alexametrics
24.5 C
Bojonegoro
Tuesday, August 9, 2022

12 Tahun Membangun Generasi Qurani dan Deklarasi Sekolah Ramah Anak

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insan Permata Bojonegoro tiap tahunnya selalu membuat gebrakan positif. Fokusnya sebagai sekolah yang berkarakter kini mendeklarasikan diri sebagai sekolah ramah anak di usianya yang sudah 12 tahun. SDIT Insan Permata Bojonegoro ingin selalu menjadi wadah mencetak siswa-siswa berkarakter qurani dan berprestasi.

Kepala SDIT Insan Permata Bojonegoro, Siswandi mengungkapkan dalam sambutannya di acara Pekan Ceria Permata pada Sabtu lalu (29/2), bahwa di usia 12 tahun ini tak hanya digunakan untuk perayaan ulang tahun saja. Tetapi ada tambahan berupa deklarasi sekolah ramah anak (SRA) yang dicanangkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.

“Bagi kami sudah semestinya sekolah itu ramah anak. Ada dua hal yang sangat penting dari ramah anak yaitu mengerti kebutuhan anak dan  melindungi hak-hak anak,” ujarnya.

Di bawah naungan Yayasan Bina Umat Bojonegoro, Dinas Pendidikan Bojonegoro, dan jaringan sekolah islam terpadu (JSIT), SDIT Insan Permata Bojonegoro ingin membangun brand image sekolah kehidupan. Sekolah yang mengajarkan pentingnya arti sebuah kehidupan. Setiap kegiatan yang dilakukan harus menyentuh sisi-sisi kehidupan

Baca Juga :  Terlibat Parpol, PPL Tak Dilantik

“Tentunya kehidupan yang islami. Ada tujuh karakter kehidupan yang ingin kami bangun yaitu akidah yang lurus, ibadah yang benar, akhlak yang baik, disiplin, wawasan yang luas, tuntas al qur’an tahfidz, dan memiliki keterampilan hidup,” jelasnya.

Selain itu, sekolah yang dipimpinnya tersebut juga mendapatkan juara 1 lomba budaya mutu kategori manajemen berbasis sekolah (MBS)  dan menjadi sekolah adiwiyata tingkat kabupaten tahun ini. Pun harapannya tahun ini juga bisa ditunjuk untuk mengikuti sekolah ramah anak tingkat nasional dan akan mengikuti adiwiyata tingkat provinsi.

Ke depanya SDIT Insan Permata Bojonegoro akan menyiapkan diri menjadi sekolah unggul di tingkat kabupaten, provinsi, nasional, dan internasional. 

“Mohon doa restu semoga diberikan kemudahan untuk memberikan yang terbaik untuk generasi emas Indonesia di masa yang akan datang,” ujarnya.

Baca Juga :  Kurangi Antrean Pendaftaran, RS NU Tuban Perkenalkan Mesin APPM

Ketua Yayasan Bina Ummat Bojonegoro, dr. Widi Hermawansjah juga sangat mengapresiasi perkembangan SDIT Insan Permata Bojonegoro. Ia yakin SDIT Insan Permata Bojonegoro mampu menjadi sekolah ramah anak. Apalagi sejak tiga tahun lalu, SDIT Insan Permata Bojonegoro telah menjadi sekolah inklusif, yang mana menerima siswa berkebutuhan khusus.

“Semoga semakin maju SDIT Insan Permata Bojonegoro, layaknya slogan Yayasan Bina Ummat Bojonegoro yaitu unggul dan bermanfaat,” ujarnya.

Adapun arahan dari salah satu fasilitator SRA sekaligus penggerak Asosiasi Pendidik Inklusif dan Ramah Anak (Aspirasi), Bekti Prastyani. Ia menyampaikan bahwa dengan SRA, para murid menjadi senang belajar, guru-guru akan tenang dalam mengajar, dan orang tua menjadi bahagia. Anak-anak perlu diberikan, dipenuhi, dan dihormati hak-haknya. 

“Diantaranya, hak untuk hidup, bermain, tumbuh dan bahagia, serta hak untuk mendapatkan perlakuan sama bagi anak berkebutuhan khusus,” tambahnya.  (*/bgs)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insan Permata Bojonegoro tiap tahunnya selalu membuat gebrakan positif. Fokusnya sebagai sekolah yang berkarakter kini mendeklarasikan diri sebagai sekolah ramah anak di usianya yang sudah 12 tahun. SDIT Insan Permata Bojonegoro ingin selalu menjadi wadah mencetak siswa-siswa berkarakter qurani dan berprestasi.

Kepala SDIT Insan Permata Bojonegoro, Siswandi mengungkapkan dalam sambutannya di acara Pekan Ceria Permata pada Sabtu lalu (29/2), bahwa di usia 12 tahun ini tak hanya digunakan untuk perayaan ulang tahun saja. Tetapi ada tambahan berupa deklarasi sekolah ramah anak (SRA) yang dicanangkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.

“Bagi kami sudah semestinya sekolah itu ramah anak. Ada dua hal yang sangat penting dari ramah anak yaitu mengerti kebutuhan anak dan  melindungi hak-hak anak,” ujarnya.

Di bawah naungan Yayasan Bina Umat Bojonegoro, Dinas Pendidikan Bojonegoro, dan jaringan sekolah islam terpadu (JSIT), SDIT Insan Permata Bojonegoro ingin membangun brand image sekolah kehidupan. Sekolah yang mengajarkan pentingnya arti sebuah kehidupan. Setiap kegiatan yang dilakukan harus menyentuh sisi-sisi kehidupan

Baca Juga :  Aset Syamsul di Lumajang Disita

“Tentunya kehidupan yang islami. Ada tujuh karakter kehidupan yang ingin kami bangun yaitu akidah yang lurus, ibadah yang benar, akhlak yang baik, disiplin, wawasan yang luas, tuntas al qur’an tahfidz, dan memiliki keterampilan hidup,” jelasnya.

Selain itu, sekolah yang dipimpinnya tersebut juga mendapatkan juara 1 lomba budaya mutu kategori manajemen berbasis sekolah (MBS)  dan menjadi sekolah adiwiyata tingkat kabupaten tahun ini. Pun harapannya tahun ini juga bisa ditunjuk untuk mengikuti sekolah ramah anak tingkat nasional dan akan mengikuti adiwiyata tingkat provinsi.

Ke depanya SDIT Insan Permata Bojonegoro akan menyiapkan diri menjadi sekolah unggul di tingkat kabupaten, provinsi, nasional, dan internasional. 

“Mohon doa restu semoga diberikan kemudahan untuk memberikan yang terbaik untuk generasi emas Indonesia di masa yang akan datang,” ujarnya.

Baca Juga :  Mural Sugondo Diapresiasi DPR KP

Ketua Yayasan Bina Ummat Bojonegoro, dr. Widi Hermawansjah juga sangat mengapresiasi perkembangan SDIT Insan Permata Bojonegoro. Ia yakin SDIT Insan Permata Bojonegoro mampu menjadi sekolah ramah anak. Apalagi sejak tiga tahun lalu, SDIT Insan Permata Bojonegoro telah menjadi sekolah inklusif, yang mana menerima siswa berkebutuhan khusus.

“Semoga semakin maju SDIT Insan Permata Bojonegoro, layaknya slogan Yayasan Bina Ummat Bojonegoro yaitu unggul dan bermanfaat,” ujarnya.

Adapun arahan dari salah satu fasilitator SRA sekaligus penggerak Asosiasi Pendidik Inklusif dan Ramah Anak (Aspirasi), Bekti Prastyani. Ia menyampaikan bahwa dengan SRA, para murid menjadi senang belajar, guru-guru akan tenang dalam mengajar, dan orang tua menjadi bahagia. Anak-anak perlu diberikan, dipenuhi, dan dihormati hak-haknya. 

“Diantaranya, hak untuk hidup, bermain, tumbuh dan bahagia, serta hak untuk mendapatkan perlakuan sama bagi anak berkebutuhan khusus,” tambahnya.  (*/bgs)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/