alexametrics
23.8 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Puluhan Mading Berkompetisi Terbaik

BOJONEGORO – Puluhan majalah dinding (mading) dipamerkan dalam festival mading di halaman Pondok Pesantren Al Rosyid kemarin. Beraneka ragam karya siswa terpampang pada mading-mading yang dipamerkan tersebut. Mulai puisi, karikatur, foto, cerpen, karya ilmiah, hingga berbagai replika.

”Semua ini murni karya siswa. Setiap kelas menampilkan satu mading,’’ ungkap Fery Kolilurrohim, juri festival mading.

Festival tersebut dilaksanakan setiap tahun sekali. Kebetulan, kemarin pelaksanaannya bertepatan dengan perayaan Hari Raya Idul Adha. Namun, tema mading tersebut bukanlah Idul Adha.Tema mading tetap bebas, sesuai kreasi siswa.   

Para siswa tetap dibebaskan untuk menentukan tema masing-masing. ”Tema tidak terikat. Kami bebaskan saja,’’ jelasnya.

Menurut Fery, jika tema ditentukan, maka kreativitas siswa akan terbatasi. Sehingga, karya yang dihasilkan juga tidak akan fantastis. Oleh sebab itu, tema tetap diberikan pada siswa yang membuat mading.

Baca Juga :  Syukurlah, Ini Kondisi Dedy Setelah Ditangani Tenaga Medis

Tema mading yang dipamerkan beragam. Mulai perjalanan pondok sejak awal sampai saat ini dan kegiatan pondok. Selain itu, bentuknya juga menarik. Mulai replika kapal induk hingga bunga sakura juga ada. ”Waktu yang dimiliki siswa untuk membuat ini hanya satu hari,’’ jelasnya.

Festival mading tersebut hanya berlangsung enam jam. Kemarin sore, mading yang dipamerkan tersebut sudah dibongkar. Sebab, jika terlalu lama festival dilaksanakan, dikhawatirkan akan merusak properti mading tersebut. ”Para pemenangnya akan mendapatkan piala dan hadiah,’’ jelasnya.

Festival tersebut juga menyedot animo masyarakat untuk datang melihat. Tidak sedikit di antara pengunjung yang berswafoto mengabadikan momen.

BOJONEGORO – Puluhan majalah dinding (mading) dipamerkan dalam festival mading di halaman Pondok Pesantren Al Rosyid kemarin. Beraneka ragam karya siswa terpampang pada mading-mading yang dipamerkan tersebut. Mulai puisi, karikatur, foto, cerpen, karya ilmiah, hingga berbagai replika.

”Semua ini murni karya siswa. Setiap kelas menampilkan satu mading,’’ ungkap Fery Kolilurrohim, juri festival mading.

Festival tersebut dilaksanakan setiap tahun sekali. Kebetulan, kemarin pelaksanaannya bertepatan dengan perayaan Hari Raya Idul Adha. Namun, tema mading tersebut bukanlah Idul Adha.Tema mading tetap bebas, sesuai kreasi siswa.   

Para siswa tetap dibebaskan untuk menentukan tema masing-masing. ”Tema tidak terikat. Kami bebaskan saja,’’ jelasnya.

Menurut Fery, jika tema ditentukan, maka kreativitas siswa akan terbatasi. Sehingga, karya yang dihasilkan juga tidak akan fantastis. Oleh sebab itu, tema tetap diberikan pada siswa yang membuat mading.

Baca Juga :  Nominal Bantuan Subsidi Upah Guru Honorer Kemenag Rp 1,8 Juta

Tema mading yang dipamerkan beragam. Mulai perjalanan pondok sejak awal sampai saat ini dan kegiatan pondok. Selain itu, bentuknya juga menarik. Mulai replika kapal induk hingga bunga sakura juga ada. ”Waktu yang dimiliki siswa untuk membuat ini hanya satu hari,’’ jelasnya.

Festival mading tersebut hanya berlangsung enam jam. Kemarin sore, mading yang dipamerkan tersebut sudah dibongkar. Sebab, jika terlalu lama festival dilaksanakan, dikhawatirkan akan merusak properti mading tersebut. ”Para pemenangnya akan mendapatkan piala dan hadiah,’’ jelasnya.

Festival tersebut juga menyedot animo masyarakat untuk datang melihat. Tidak sedikit di antara pengunjung yang berswafoto mengabadikan momen.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/