alexametrics
29.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Sebagian Lahan Solo Valley Untuk Jalur Tol Berupa Perkampungan

Radar Bojonegoro – Penggunaan lahan jalur Solo Valley rencana digunakan jalur tol sudah diketahui semua camat. Lahannya membentang di 11 kecamatan. Namun, di lahan milik negara itu, saat ini masih dikelola warga.

Sebagian berbentuk sawah dan waduk. Ada juga telah berdiri bangunan semipermanen. Jalur 11 kecamatan meliputi, Ngraho, Padangan, Kalitidu, Ngasem, Purwosari, Dander, Kapas, Sumberejo, Balen, Kepohbaru, dan Baureno.

Camat Purwosari Sugeng Firmato mengatakan, rencana pengaktifan kembali lahan Solo Valley itu sebelumnya sudah disampaikan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Namun baru sebatas para camat.

Semua camat telah dikumpulkan untuk dijelaskan tentang peta lahan Solo Valley. Selanjutnya, para camat menindaklanjutinya kepada kepala desa tentang rencana pembangunan nasional itu. ‘’Lahan Solo Valley di Kecamatan Purowsari itu melewati dua desa. Desa Purwosari dan Desa Pojok,’’ katanya kemarin (1/9).

Baca Juga :  Perbaikan Jalur Mudik Terus Dikebut

Sugeng menuturkan, kondisi lahan Solo Valley itu kini sebagian berdiri bangunan rumah semipermanen. Sehingga untuk pembebasan lahan bakal membutuhkan proses panjang. Dalam pertemuan sebelumnya, belum ada kepastian jalur tol itu melewati lahan Solo Valley atau menggunakan lahan milik warga.

‘’Ada dua kemungkinan, tol bisa lewat Solo Valley, bisa lewat lahan warga,’’ ujar mantan Camat Padangan itu. Camat Kalitidu Imam Wahyu Santoso menuturkan, lahan Solo Valley di wilayah kerjanya melintasi tujuh desa. Meliputi Desa Sumengko, Grebegan, Wotanngare, Kalitidu, Mayanggeneng, Mayangrejo, dan Leran.

Kondisi lahannya sekarang dikelola warga untuk pertanian. Namun untuk penarikan aset negara itu diperkirakan tidak akan mengalami kendala. Karena warga juga memahami status lahan tersebut. ‘’Melintas sekitar tujuh desa,’’ katanya via ponsel.

Sementara itu, Camat Ngasem Waji memastikan lahan Solo Valley di kecamatannya hanya melintasi satu desa. Yakni Desa Wadang. Kondisi lahannya saat ini dikelola warga untuk pertanian. Totalnya 69 pengelola. ‘’Sudah kami data, 69 warga yang mengelola lahan Solo Valley,’’ tutur mantan Camat Trucuk itu.

Baca Juga :  Defisit APBD 400 M, Pemkab Pastikan Tak Pangkas Program Pembangunan

Camat Kepohbaru Sri Nurma Arifa belum bisa memastikan jumlah data desa di wilayahnya. Namun, setelah mendapatkan informasi dari BBWS, tentang pengaktifan lahan Solo Valley di kecamatannya, segera ditindaklanjuti dengan sosialiasi kepada warga.

‘’Sebelumnya ada beberapa bangunan, tapi sudah dibersihkan,’’ ungkapnya. Sementara itu, di Kecamatan Ngraho, lahan Solo Valley tersebar di tujuh desa. Mulai Desa Luwihaji, Sumberagung, Mojorejo, Tapelan, Tanggungan, Sumberarum, dan Payaman.

Ada beberapa warga mendirikan bangunan di atas lahan tersebut, namun kondisinya bukan bangunan permanen. ‘’Di tujuh desa itu, sebagian berdiri rumah, tapi rata-rata jadi sawah,’’ kata Camat Ngraho Syaipurrokhim.

Radar Bojonegoro – Penggunaan lahan jalur Solo Valley rencana digunakan jalur tol sudah diketahui semua camat. Lahannya membentang di 11 kecamatan. Namun, di lahan milik negara itu, saat ini masih dikelola warga.

Sebagian berbentuk sawah dan waduk. Ada juga telah berdiri bangunan semipermanen. Jalur 11 kecamatan meliputi, Ngraho, Padangan, Kalitidu, Ngasem, Purwosari, Dander, Kapas, Sumberejo, Balen, Kepohbaru, dan Baureno.

Camat Purwosari Sugeng Firmato mengatakan, rencana pengaktifan kembali lahan Solo Valley itu sebelumnya sudah disampaikan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Namun baru sebatas para camat.

Semua camat telah dikumpulkan untuk dijelaskan tentang peta lahan Solo Valley. Selanjutnya, para camat menindaklanjutinya kepada kepala desa tentang rencana pembangunan nasional itu. ‘’Lahan Solo Valley di Kecamatan Purowsari itu melewati dua desa. Desa Purwosari dan Desa Pojok,’’ katanya kemarin (1/9).

Baca Juga :  Berkunjung ke Lamongan, Sandi Makan Nasi Boran dan Diberi Syal Persela

Sugeng menuturkan, kondisi lahan Solo Valley itu kini sebagian berdiri bangunan rumah semipermanen. Sehingga untuk pembebasan lahan bakal membutuhkan proses panjang. Dalam pertemuan sebelumnya, belum ada kepastian jalur tol itu melewati lahan Solo Valley atau menggunakan lahan milik warga.

‘’Ada dua kemungkinan, tol bisa lewat Solo Valley, bisa lewat lahan warga,’’ ujar mantan Camat Padangan itu. Camat Kalitidu Imam Wahyu Santoso menuturkan, lahan Solo Valley di wilayah kerjanya melintasi tujuh desa. Meliputi Desa Sumengko, Grebegan, Wotanngare, Kalitidu, Mayanggeneng, Mayangrejo, dan Leran.

Kondisi lahannya sekarang dikelola warga untuk pertanian. Namun untuk penarikan aset negara itu diperkirakan tidak akan mengalami kendala. Karena warga juga memahami status lahan tersebut. ‘’Melintas sekitar tujuh desa,’’ katanya via ponsel.

Sementara itu, Camat Ngasem Waji memastikan lahan Solo Valley di kecamatannya hanya melintasi satu desa. Yakni Desa Wadang. Kondisi lahannya saat ini dikelola warga untuk pertanian. Totalnya 69 pengelola. ‘’Sudah kami data, 69 warga yang mengelola lahan Solo Valley,’’ tutur mantan Camat Trucuk itu.

Baca Juga :  Ganggu Pengguna Jalan

Camat Kepohbaru Sri Nurma Arifa belum bisa memastikan jumlah data desa di wilayahnya. Namun, setelah mendapatkan informasi dari BBWS, tentang pengaktifan lahan Solo Valley di kecamatannya, segera ditindaklanjuti dengan sosialiasi kepada warga.

‘’Sebelumnya ada beberapa bangunan, tapi sudah dibersihkan,’’ ungkapnya. Sementara itu, di Kecamatan Ngraho, lahan Solo Valley tersebar di tujuh desa. Mulai Desa Luwihaji, Sumberagung, Mojorejo, Tapelan, Tanggungan, Sumberarum, dan Payaman.

Ada beberapa warga mendirikan bangunan di atas lahan tersebut, namun kondisinya bukan bangunan permanen. ‘’Di tujuh desa itu, sebagian berdiri rumah, tapi rata-rata jadi sawah,’’ kata Camat Ngraho Syaipurrokhim.

Artikel Terkait

Most Read

Belajar dari Banyuwangi 

Getz dan Pazia Karaoke Disegel

Los.… Mumpung tanpa Larangan 

Artikel Terbaru


/