alexametrics
24.8 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Dua Warga Tiongkok Dideportasi 

KOTA – Dua warga asing asal Tiongkok yang diamankan dari Perumahan Graha Indah Blok Q Nomor 3 Desa Tambakrigadung, Kecamatan Tikung (24/7) akhirnya dideportasi ke negaranya. Xu Youke dan Huang Jianwen, dua warga asing itu, dipulangkan paksa karena dinyatakan terbukti melakukan pelanggaran visa.

‘’Keduanya dideportasi hari ini (kemarin, Red),’’ kata Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Lamongan, Sudjito, kemarin (1/8).

Menurut dia, pendeportasian itu dilakukan Kasubsi Pengawasan Kantor Imigrasi Tanjung Perak Surabaya, Antonius P. Sihombing, bersama staf seksi pengawasan dan penindakan keimigrasian (wasdakim) Dani Hidayat Lubis. Keduanya mengawal sampai Bandara Juanda. 

Xu Youke dan Huang Jianwen kemudian naik maskapai sebuah penerbangan ke Kuala Lumpur, Malaysia. Selanjutnya, keduanya ganti pesawat dengan nomor penerbangan AK118 ke Guangzhou, Tiongkok. 

‘’Dua orang tersebut dideportasi karena pelanggaran visa. Yakni memberi data fiktif,’’ jelas Sudjito.

Temuan tersebut, lanjut dia, bakal memotivasi tim pora untuk lebih gencar melakukan pengawasan. Tidak hanya ke perusahaan. Juga, ke universitas yang terdapat WNA. 

‘’Ini sudah kesekian kali penangkapan TKA tak memiliki dokumen lengkap,’’ ujar pria yang juga menjabat Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Lamongan tersebut.

Baca Juga :  Ibadah di Gereja Khidmat, di Rumah Virtual

Seperti diberitakan, tim Pengawasan Orang Asing (Tim Pora) Lamongan mengamankan Xu Youke dan Huang Jianwen karena tidak bisa menunjukkan dokumen keimigrasian tentang keberadaannya di Lamongan. 

Berdasarkan keterangan dari penerjemah, Xu Youke lahir di Ghangxi, 10 Oktober 1993. Nomor paspornya E87316077 dengan masa berlaku hingga 26 September 2026. Sedangkan Huang Jianwen, lahir di Ghuangxi, 28 Maret 1993. Dia memiliki nomor parpor EA1637235 yang berlaku sampai 26 April 2027. 

Namun, nomor paspor dan masa berlakunya itu hanya bentuk gambar yang dikirimkan via handphone oleh seseorang. Sementara bukti fisik paspor tidak dibawa keduanya.

Berdasarkan keterangan dua warga asing itu,  keduanya sudah tinggal di Lamongan selama dua bulan. Statusnya berwisata. Namun, mereka tidak bisa menunjukkan visa kunjungan maupun ITAS (izin tinggal terbatas). Selain itu juga tidak bisa menunjukkan obyek wisata mana saja yang telah dikunjungi. Bahkan di rumah kontrakan itu ditemukan 63 dus handphone produk Tiongkok. Karena itu, keduanya kemudian dibawa ke Kantor Imigrasi  Surabaya. 

‘’Dua WNA pelimpahan dari Polres Lamongan kita deportasi hari ini (kemarin),’’ tutur Kasi Wasdakim Kantor Imigrasi Kelas I Tanjung Perak Surabaya M. Ridwan saat dikonfirmasi terpisah Jawa Pos Radar Lamongan.

Baca Juga :  Pantau Warga Asing di Sekolah Bojonegoro

‘’Diperkirakan malam nanti keduanya tiba di negara asalnya,’’ imbuhnya. 

Menurut dia, keduanya tidak memiliki dokumen lengkap. ‘’Pelanggarannya cukup berat sehingga dilakukan tindakan administratif,’’ tandasnya. 

Dia menjelaskan, dua TKA tersebut terbukti memberikan keterangan tidak benar. Saat berada di kedutaan besar negara asalnya, keduanya melampirkan data untuk bekerja di sebuah perusahaan. Kenyataannya digunakan bekerja di perusahaan lainnya. 

‘’Dua TKA tersebut bisa kembali ke Indonesia lagi jika memenuhi syarat dan ketentuan keimigrasian,’’ tuturnya.

Apakah dua warga asing tersebut berhubungan dengan jaringan penipuan warga Tiongkok yang tertangkap di Surabaya? Ridwan memastikan bahwa keduanya tak memiliki hubungan dengan kelompok tersebut. Indikasinya, dua warga asing itu ditemukan sebelum kelompok tersebut tertangkap. Selain itu, pelanggaran keimigrasian yang dilakukan juga berbeda. 

‘’Setelah kami periksa dan telusuri memang tidak berkaitan,’’ ujar Ridwan. 

Menurut dia, adanya tim pengawasan orang asing di tiap daerah cukup efektif guna menelusuri WNA yang melanggar keiimigrasian. Sebab, pengawasan terhadap WNA cukup sulit. Banyak pintu masuk ke negara ini. Paling sulit pengawasannya, melalui jalur laut. 

‘’Mereka cukup mobile, sehingga hanya bisa dideteksi saat pengawasan,’’ imbuhnya.

KOTA – Dua warga asing asal Tiongkok yang diamankan dari Perumahan Graha Indah Blok Q Nomor 3 Desa Tambakrigadung, Kecamatan Tikung (24/7) akhirnya dideportasi ke negaranya. Xu Youke dan Huang Jianwen, dua warga asing itu, dipulangkan paksa karena dinyatakan terbukti melakukan pelanggaran visa.

‘’Keduanya dideportasi hari ini (kemarin, Red),’’ kata Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Lamongan, Sudjito, kemarin (1/8).

Menurut dia, pendeportasian itu dilakukan Kasubsi Pengawasan Kantor Imigrasi Tanjung Perak Surabaya, Antonius P. Sihombing, bersama staf seksi pengawasan dan penindakan keimigrasian (wasdakim) Dani Hidayat Lubis. Keduanya mengawal sampai Bandara Juanda. 

Xu Youke dan Huang Jianwen kemudian naik maskapai sebuah penerbangan ke Kuala Lumpur, Malaysia. Selanjutnya, keduanya ganti pesawat dengan nomor penerbangan AK118 ke Guangzhou, Tiongkok. 

‘’Dua orang tersebut dideportasi karena pelanggaran visa. Yakni memberi data fiktif,’’ jelas Sudjito.

Temuan tersebut, lanjut dia, bakal memotivasi tim pora untuk lebih gencar melakukan pengawasan. Tidak hanya ke perusahaan. Juga, ke universitas yang terdapat WNA. 

‘’Ini sudah kesekian kali penangkapan TKA tak memiliki dokumen lengkap,’’ ujar pria yang juga menjabat Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Lamongan tersebut.

Baca Juga :  Disenggol Tronton, Guru Tewas Terlindas

Seperti diberitakan, tim Pengawasan Orang Asing (Tim Pora) Lamongan mengamankan Xu Youke dan Huang Jianwen karena tidak bisa menunjukkan dokumen keimigrasian tentang keberadaannya di Lamongan. 

Berdasarkan keterangan dari penerjemah, Xu Youke lahir di Ghangxi, 10 Oktober 1993. Nomor paspornya E87316077 dengan masa berlaku hingga 26 September 2026. Sedangkan Huang Jianwen, lahir di Ghuangxi, 28 Maret 1993. Dia memiliki nomor parpor EA1637235 yang berlaku sampai 26 April 2027. 

Namun, nomor paspor dan masa berlakunya itu hanya bentuk gambar yang dikirimkan via handphone oleh seseorang. Sementara bukti fisik paspor tidak dibawa keduanya.

Berdasarkan keterangan dua warga asing itu,  keduanya sudah tinggal di Lamongan selama dua bulan. Statusnya berwisata. Namun, mereka tidak bisa menunjukkan visa kunjungan maupun ITAS (izin tinggal terbatas). Selain itu juga tidak bisa menunjukkan obyek wisata mana saja yang telah dikunjungi. Bahkan di rumah kontrakan itu ditemukan 63 dus handphone produk Tiongkok. Karena itu, keduanya kemudian dibawa ke Kantor Imigrasi  Surabaya. 

‘’Dua WNA pelimpahan dari Polres Lamongan kita deportasi hari ini (kemarin),’’ tutur Kasi Wasdakim Kantor Imigrasi Kelas I Tanjung Perak Surabaya M. Ridwan saat dikonfirmasi terpisah Jawa Pos Radar Lamongan.

Baca Juga :  Marak Jasa Nikah Siri di Medsos, Klaim Sediakan Wali, Saksi, dan Ustad

‘’Diperkirakan malam nanti keduanya tiba di negara asalnya,’’ imbuhnya. 

Menurut dia, keduanya tidak memiliki dokumen lengkap. ‘’Pelanggarannya cukup berat sehingga dilakukan tindakan administratif,’’ tandasnya. 

Dia menjelaskan, dua TKA tersebut terbukti memberikan keterangan tidak benar. Saat berada di kedutaan besar negara asalnya, keduanya melampirkan data untuk bekerja di sebuah perusahaan. Kenyataannya digunakan bekerja di perusahaan lainnya. 

‘’Dua TKA tersebut bisa kembali ke Indonesia lagi jika memenuhi syarat dan ketentuan keimigrasian,’’ tuturnya.

Apakah dua warga asing tersebut berhubungan dengan jaringan penipuan warga Tiongkok yang tertangkap di Surabaya? Ridwan memastikan bahwa keduanya tak memiliki hubungan dengan kelompok tersebut. Indikasinya, dua warga asing itu ditemukan sebelum kelompok tersebut tertangkap. Selain itu, pelanggaran keimigrasian yang dilakukan juga berbeda. 

‘’Setelah kami periksa dan telusuri memang tidak berkaitan,’’ ujar Ridwan. 

Menurut dia, adanya tim pengawasan orang asing di tiap daerah cukup efektif guna menelusuri WNA yang melanggar keiimigrasian. Sebab, pengawasan terhadap WNA cukup sulit. Banyak pintu masuk ke negara ini. Paling sulit pengawasannya, melalui jalur laut. 

‘’Mereka cukup mobile, sehingga hanya bisa dideteksi saat pengawasan,’’ imbuhnya.

Artikel Terkait

Most Read

Lebih Sporty Pakai Sneakers

Target 6.500 Ton, Tercapai 1.100 Ton 

Sulap Lahan Kosong Menjadi Taman RTH

Artikel Terbaru


/