alexametrics
26.8 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Areal Berkurang, Petani Tebu Beralih Palawija

LAMONGAN – Luas tanam tebu Lamongan diprediksi turun. Meski pola tanam sudah rampung bulan lalu, namun data dari instansi belum keluar. Pengakuan petani tebu Lamongan, Kacung Purwanto, jumlah petani berkurang.

Alasannya harga bibit mahal, sedangkan harga pabrik tidak menentu. Sehingga petani beralih tanam palawija. “Kemungkinan berkurangnya 5 persen, karena petani di wilayahnya rerata beralih palawija,” ujarnya.

Menurut dia, sejak panen tahun lalu petani kesulitan memperoleh hasil. Karena tebu yang sudah dikirim ke pabrik tak kunjung dibayar. Sampai ada kebijakan Bulog membeli gula petani. Setelah itu petani baru mendapatkan hasil dari penjualan dengan harga pembelian Rp 9.500 per kilogram.

Baca Juga :  Batas Pengesahan APBD 2021 Akhir Bulan Ini

Menurutnya petani yang modalnya minim memilih tanam palawija. Mereka bisa menikmati hasil minimal dua kali dalam satu tahun tahun dengan tanam palawija. Sedangkan, tebu hanya satu kali, dan harga di pabrik tidak bisa dipastikan.

Selain kendala penjualan, Kacung menuturkan, petani beralih tanam karena harga bibit mahal. Selama ini petani tebu harus impor  bibit dari luar kota. Harga yang ditawarkan antara Rp 65.000 sampai Rp 70.000  per kuintal. Sementara kebutuhan petani sekitar 10 ton satu kali tanam. Sehingga petani kesulitan modal awal, dan kebutuhan  pupuknya.

Sejauh ini petani tebu belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. Kalau pun ada hanya subsidi pupuk yang jumlahnya tidak banyak. “Jadi petani banyak yang bermitra dengan pabrik dan koperasi,” paparnya.

Baca Juga :  Cerita Dalang Wayang Kulit Suratno Kondhodarmono

Kabid Perkebunan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lamongan Agus Edy Santoso menambahkan, petani tebu pada umumnya sewa. Kalau sewanya habis dan tidak boleh diperpanjang pemilik ada kemungkinan luasan tanam berkurang. Secara penghasilan musim giling 2018 memang rendah, sehingga ada kemungkinan beralih ke komoditi lainnya. Tapi target instansi tetap tinggi, dari 2018 5.026 ha menjadi 5.064 ha.

“Realisasi masih kita hitung angka pastinya untuk prediksi masa panen Mei mendatang,” tambahnya.

LAMONGAN – Luas tanam tebu Lamongan diprediksi turun. Meski pola tanam sudah rampung bulan lalu, namun data dari instansi belum keluar. Pengakuan petani tebu Lamongan, Kacung Purwanto, jumlah petani berkurang.

Alasannya harga bibit mahal, sedangkan harga pabrik tidak menentu. Sehingga petani beralih tanam palawija. “Kemungkinan berkurangnya 5 persen, karena petani di wilayahnya rerata beralih palawija,” ujarnya.

Menurut dia, sejak panen tahun lalu petani kesulitan memperoleh hasil. Karena tebu yang sudah dikirim ke pabrik tak kunjung dibayar. Sampai ada kebijakan Bulog membeli gula petani. Setelah itu petani baru mendapatkan hasil dari penjualan dengan harga pembelian Rp 9.500 per kilogram.

Baca Juga :  Pedagang Lama Harus Diprioritaskan

Menurutnya petani yang modalnya minim memilih tanam palawija. Mereka bisa menikmati hasil minimal dua kali dalam satu tahun tahun dengan tanam palawija. Sedangkan, tebu hanya satu kali, dan harga di pabrik tidak bisa dipastikan.

Selain kendala penjualan, Kacung menuturkan, petani beralih tanam karena harga bibit mahal. Selama ini petani tebu harus impor  bibit dari luar kota. Harga yang ditawarkan antara Rp 65.000 sampai Rp 70.000  per kuintal. Sementara kebutuhan petani sekitar 10 ton satu kali tanam. Sehingga petani kesulitan modal awal, dan kebutuhan  pupuknya.

Sejauh ini petani tebu belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. Kalau pun ada hanya subsidi pupuk yang jumlahnya tidak banyak. “Jadi petani banyak yang bermitra dengan pabrik dan koperasi,” paparnya.

Baca Juga :  Bold Riders Lamongan Serahkan Hewan Kurban ke Anak Yatim

Kabid Perkebunan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Lamongan Agus Edy Santoso menambahkan, petani tebu pada umumnya sewa. Kalau sewanya habis dan tidak boleh diperpanjang pemilik ada kemungkinan luasan tanam berkurang. Secara penghasilan musim giling 2018 memang rendah, sehingga ada kemungkinan beralih ke komoditi lainnya. Tapi target instansi tetap tinggi, dari 2018 5.026 ha menjadi 5.064 ha.

“Realisasi masih kita hitung angka pastinya untuk prediksi masa panen Mei mendatang,” tambahnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/