah Enam Kereta

Kali pertama bertemu pada 2013 lalu. Mayoritas anggota Ajisoka menyukai pemikiran Emha Ainun Nadjib sekaligus suka mendengar Kiai Kanjeng. Nah, dari kesukaan mendengar lagu sama itu lah, mereka memutuskan membuat grup musik. Sejak 2013 itu pula mereka sering tampil di berbagai agenda. Meski, waktu itu belum memiliki nama. Terbentuk nama Ajisaka pada 2015. Sebelumnya, saat tampil mereka tidak menggunakan nama. 

Ajisoka memiliki perbedaan dibanding musik berbasis grup lainnya. Mereka menggunakan  instrumen musik-musik Jawa. Istilahnya mewarisi orang Jawa. Karena itu, mereka memakai saron dan bonang. Uniknya lagi, meski yang dimainkan lagu-lagu umum, mereka tidak pakai doremi sebagai mazhab nada. Melainkan pakai slendro dan pelok. 

“Makanya bagi yang belum pernah memainkannya bakalan bingung,”  ujar Obeh. 

Bapak dua anak itu menceritakan, awal pembentukan Ajisoka hanya 6 orang.  Terdiri dari vocal, gitar, bass, keyboard dan dua saron. Saat ini, jumlah personil sudah lengkap. Semua alat ada. Bahkan untuk drum, bass, melodi, kendang, seruling, biola, semuanya ada. 

Baca Juga :  Jalan Mastrip Disterilkan, PKL Direlokasi Kembali

Ajisoka, tutur Obeh, ikatannya bukan bayaran berapa, tapi siap sengsara atau tidak. Terkadang, hanya dengan dipuji saja sudah suka. Meski begitu, Obeh mengaku jika saat ini sudah ada yang mulai membayar penampilannya. Tapi, Ajisoka sendiri tidak berani mematok harga. 

Motivasi lain selain materi adalah keinginan bersedekah salawat. Karena itu, terkadang biaya operasional juga ditanggung sendiri. Sedekah salawat ditujukan menghidupkan  salawat. Alasan memilih konsep gamelan, disebabkan karena gamelan tinggalan orang Jawa. Dia tidak rela jika budaya Jawa hilang terkikis 

Ajisoka lahir di Dusun Soka Desa Bungur, Kecamatan Kanor. Istilah Ajisoka terinspirasi dari nama dusun tersebut. Selain memainkan lagu-lagu berbahasa Arab berbasis salawat, Ajisoka juga memainkan lagu-lagu pop lainnya. Ajisoka sudah pernah tampil di sejumlah kota lain seperti Lamongan, Tuban, Cepu, hingga Gresik.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/