alexametrics
29.3 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Baru Pindah, Nelayan Kembali ke TPI Lama

BRONDONG – Baru tiga hari pindah ke Pusat Pemasaran dan Distribusi Ikan (PPDI), seluruh nelayan di pantura Lamongan memutuskan kembali ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) lama yang berada di sebelah timur PPDI. Para nelayan memilih sikap itu karena fasilitas-fasilitas yang ada di PPDI belum memenuhi syarat.

‘’Seluruh nelayan memutuskan kembali ke TPI Brondong (TPI lama, Red) rabu,’’ kata Ketua Rukun Nelayan (RN) Blimbing Paciran, Nur Wahid rabu (1/8). Menurut dia, saat berada di PPDI sejak tiga hari lalu, ditemukan banyak kendala. Antara lain, tempat pelelangan ikan kurang luas, lahan parkir perahu nelayan masih sempit, dan pengguna belum terbiasa.

Kekurangan tersebut diharapkan bisa diperbaiki sebelum November mendatang. ‘’Kepindahan rabu dianggap uji coba. Seharusnya lokasi itu (PPDI, Red) sudah menjadi lokasi permanen pelelangan ikan. Tapi setelah dilakukan ujicoba tiga hari ternyata banyak ditemukan kendala. Sambil menunggu perbaikan, direncanakan November mendatang nelayan pindah lagi ke PPDI,’’ ujarnya.

Kembalinya nelayan ke TPI lama mendapat sorotan tajam Direktur Madani Institute (Pusat Lembaga Penguatan Demokrasi) Lamongan, Nu’man Suhadi. “Kepindahan para pengguna ke PPDI seperti dipaksakan,’’ tandasnya. Menurut dia, kepindahan ke PPDI diduga karena ada kunjungan Dirjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Kalau tidak ada kunjungan dirjen, sepertinya tidak pindah.

Baca Juga :  Belum Pasti Terima Bantuan

Padahal kondisinya belum memenuhi syarat,’’ ujarnya. Nu’man menyatakan, pembangunan PPDI dilakukan sejak 2010 dengan anggaran sangat besar. Seharusnya sudah bisa dimanfaatkan tahun ini, karena lokasi TPI lama sudah tidak kondusif. Ternyata, setelah dipindahkan, bangunan PPDI tidak disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. ‘’Sehingga nelayan tidak nyaman dan memilih balik kucing ke TPI lama kembali,’’ tukasnya.

Menurut dia, beberapa kekurangan itu antar lain, nelayan kesulitan bongkar muat ikan karena lokasinya kurang luas. Sehingga terjadi antrean panjang berjam-jam bahkan sampai sehari. Padahal jumlah nelayan mencapai 500 perahu per hari. Selain itu pemilah ikan (ngorek) kesulitan menuju lokasi baru itu. Karena terlalu jauh.

Sehingga butuh angkutan tambahan. Jika di TPI lama bisa dilakukan dengan jalan kaki, untuk ke PPDI butuh naik becak. Sehingga mengurangi penghasilan. ‘’Beban transportasi tambahan ini dikeluhkan pekerja. Karena penghasilannya hanya Rp 25 Ribu per hari,’’ ungkapnya. Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) KKP Brondong, Dedy Sutisna belum bisa dikonfirmasi terkait masalah itu.

Baca Juga :  Petani Tambak Keluhkan Distribusi Pupuk

Namun sebelumnya dia menyatakan, relokasi tempat pelelangan ikan (TPI) Brondong dipercepat dan diujicoba. Semula dijadwalkan November 2018, namun dipercepat pada Sabtu (28/7) lalu. ‘’Relokasi sudah dilakukan. Kita ingin lihat kondisi ketika TPI lama ditutup, serta operasional di lokasi baru itu seperti apa,’’ katanya. Selama beberapa bulan ke depan, operasional di lokasi baru akan menjadi bahan evaluasi.

Terutama memperbaiki fasilitas untuk memudahkan pelaku pasar yang ada di TPI baru. ‘’Kita siapkan yang lebih baik untuk pengoperasian TPI baru ini agar lebih nyaman,’’ tukasnya. Menurut dia, mengolah dan menata pelabuhan tidak semudah yang di bayangkan. Serta, tidak semudah standar operasional prosedur (SOP) yang disampaikan oleh pusat. ‘’Mereka tahu sendiri manusia yang berkecimpung di TPI kita ini ribuan orang. Jadi butuh waktu beradaptasi di lokasi yang baru ini,’’ pungkasnya 

BRONDONG – Baru tiga hari pindah ke Pusat Pemasaran dan Distribusi Ikan (PPDI), seluruh nelayan di pantura Lamongan memutuskan kembali ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) lama yang berada di sebelah timur PPDI. Para nelayan memilih sikap itu karena fasilitas-fasilitas yang ada di PPDI belum memenuhi syarat.

‘’Seluruh nelayan memutuskan kembali ke TPI Brondong (TPI lama, Red) rabu,’’ kata Ketua Rukun Nelayan (RN) Blimbing Paciran, Nur Wahid rabu (1/8). Menurut dia, saat berada di PPDI sejak tiga hari lalu, ditemukan banyak kendala. Antara lain, tempat pelelangan ikan kurang luas, lahan parkir perahu nelayan masih sempit, dan pengguna belum terbiasa.

Kekurangan tersebut diharapkan bisa diperbaiki sebelum November mendatang. ‘’Kepindahan rabu dianggap uji coba. Seharusnya lokasi itu (PPDI, Red) sudah menjadi lokasi permanen pelelangan ikan. Tapi setelah dilakukan ujicoba tiga hari ternyata banyak ditemukan kendala. Sambil menunggu perbaikan, direncanakan November mendatang nelayan pindah lagi ke PPDI,’’ ujarnya.

Kembalinya nelayan ke TPI lama mendapat sorotan tajam Direktur Madani Institute (Pusat Lembaga Penguatan Demokrasi) Lamongan, Nu’man Suhadi. “Kepindahan para pengguna ke PPDI seperti dipaksakan,’’ tandasnya. Menurut dia, kepindahan ke PPDI diduga karena ada kunjungan Dirjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Kalau tidak ada kunjungan dirjen, sepertinya tidak pindah.

Baca Juga :  LGC Gairahkan Swadaya Masyarakat

Padahal kondisinya belum memenuhi syarat,’’ ujarnya. Nu’man menyatakan, pembangunan PPDI dilakukan sejak 2010 dengan anggaran sangat besar. Seharusnya sudah bisa dimanfaatkan tahun ini, karena lokasi TPI lama sudah tidak kondusif. Ternyata, setelah dipindahkan, bangunan PPDI tidak disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. ‘’Sehingga nelayan tidak nyaman dan memilih balik kucing ke TPI lama kembali,’’ tukasnya.

Menurut dia, beberapa kekurangan itu antar lain, nelayan kesulitan bongkar muat ikan karena lokasinya kurang luas. Sehingga terjadi antrean panjang berjam-jam bahkan sampai sehari. Padahal jumlah nelayan mencapai 500 perahu per hari. Selain itu pemilah ikan (ngorek) kesulitan menuju lokasi baru itu. Karena terlalu jauh.

Sehingga butuh angkutan tambahan. Jika di TPI lama bisa dilakukan dengan jalan kaki, untuk ke PPDI butuh naik becak. Sehingga mengurangi penghasilan. ‘’Beban transportasi tambahan ini dikeluhkan pekerja. Karena penghasilannya hanya Rp 25 Ribu per hari,’’ ungkapnya. Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) KKP Brondong, Dedy Sutisna belum bisa dikonfirmasi terkait masalah itu.

Baca Juga :  Berharap Pembangunan Tak Molor LagiĀ 

Namun sebelumnya dia menyatakan, relokasi tempat pelelangan ikan (TPI) Brondong dipercepat dan diujicoba. Semula dijadwalkan November 2018, namun dipercepat pada Sabtu (28/7) lalu. ‘’Relokasi sudah dilakukan. Kita ingin lihat kondisi ketika TPI lama ditutup, serta operasional di lokasi baru itu seperti apa,’’ katanya. Selama beberapa bulan ke depan, operasional di lokasi baru akan menjadi bahan evaluasi.

Terutama memperbaiki fasilitas untuk memudahkan pelaku pasar yang ada di TPI baru. ‘’Kita siapkan yang lebih baik untuk pengoperasian TPI baru ini agar lebih nyaman,’’ tukasnya. Menurut dia, mengolah dan menata pelabuhan tidak semudah yang di bayangkan. Serta, tidak semudah standar operasional prosedur (SOP) yang disampaikan oleh pusat. ‘’Mereka tahu sendiri manusia yang berkecimpung di TPI kita ini ribuan orang. Jadi butuh waktu beradaptasi di lokasi yang baru ini,’’ pungkasnya 

Artikel Terkait

Most Read

Poin di Bali Jadi Pelecut Semangat

Mantap di Puncak Top Scorer

Hambat Investasi, Tujuh Perda Dihapus

Artikel Terbaru


/