alexametrics
27.8 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Zakat Profesi belum Optimal

KOTA – Pengumpulan zakat profesi pegawai kantor Kementrian Agama (Kemenag) Lamongan mulai dilaksanakan, tapi belum optimal. Pengumpulan zakat tersebut sesuai instruksi presiden nomor 3 tahun 2014 tentang optimalisasi pengumpulan zakat di Kementerian/lembaga. ‘’Tapi realisasinya memang belum sepenuhnya. Karena zakat harus dilakukan atas kemauan pribadi,’’ kata Kasi Syariah Kemenag Lamongan, Yitno Utomo jumat (1/6).

Dia mengungkapkan, pengumpulan zakat selama ini melalui unit pengumpulan zakat (UPZ) yang dikelola internal kemenag dan sudah menerapkan zakat profesi. Besarannya masih menyesuaikan kemampuan masing-masing orang. Sehingga, pihak pengumpul zakat tidak memaksa besarannya. Sesuai ketentuan, besarnya 2,5 persen dari gaji.

“Aturan tersebut sebatas imbauan, pelaksanaannya tergantung individunya,” ujar dia. Menurut Yitno, meski berbentuk inpres, tapi lembaga tidak bisa memaksa pemberi zakat. Karena zakat itu dikeluarkan atas kesadaran sendiri. Namun UPZ tetap mengingatkan untuk melakukan zakat. Sebab, zakat dikeluarkan bukan untuk kepentingan pengelola, tapi untuk umat.

Baca Juga :  Alokasikan Dua Pompa Air di Semanding dan Kalirejo

“Semakin banyak zakat dikeluarkan, penerima manfaatnya juga lebih banyak lagi,” tuturnya. Sejauh ini, ungkap dia, zakat yang dikelola UPZ memang sebatas lembaga di bawah naungan Kemenag. Sebab, kabupaten Lamongan belum memiliki Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang mengelola zakat pegawai. Sehingga pengelolaan masih belum bisa maksimal. Yitno memastikan, ketika ada lembaga khusus pengelola zakat pegawai, kesadaran untuk melakukan zakat akan semakin besar.

Karena pengelolaan keuangan bisa dipertanggung jawabkan. Dia menambahkan, untuk membentuk lembaga khusus harus mendapatkan persetujuan/rekomendasi pusat. Informasi yang diterima, rekomendasi tersebut sudah turun, tinggal menunggu pelantikan. “Semoga bisa segera dilantik, supaya pengelolaan zakat bisa lebih baik,” tukasnya.

KOTA – Pengumpulan zakat profesi pegawai kantor Kementrian Agama (Kemenag) Lamongan mulai dilaksanakan, tapi belum optimal. Pengumpulan zakat tersebut sesuai instruksi presiden nomor 3 tahun 2014 tentang optimalisasi pengumpulan zakat di Kementerian/lembaga. ‘’Tapi realisasinya memang belum sepenuhnya. Karena zakat harus dilakukan atas kemauan pribadi,’’ kata Kasi Syariah Kemenag Lamongan, Yitno Utomo jumat (1/6).

Dia mengungkapkan, pengumpulan zakat selama ini melalui unit pengumpulan zakat (UPZ) yang dikelola internal kemenag dan sudah menerapkan zakat profesi. Besarannya masih menyesuaikan kemampuan masing-masing orang. Sehingga, pihak pengumpul zakat tidak memaksa besarannya. Sesuai ketentuan, besarnya 2,5 persen dari gaji.

“Aturan tersebut sebatas imbauan, pelaksanaannya tergantung individunya,” ujar dia. Menurut Yitno, meski berbentuk inpres, tapi lembaga tidak bisa memaksa pemberi zakat. Karena zakat itu dikeluarkan atas kesadaran sendiri. Namun UPZ tetap mengingatkan untuk melakukan zakat. Sebab, zakat dikeluarkan bukan untuk kepentingan pengelola, tapi untuk umat.

Baca Juga :  Zakat PNS Masih Jauh dari Potensi

“Semakin banyak zakat dikeluarkan, penerima manfaatnya juga lebih banyak lagi,” tuturnya. Sejauh ini, ungkap dia, zakat yang dikelola UPZ memang sebatas lembaga di bawah naungan Kemenag. Sebab, kabupaten Lamongan belum memiliki Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang mengelola zakat pegawai. Sehingga pengelolaan masih belum bisa maksimal. Yitno memastikan, ketika ada lembaga khusus pengelola zakat pegawai, kesadaran untuk melakukan zakat akan semakin besar.

Karena pengelolaan keuangan bisa dipertanggung jawabkan. Dia menambahkan, untuk membentuk lembaga khusus harus mendapatkan persetujuan/rekomendasi pusat. Informasi yang diterima, rekomendasi tersebut sudah turun, tinggal menunggu pelantikan. “Semoga bisa segera dilantik, supaya pengelolaan zakat bisa lebih baik,” tukasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/