alexametrics
31.2 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Ramai-Ramai Curi Kayu Jati, Sandera Petugas Perhutani

BLORA – Aksi kawanan pencuri kayu milik Perhutani di Blora semakin meresahkan. Sebab, para pelaku sudah mulai nekat dengan melakukan penyanderaan terhadap petugas Perhutani.

Peristiwa penjarahan hutan disertai penyanderaaan terjadi Sabtu (30/9). Mulanya, puluhan warga melakukan aksi pencurian di dalam kawasan hutan petak 69 RPH Sumengko BKPH Boto, KPH Randublatung. Lokasinya di Desa Bodeh, Kecamatan Randublatung, Blora.

Puluhan warga itu membawa berbagai macam senjata. Termasuk kapak sebagai alat untuk memotong kayu di hutan itu.

Aksi itu dilakukan sekitar pukul 10.00. Aksi penjarahan hutan pun tercium aparat. Petugas gabungan dari mapolres merangsek ke lokasi kejadian.

Ketegangan antarkedua kubu tak terhindarkan. Anggota polisi nyaris mundur karena diancam menggunakan senjata tajam.

Namun, berkat strategi yang ada, akhirnya satu pelaku pun tertangkap. Wartono, 28, seorang pemuda Dukuh Bapangan, Desa Menden, Kecamatan Kradenan, Blora, akhirnya berhasil ditekuk tangannya dan dibawa ke mapolres untuk dilakukan pemeriksaan.

Baca Juga :  Mulai Matangkan Taktik

”Ini berawal dari enam anggota gabungan polisi hutan bersama anggota Satshabara Polres Blora yang sedang berpatroli mendengar suara adanya tebangan di lokasi tersebut, kemudian langsung mendatangi lokasi dan melakukan pengejaran,’’ kata Kasatreskrim Polres Blora AKP Heri Dwi, kemarin (1/10).

Dia menjelaskan, pelaku tertangkap tangan di tempat kejadian perkara (TKP) tengah melakukan pemotongan dan mengolah kayu menjadi balok-balok.

Hasil penebangan kayu jati diangkut pelaku menggunakan motor.

Heri membenarkan, sempat terjadi ketegangan antara petugas dengan para blandong itu.

Mereka sempat melawan petugas dengan mengacungkan kapak dan gergaji yang mereka bawa.

Anggota shabara yang bersenjata lengkap meletuskan tembakan peringatan ke udara.

Para komplotan pencuri kayu yang ketakutan lari berhamburan dan tertangkaplah satu pelaku berserta barang buktinya.

”Kami berhasil mengamankan seorang pelaku beserta barang bukti di lokasi kejadian perkara,’’ kata dia.

Pengungkapan perkara pencurian kayu ilegal ini pun berbuntut. Sebab, para blandong tak tinggal diam dengan ditangkapnya rekannya.

Baca Juga :  Kiprah DPRD Kabupaten Lamongan

Mereka mengambil langkah dengan melakukan penyanderaan petugas Perhutani. ”Iya, ada petugas kami yang disandera,’’ kata Adm KPH Perhutani Randablatung Joko.

Dia mengatakan, petugas yang disandera adalah Santoso yang bertugas sebagai polter di KPH setempat.

Saat itu, Santoso, 51, sedang berada di jalan hutan. Oleh para komplotan tersebut, dia disandera dan dibawa ke kampungnya, Desa Menden, Kecamatan Kradenan, Blora.

Pria yang sudah tua itu pun tak bisa melakukuan perlawanan. Dia memilih diam. Sehingga, KPH Perhutani melakukan koordinasi dengan polres agar Sandra bisa diselamatkan.

Warga kemudian membawanya ke rumah Kepala Desa (Kades) Mendenrejo secara beramai-ramai. Santoso korban yang merasa bingung dan ketakutan, disandra oleh warga mulai dari pukul 11.00 sampai pukul 16.30. Warga meminta barter agar tersangka yang diamankan bisa dibebaskan.

BLORA – Aksi kawanan pencuri kayu milik Perhutani di Blora semakin meresahkan. Sebab, para pelaku sudah mulai nekat dengan melakukan penyanderaan terhadap petugas Perhutani.

Peristiwa penjarahan hutan disertai penyanderaaan terjadi Sabtu (30/9). Mulanya, puluhan warga melakukan aksi pencurian di dalam kawasan hutan petak 69 RPH Sumengko BKPH Boto, KPH Randublatung. Lokasinya di Desa Bodeh, Kecamatan Randublatung, Blora.

Puluhan warga itu membawa berbagai macam senjata. Termasuk kapak sebagai alat untuk memotong kayu di hutan itu.

Aksi itu dilakukan sekitar pukul 10.00. Aksi penjarahan hutan pun tercium aparat. Petugas gabungan dari mapolres merangsek ke lokasi kejadian.

Ketegangan antarkedua kubu tak terhindarkan. Anggota polisi nyaris mundur karena diancam menggunakan senjata tajam.

Namun, berkat strategi yang ada, akhirnya satu pelaku pun tertangkap. Wartono, 28, seorang pemuda Dukuh Bapangan, Desa Menden, Kecamatan Kradenan, Blora, akhirnya berhasil ditekuk tangannya dan dibawa ke mapolres untuk dilakukan pemeriksaan.

Baca Juga :  Orang Tua Menuntut Sertifikat Keagamaan Dihapus

”Ini berawal dari enam anggota gabungan polisi hutan bersama anggota Satshabara Polres Blora yang sedang berpatroli mendengar suara adanya tebangan di lokasi tersebut, kemudian langsung mendatangi lokasi dan melakukan pengejaran,’’ kata Kasatreskrim Polres Blora AKP Heri Dwi, kemarin (1/10).

Dia menjelaskan, pelaku tertangkap tangan di tempat kejadian perkara (TKP) tengah melakukan pemotongan dan mengolah kayu menjadi balok-balok.

Hasil penebangan kayu jati diangkut pelaku menggunakan motor.

Heri membenarkan, sempat terjadi ketegangan antara petugas dengan para blandong itu.

Mereka sempat melawan petugas dengan mengacungkan kapak dan gergaji yang mereka bawa.

Anggota shabara yang bersenjata lengkap meletuskan tembakan peringatan ke udara.

Para komplotan pencuri kayu yang ketakutan lari berhamburan dan tertangkaplah satu pelaku berserta barang buktinya.

”Kami berhasil mengamankan seorang pelaku beserta barang bukti di lokasi kejadian perkara,’’ kata dia.

Pengungkapan perkara pencurian kayu ilegal ini pun berbuntut. Sebab, para blandong tak tinggal diam dengan ditangkapnya rekannya.

Baca Juga :  DPRD Ingatkan Pemdes Agar Proaktif

Mereka mengambil langkah dengan melakukan penyanderaan petugas Perhutani. ”Iya, ada petugas kami yang disandera,’’ kata Adm KPH Perhutani Randablatung Joko.

Dia mengatakan, petugas yang disandera adalah Santoso yang bertugas sebagai polter di KPH setempat.

Saat itu, Santoso, 51, sedang berada di jalan hutan. Oleh para komplotan tersebut, dia disandera dan dibawa ke kampungnya, Desa Menden, Kecamatan Kradenan, Blora.

Pria yang sudah tua itu pun tak bisa melakukuan perlawanan. Dia memilih diam. Sehingga, KPH Perhutani melakukan koordinasi dengan polres agar Sandra bisa diselamatkan.

Warga kemudian membawanya ke rumah Kepala Desa (Kades) Mendenrejo secara beramai-ramai. Santoso korban yang merasa bingung dan ketakutan, disandra oleh warga mulai dari pukul 11.00 sampai pukul 16.30. Warga meminta barter agar tersangka yang diamankan bisa dibebaskan.

Artikel Terkait

Most Read

Hutan Terluas di Kecamatan Sambeng

Papan Imbauan Tuban Multitafsir

Sejuta Warga Memilih Gubernur

Artikel Terbaru


/