alexametrics
24 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Muncul Rp 25 Juta di Sidang Saddil

KOTA – Saddil Ramdani, 20, kemarin (1/4) berada di Lamongan. Pemain timnas PSSI ini bukan ingin balik lagi, bergabung dengan Persela. Namun, dia menjalani persidangan kembali kasus dugaan penganiayaan terhadap mantan pacarnya, Anugrah Sekar Rukmi, 20.

Mengenakan kaos oblong hitam dan celana jins sobek-sobek, Saddil duduk di ruang sidang dengan didampingi dua penasihat hukumnya.

Dia menyimak dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Andhika Nugraha Triputra. Pemain sepak bola asal Kendari itu didakwa melanggar pasal 351 ayat 1 KUHP.

Setelah mendengar dakwaan, Saddil dan kuasa hukumnya berencana mengajukan pembelaan minggu depan.

Selain pembacaan dakwaan, sidang di ruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Lamongan itu juga menggelar pemeriksaan saksi. JPU menghadirkan Anugrah Sekar Rukmi dan ibunya Mawar Suswari, 51.

Di hadapan Ketua Majelis Hakim Muhammad Sainal serta anggotanya M. Aunur Rofiq dan Agusty Hadi Widarto, Sekar menceritakan peristiwa penganiayaan yang menimpanya.

Versi Sekar, dirinya bermaksud menemui Saddil untuk memertanyakan status hubungan di antara keduanya. Sebab, terjadi lost contact beberapa minggu.

Selanjutnya, terjadi cekcok. Saddil meminta waktu untuk menelepon ibunya. Sekar juga. Saat perempuan asal Jombang ini akan menghubungi Mawar, dia mengklaim tiba-tiba dipukul Saddil.

Baca Juga :  Nama Panggung itu Penting

‘’Saya dipukul kurang lebih enam kali hingga jatuh tersungkur. Kemudian paha saya ditendang. Tidak ada seorang pun yang melihat peristiwa itu,’’ kata Sekar.  

Hakim sempat menanyakan perihal pencabutan laporan di kepolisian. Sekar berdalih, pencabutan itu dilakukan karena Saddil dan orang tuanya telah meminta maaf serta membuat kesepakatan damai.

Namun, hal itu dinilainya tidak berlangsung lama. Saat melihat Saddil liburan dan berfoto dengan perempuan lain di akun instagram, Sekar kecewa. Dia mantap melanjutkan kasus ini.

‘’Bisa-bisanya dia bersenang-senang sedangkan saya harus menanggung malu. Tidak ada itikad baik dari Saddil, semua kontak saya dan keluarga diblokir. Saya tidak meminta balikan, hanya hubungan baik saja,’’ ujarnya.

JPU dan penasihat hukum terdakwa sama-sama menyinggung uang santunan yang diduga pernah diterima Sekar dan Mawar. Sekar mengaku tidak pernah mendapat santunan dari pihak manapun. Saat penasihat hukum menunjukkan foto Mawar bersama dua laki-laki yang menyerahkan amplop, Sekar tetap mengaku tidak tahu peristiwa yang terjadi di teras rumahnya itu.

Pertanyaan yang sama juga dilontarkan kepada ibunya. Namun, Mawar membuat pengakuan. Dia menerima uang tersebut dari pihak kepolisian untuk santunan pengobatan anaknya.

Baca Juga :  Mimpikan Jadi Model – Penyanyi

‘’Jumlahnya Rp 25 juta. Uang itu diberikan dua polisi yang mengantar saya dan Sekar dari Polres Lamongan pulang ke rumah. Mereka juga bilang ini ada biaya pengobatan dari polisi,’’ ujar Mawar dalam persidangan tersebut.

‘’Jadi Sekar seharusnya tahu kalau ada pemberian santunan itu ?,’’ tanya JPU.

‘’Tahu. Tapi yang kita tahu itu santunan dari polisi, bukan dari Saddil,’’ jawabnya.

Hakim juga menanyakan perihal pencabutan laporan di kepolisian kepada Mawar. Saat ditunjukkan bukti berita acara pemeriksaan (BAP) terkait pencabutan laporan tersebut, Mawar dengan tegas tidak pernah menandatangani surat tersebut. Apalagi tanda tangan di surat itu tidak sama dengan tanda tangannya.

‘’Seingat saya tidak pernah tanda tangan sampai berlembar-lembar seperti ini. Saya hanya pernah tanda tangan satu kali di Polres. Ketika saya berulang kali minta salinan suratnya di kepolisian dan kejaksaan, tidak pernah diberikan,’’ sanggahnya dengan nada tinggi.

Hakim memutuskan akan mengonfrontasi Mawar, penyidik kepolisian, dan kejaksaan terkait pernyataan Mawar tersebut. Sebab ada kejanggalan dalam berita acara pemeriksaan dan surat pencabutan laporan yang tidak diakui oleh Mawar.

KOTA – Saddil Ramdani, 20, kemarin (1/4) berada di Lamongan. Pemain timnas PSSI ini bukan ingin balik lagi, bergabung dengan Persela. Namun, dia menjalani persidangan kembali kasus dugaan penganiayaan terhadap mantan pacarnya, Anugrah Sekar Rukmi, 20.

Mengenakan kaos oblong hitam dan celana jins sobek-sobek, Saddil duduk di ruang sidang dengan didampingi dua penasihat hukumnya.

Dia menyimak dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Andhika Nugraha Triputra. Pemain sepak bola asal Kendari itu didakwa melanggar pasal 351 ayat 1 KUHP.

Setelah mendengar dakwaan, Saddil dan kuasa hukumnya berencana mengajukan pembelaan minggu depan.

Selain pembacaan dakwaan, sidang di ruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Lamongan itu juga menggelar pemeriksaan saksi. JPU menghadirkan Anugrah Sekar Rukmi dan ibunya Mawar Suswari, 51.

Di hadapan Ketua Majelis Hakim Muhammad Sainal serta anggotanya M. Aunur Rofiq dan Agusty Hadi Widarto, Sekar menceritakan peristiwa penganiayaan yang menimpanya.

Versi Sekar, dirinya bermaksud menemui Saddil untuk memertanyakan status hubungan di antara keduanya. Sebab, terjadi lost contact beberapa minggu.

Selanjutnya, terjadi cekcok. Saddil meminta waktu untuk menelepon ibunya. Sekar juga. Saat perempuan asal Jombang ini akan menghubungi Mawar, dia mengklaim tiba-tiba dipukul Saddil.

Baca Juga :  Masuk Kerja Dibatasi, Gaji Tetap Harus Dibayar Penuh

‘’Saya dipukul kurang lebih enam kali hingga jatuh tersungkur. Kemudian paha saya ditendang. Tidak ada seorang pun yang melihat peristiwa itu,’’ kata Sekar.  

Hakim sempat menanyakan perihal pencabutan laporan di kepolisian. Sekar berdalih, pencabutan itu dilakukan karena Saddil dan orang tuanya telah meminta maaf serta membuat kesepakatan damai.

Namun, hal itu dinilainya tidak berlangsung lama. Saat melihat Saddil liburan dan berfoto dengan perempuan lain di akun instagram, Sekar kecewa. Dia mantap melanjutkan kasus ini.

‘’Bisa-bisanya dia bersenang-senang sedangkan saya harus menanggung malu. Tidak ada itikad baik dari Saddil, semua kontak saya dan keluarga diblokir. Saya tidak meminta balikan, hanya hubungan baik saja,’’ ujarnya.

JPU dan penasihat hukum terdakwa sama-sama menyinggung uang santunan yang diduga pernah diterima Sekar dan Mawar. Sekar mengaku tidak pernah mendapat santunan dari pihak manapun. Saat penasihat hukum menunjukkan foto Mawar bersama dua laki-laki yang menyerahkan amplop, Sekar tetap mengaku tidak tahu peristiwa yang terjadi di teras rumahnya itu.

Pertanyaan yang sama juga dilontarkan kepada ibunya. Namun, Mawar membuat pengakuan. Dia menerima uang tersebut dari pihak kepolisian untuk santunan pengobatan anaknya.

Baca Juga :  Demerson Mulai Gabung Latihan

‘’Jumlahnya Rp 25 juta. Uang itu diberikan dua polisi yang mengantar saya dan Sekar dari Polres Lamongan pulang ke rumah. Mereka juga bilang ini ada biaya pengobatan dari polisi,’’ ujar Mawar dalam persidangan tersebut.

‘’Jadi Sekar seharusnya tahu kalau ada pemberian santunan itu ?,’’ tanya JPU.

‘’Tahu. Tapi yang kita tahu itu santunan dari polisi, bukan dari Saddil,’’ jawabnya.

Hakim juga menanyakan perihal pencabutan laporan di kepolisian kepada Mawar. Saat ditunjukkan bukti berita acara pemeriksaan (BAP) terkait pencabutan laporan tersebut, Mawar dengan tegas tidak pernah menandatangani surat tersebut. Apalagi tanda tangan di surat itu tidak sama dengan tanda tangannya.

‘’Seingat saya tidak pernah tanda tangan sampai berlembar-lembar seperti ini. Saya hanya pernah tanda tangan satu kali di Polres. Ketika saya berulang kali minta salinan suratnya di kepolisian dan kejaksaan, tidak pernah diberikan,’’ sanggahnya dengan nada tinggi.

Hakim memutuskan akan mengonfrontasi Mawar, penyidik kepolisian, dan kejaksaan terkait pernyataan Mawar tersebut. Sebab ada kejanggalan dalam berita acara pemeriksaan dan surat pencabutan laporan yang tidak diakui oleh Mawar.

Artikel Terkait

Most Read

PTMSI Perkuat Turnamen Internal

Stok Vaksin Aman

Artikel Terbaru


/