alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Perilaku BABS Masih Tinggi

BOJONEGORO – Perilaku buang air besar sembarangan (BABS) di wilayah Bojonegoro masih cukup tinggi. Berdasarkan data dinas desehatan (dinkes) setempat, dari 430 desa/ kelurahan yang ada, baru 276 desa/kelurahan atau 65 persen yang telah berstatus open defecation free (ODF) atau bebas dari BABS.

Berarti masih 154 desa/kelurahan atau 35 persen yang masih ada warganya berperilaku BABS. Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro, baru 77,53 persen rumah tangga yang memiliki fasilitas BAB sendiri di rumah. Sedangkan, sebanyak 9,14 persen masih menggunakan fasilitas BAB secara bersama, dan 13,32 persen rumah tangga yang menggunakan mandi, cuci, kakus (MCK) umum atau tidak memiliki fasilitas BAB.

Baca Juga :  Tak Sesuai Ketentuan Disdik, 43 Persen Guru PAUD Masih Lulusan SMA

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Bojonegoro, dr Ahmad Hernowo tidak membantah data tersebut. “Kami sudah buat perencanaan, tahun ini bisa tuntas 100 persen desa ODF,” katanya minggu (1/4). Dia mengungkapkan, gerakan ODF mampu menanggulangi gizi buruk dan menciptakan akses air bersih. Namun, hingga sekarang (minggu, red) gerakan tersebut belum tuntas 100 persen.

“Pihak kami hanya sebatas mengimbau dan mendorong kepada masyarakat agar sadar pentingnya ODF,” tuturnya. Menurut dia, masih banyak masyarakat Bojonegoro yang rendah kesadarannya terhadap ODF. Per Maret lalu, baru enam kecamatan yang mendeklarasikan sebagai kecamatan ODF. Yakni, Kecamatan Baureno, Bojonegoro, Dander, Ngambon, Gayam, dan Sumberrejo.

Capaian kecamatan ODF paling rendah ialah Gondang 14,3 persen dan Kedungadem, 17,4 persen. “Kami optimistis seluruh desa yang berjumlah 430 desa bisa tuntas ODF tahun ini,” tandasnya. Dia menambahkan, kebiasaan masyarakat yang masih kerap BABS di sungai merupakan perilaku tidak sehat.

Baca Juga :  Razia Kos, Tiga Orang Tidak Bawa KTP

Apabila terus dibiarkan, akan mengkontaminasi lingkungan, tanah, udara, dan air. “Gizi buruk dan akses air bersih erat kaitannya dengan budaya masyarakat yang masih melakukan mandi, cuci, dan BAB di sungai,” terangnya.

BOJONEGORO – Perilaku buang air besar sembarangan (BABS) di wilayah Bojonegoro masih cukup tinggi. Berdasarkan data dinas desehatan (dinkes) setempat, dari 430 desa/ kelurahan yang ada, baru 276 desa/kelurahan atau 65 persen yang telah berstatus open defecation free (ODF) atau bebas dari BABS.

Berarti masih 154 desa/kelurahan atau 35 persen yang masih ada warganya berperilaku BABS. Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro, baru 77,53 persen rumah tangga yang memiliki fasilitas BAB sendiri di rumah. Sedangkan, sebanyak 9,14 persen masih menggunakan fasilitas BAB secara bersama, dan 13,32 persen rumah tangga yang menggunakan mandi, cuci, kakus (MCK) umum atau tidak memiliki fasilitas BAB.

Baca Juga :  Kalangan Legislatif Pesimis Proyek Usai Tiga Minggu

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Bojonegoro, dr Ahmad Hernowo tidak membantah data tersebut. “Kami sudah buat perencanaan, tahun ini bisa tuntas 100 persen desa ODF,” katanya minggu (1/4). Dia mengungkapkan, gerakan ODF mampu menanggulangi gizi buruk dan menciptakan akses air bersih. Namun, hingga sekarang (minggu, red) gerakan tersebut belum tuntas 100 persen.

“Pihak kami hanya sebatas mengimbau dan mendorong kepada masyarakat agar sadar pentingnya ODF,” tuturnya. Menurut dia, masih banyak masyarakat Bojonegoro yang rendah kesadarannya terhadap ODF. Per Maret lalu, baru enam kecamatan yang mendeklarasikan sebagai kecamatan ODF. Yakni, Kecamatan Baureno, Bojonegoro, Dander, Ngambon, Gayam, dan Sumberrejo.

Capaian kecamatan ODF paling rendah ialah Gondang 14,3 persen dan Kedungadem, 17,4 persen. “Kami optimistis seluruh desa yang berjumlah 430 desa bisa tuntas ODF tahun ini,” tandasnya. Dia menambahkan, kebiasaan masyarakat yang masih kerap BABS di sungai merupakan perilaku tidak sehat.

Baca Juga :  Selesaikan Satu Lajur Jalan

Apabila terus dibiarkan, akan mengkontaminasi lingkungan, tanah, udara, dan air. “Gizi buruk dan akses air bersih erat kaitannya dengan budaya masyarakat yang masih melakukan mandi, cuci, dan BAB di sungai,” terangnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/