alexametrics
31.1 C
Bojonegoro
Wednesday, August 17, 2022

Enya Ebiarta Ariani, Pemain Futsal dan Sepak Bola Putri

- Advertisement -

Sempat tak mendapat restu dari orang tua untuk menekuni futsal dan sepak bola. Namun, Enya sembunyi-sembunyi bermain bola. Hingga akhirnya masuk skuad futsal Porprov 2019. Dan kini ingin menjadi pemain profesional.

M. IRVAN RAMADHON, Radar Bojonegoro

Libur kuliah bukan berarti waktu bersantai bagi Enya Ebiarta Ariani. Meski berada di rumah, Enya harus mempersiapkan acara penyambutan mahasiswa baru di jurusannya. “Persiapan acara pemaba, semacam penerimaan mahasiswa baru,” ungkap pemain berumur 20 tahun itu.

Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Enya masih menyempatkan waktunya untuk berlatih sepak bola maupun futsal. Meskipun tidak sesering dulu. Karena waktu berlatih kadang bentrok dengan jam kuliah. Enya hanya bisa bergabung latihan ketika akhir pekan.

Juga ketika ada even-even besar. Sebab saat ini prioritasnya menyelesaikan kuliahnya. “Jadi ketika ada waktu luang digunakan untuk bermain sepak bola,” jelas mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya itu.

- Advertisement -

Anak kedua dari tiga bersaudara itu rindu bisa fokus berlatih dan bermain sepak bola secara intens seperti dulu. Saat ada latihan atau pertandingan bisa langsung ikut, namun sekarang harus dipertimbangkan terlebih dulu. “Jadi ada batasan buat main bola,” ungkap pemain asal Desa Mulyoagung, Kecamatan Bojonegoro Kota itu.

Baca Juga :  Outdoor Place Lebih Diminati

Enya masih menyimpan cita-citanya menjadi pemain sepak bola putri profesional. Kemudian ketika pensiun sebagai pemain ingin menjadi pelatih. Untuk memajukan persepakbolaan putri Bojonegoro.

Pemain berposisi sayap itu ingin terus bermain sepak bola karena mengingat perjuangannya yang tak mudah ketika pertama kali memutuskan menekuninya. Enya sempat tidak mendapat izin dari orang tuanya. “Tidak boleh cewek main bola, pokoknya dimarahi,” ungkap pemain Persepa Pacul itu.

Namun dengan tekad kuatnya, Enya masih terus menekuni sepak bola, meski secara diam-diam. Terus berlatih dan mengikuti berbagai even. Kemudian berhasil lolos seleksi masuk tim Futsal Porprov 2019, akhirnya orang tua mendukung. “Nekat bandel ikut diem-diem,” terang alumni SMAN 3 Bojonegoro itu.

Baca Juga :  Jalan Beraspal Ekonomi Lancar

Selama bermain futsal dan sepak bola, Enya berposisi sebagai sayap, baik kiri maupun kanan sesuai kebutuhan pelatih. Sebagai winger Enya harus memiliki lari yang kencang. Juga mampu mengolah bola dengan baik dan memanfaatkan lebar lapangan. Menurut Enya sepak bola mau pun futsal merupakan olahraga yang seru.

Banyak pelajaran diambil, mulai dituntut menjadi cewek tidak manja, harus berani, punya pola pikir cepat, dan ada banyak tantangannya. Enya menyukai olahraga si kulit bundar tersebut sejak kecil. Bermain bola bersama teman-teman lelaki di sekitar rumahnya. Kemudian ditambah ketika melihat kakak laki-lakinya yang ikut sekolah sepak bola (SSB), semakin membutanya jatuh cinta dengan sepak bola.

“Kakak ikut SSB, ketika ada pertandingan sering ikut, diajak melihat. Sepertinya seru main bola akhirnya tertarik,” ujar anggota komunitas ABC (Airlangga Bojonegoro Comunity) itu.

Sempat tak mendapat restu dari orang tua untuk menekuni futsal dan sepak bola. Namun, Enya sembunyi-sembunyi bermain bola. Hingga akhirnya masuk skuad futsal Porprov 2019. Dan kini ingin menjadi pemain profesional.

M. IRVAN RAMADHON, Radar Bojonegoro

Libur kuliah bukan berarti waktu bersantai bagi Enya Ebiarta Ariani. Meski berada di rumah, Enya harus mempersiapkan acara penyambutan mahasiswa baru di jurusannya. “Persiapan acara pemaba, semacam penerimaan mahasiswa baru,” ungkap pemain berumur 20 tahun itu.

Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Enya masih menyempatkan waktunya untuk berlatih sepak bola maupun futsal. Meskipun tidak sesering dulu. Karena waktu berlatih kadang bentrok dengan jam kuliah. Enya hanya bisa bergabung latihan ketika akhir pekan.

Juga ketika ada even-even besar. Sebab saat ini prioritasnya menyelesaikan kuliahnya. “Jadi ketika ada waktu luang digunakan untuk bermain sepak bola,” jelas mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya itu.

- Advertisement -

Anak kedua dari tiga bersaudara itu rindu bisa fokus berlatih dan bermain sepak bola secara intens seperti dulu. Saat ada latihan atau pertandingan bisa langsung ikut, namun sekarang harus dipertimbangkan terlebih dulu. “Jadi ada batasan buat main bola,” ungkap pemain asal Desa Mulyoagung, Kecamatan Bojonegoro Kota itu.

Baca Juga :  ADD Dipangkas Rp 6,2 Miliar, Perades Siap Siap Turun Gaji

Enya masih menyimpan cita-citanya menjadi pemain sepak bola putri profesional. Kemudian ketika pensiun sebagai pemain ingin menjadi pelatih. Untuk memajukan persepakbolaan putri Bojonegoro.

Pemain berposisi sayap itu ingin terus bermain sepak bola karena mengingat perjuangannya yang tak mudah ketika pertama kali memutuskan menekuninya. Enya sempat tidak mendapat izin dari orang tuanya. “Tidak boleh cewek main bola, pokoknya dimarahi,” ungkap pemain Persepa Pacul itu.

Namun dengan tekad kuatnya, Enya masih terus menekuni sepak bola, meski secara diam-diam. Terus berlatih dan mengikuti berbagai even. Kemudian berhasil lolos seleksi masuk tim Futsal Porprov 2019, akhirnya orang tua mendukung. “Nekat bandel ikut diem-diem,” terang alumni SMAN 3 Bojonegoro itu.

Baca Juga :  Hari Pertama Tes CPNS,┬áPeserta Tak Alami┬áKendala Server

Selama bermain futsal dan sepak bola, Enya berposisi sebagai sayap, baik kiri maupun kanan sesuai kebutuhan pelatih. Sebagai winger Enya harus memiliki lari yang kencang. Juga mampu mengolah bola dengan baik dan memanfaatkan lebar lapangan. Menurut Enya sepak bola mau pun futsal merupakan olahraga yang seru.

Banyak pelajaran diambil, mulai dituntut menjadi cewek tidak manja, harus berani, punya pola pikir cepat, dan ada banyak tantangannya. Enya menyukai olahraga si kulit bundar tersebut sejak kecil. Bermain bola bersama teman-teman lelaki di sekitar rumahnya. Kemudian ditambah ketika melihat kakak laki-lakinya yang ikut sekolah sepak bola (SSB), semakin membutanya jatuh cinta dengan sepak bola.

“Kakak ikut SSB, ketika ada pertandingan sering ikut, diajak melihat. Sepertinya seru main bola akhirnya tertarik,” ujar anggota komunitas ABC (Airlangga Bojonegoro Comunity) itu.

Artikel Terkait

Most Read

Arief-Etik Komitmen Membangun Kawasan

Asyiknya Balap Perahu di Bengawan Solo

Absen Turnamen, Fokus Penjaringan Atlet

Artikel Terbaru


/