alexametrics
24.9 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Dinasti Pabrik Arak Tegalagung Diruntuhkan

TUBAN – Pengoperasian sebagian pabrik arak berskala besar di Tuban dikuasai sejumlah dinasti keluarga produsen secara turun-temurun. Sudah tak terhitung berapa kali petugas mengamankan produsen-produsen minuman keras (miras) yang masih satu keluarga. Terbaru, kemarin (2/4) petugas menggerebek pabrik arak raksasa beromzet Rp 600 juta per bulan di Dusun Kiringan, Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding.

Pabrik arak tersebut pantas disebut dinasti. Sebab, petugas sudah empat kali menggerebek lokasi yang sama. Pada penggerebekan pertama pada 2016, petugas mengamankan Pantun dan hanya dijerat tindak pidana ringan (tipiring) berupa denda. Setelah sidang tipiring, Pantun kembali beroperasi dan digerebek pada 2017. Lagi-lagi, aparat penegak hukum hanya menjerat tipiring.

Pada 2018, giliran Suwarni, adik Pantun yang melanjutkan bisnis haram tersebut. Dikatakan Kapolres Tuban AKBP Nanang Haryono yang memimpin penggerebekan, Suwarni hanya divonis tiga bulan penjara, namun tidak ditahan. Hingga awal 2019, pabrik yang sama kembali dioperasikan Suwarno, suami Suwarni.

Baca Juga :  Pertanyakan Kejelasan Kontrak PPPK

Tempat produksi inilah yang kali keempat digerebek Polsek Semanding dan tim Macan Ronggolawe Satreskrim Polres Tuban kemarin (2/4).

Dalam penggerebekan tersebut ditemukan 7 kolam permanen yang berisi sekitar 3.200 liter baceman atau bahan baku arak, 3 tungku baja, belasan tabung gas elpiji bersubsidi 3 kilogram (kg), alat produksi lain, dan 30 liter arak siap edar yang dikemas dalam 16 botol. Berdasarkan keterangan petugas, pelaku baru saja mengirimkan ratusan botol arak untuk dipasarkan ke Surabaya dan sekitarnya.

Perwira kelahiran Kedungadem, Bojonegoro ini mengatakan, kapasitas produksi pabrik arak ini per hari sekitar 400 liter. Kalau per botol berukuran 1,5 liter dijual Rp 50 ribu, per hari Suwarno bisa meraup Rp 20 juta. Jika satu bulan penuh rutin produksi, dia bisa mendapatkan uang Rp 600 juta. 

Baca Juga :  Tak Ada Perayaan

Karena sudah berpengalaman, Suwarno benar-benar rapi menyembunyikan pabriknya. Dia membuat ruang bawah tanah seluas 3 x 2 meter (m) untuk menyimpan arak siap edar. Ruang bawah tanah tersebut terletak di bawah garasi. Akses masuknya hanya cukup seukuran tubuh orang dewasa. Sementara untuk wadah baceman, dia membuat ruang khusus dengan tujuh kolam permanen. ‘’Bisa dilihat, rumahnya sangat mewah. Ini semua dibangun dari hasil jual arak,’’ terang Nanang.

Pada penggerebekan keempat tersebut, Suwarno bernasib beda dengan dua anggota keluarganya yang hanya dijerat tipiring. Dia diringkus petugas dan langsung diborgol untuk ditahan di Polres Tuban. Jeratannya, pasal 204 ayat 1 KUHP dan pasal 140 jo pasal 86 ayat 2 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Ancaman hukuman maksimalnya 15 tahun penjara.

TUBAN – Pengoperasian sebagian pabrik arak berskala besar di Tuban dikuasai sejumlah dinasti keluarga produsen secara turun-temurun. Sudah tak terhitung berapa kali petugas mengamankan produsen-produsen minuman keras (miras) yang masih satu keluarga. Terbaru, kemarin (2/4) petugas menggerebek pabrik arak raksasa beromzet Rp 600 juta per bulan di Dusun Kiringan, Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding.

Pabrik arak tersebut pantas disebut dinasti. Sebab, petugas sudah empat kali menggerebek lokasi yang sama. Pada penggerebekan pertama pada 2016, petugas mengamankan Pantun dan hanya dijerat tindak pidana ringan (tipiring) berupa denda. Setelah sidang tipiring, Pantun kembali beroperasi dan digerebek pada 2017. Lagi-lagi, aparat penegak hukum hanya menjerat tipiring.

Pada 2018, giliran Suwarni, adik Pantun yang melanjutkan bisnis haram tersebut. Dikatakan Kapolres Tuban AKBP Nanang Haryono yang memimpin penggerebekan, Suwarni hanya divonis tiga bulan penjara, namun tidak ditahan. Hingga awal 2019, pabrik yang sama kembali dioperasikan Suwarno, suami Suwarni.

Baca Juga :  Masih Beroperasi, Eks Lokalisasi Tuban Digerebek

Tempat produksi inilah yang kali keempat digerebek Polsek Semanding dan tim Macan Ronggolawe Satreskrim Polres Tuban kemarin (2/4).

Dalam penggerebekan tersebut ditemukan 7 kolam permanen yang berisi sekitar 3.200 liter baceman atau bahan baku arak, 3 tungku baja, belasan tabung gas elpiji bersubsidi 3 kilogram (kg), alat produksi lain, dan 30 liter arak siap edar yang dikemas dalam 16 botol. Berdasarkan keterangan petugas, pelaku baru saja mengirimkan ratusan botol arak untuk dipasarkan ke Surabaya dan sekitarnya.

Perwira kelahiran Kedungadem, Bojonegoro ini mengatakan, kapasitas produksi pabrik arak ini per hari sekitar 400 liter. Kalau per botol berukuran 1,5 liter dijual Rp 50 ribu, per hari Suwarno bisa meraup Rp 20 juta. Jika satu bulan penuh rutin produksi, dia bisa mendapatkan uang Rp 600 juta. 

Baca Juga :  Sangkar Besar, Hanya Diisi Merpati

Karena sudah berpengalaman, Suwarno benar-benar rapi menyembunyikan pabriknya. Dia membuat ruang bawah tanah seluas 3 x 2 meter (m) untuk menyimpan arak siap edar. Ruang bawah tanah tersebut terletak di bawah garasi. Akses masuknya hanya cukup seukuran tubuh orang dewasa. Sementara untuk wadah baceman, dia membuat ruang khusus dengan tujuh kolam permanen. ‘’Bisa dilihat, rumahnya sangat mewah. Ini semua dibangun dari hasil jual arak,’’ terang Nanang.

Pada penggerebekan keempat tersebut, Suwarno bernasib beda dengan dua anggota keluarganya yang hanya dijerat tipiring. Dia diringkus petugas dan langsung diborgol untuk ditahan di Polres Tuban. Jeratannya, pasal 204 ayat 1 KUHP dan pasal 140 jo pasal 86 ayat 2 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Ancaman hukuman maksimalnya 15 tahun penjara.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/