alexametrics
24.2 C
Bojonegoro
Thursday, May 19, 2022

Memandikan Lansia hingga Mengajak Wisata

Mirisnya kesejahteraan para nenek dan kakek lanjut usia menggerakkan hati Muhammad Sobri. Bersama mahasiswa mendampingi kakek dan nenek lebih bahagia. Mengajak wisata dan bercerita.

Ruangan sempit ini menjadi aktivitas mendiskusikan pendampingan terhadap kakek dan nenek usia lanjut atau biasa disebut lansia.

Ruangan berukuran 3×3 menjadi jujukan Mumahmmad Sobri dengan para relawan pendamping lansia.

Aktivitasnya masih fokus mendampingi lansia di Kelurahan Ledok Kulon, Bojonegoro. Dia menceritakan, dari 100 lansia di kelurahan dialiri Sungai Bengawan Solo itu, ada 20 yang kondisinya memprihatinkan. Pendampingan lansia dilakukan lebih satu tahun ini hingga tersisa 15 lansia, karena sisanya meninggal dunia.

Sambil membenahi letak kacamatanya, Sobri sapaannya menceritakan kondisi lansia mereka dampingi. Ada lansia memiliki keluarga. Ada juga tinggal sebatang kara dengan kondisi rumah memprihatinkan.

‘’Saya dan teman-teman ingin mengetuk hati dari keluarga lansia sendiri. Apakah tidak terenyuh hatinya, orang tua mereka sendiri dirawat orang lain?’’ ucapnya pilu.

Beberapa lansia ada yang tinggal memisah dengan sanak saudaranya.

‘’Jadi orang tuanya ditinggal sendirian di rumah lain. Sementara anak-anaknya di rumah yang berbeda. Tapi wilayahnya ya masih berdekatan,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Kolam Air Mancur Dipenuhi Lumut

Pendampingan lansia mulai dari kesehatan. Mengukur berkala kadar kolesterol, gula darah, hingga tekanan darah para lansia. ‘’Hal itu kita lakukan langsung ke rumah para lansia. Biasanya sehari rekan perawat bisa mengunjungi tiga orang lansia. Tergantung apakah hari itu lansianya butuh teman bicara atau tidak,’’ kata pria juga dosen tersebut.

Jika lansia butuh teman bicara, bisa memakan waktu hampir tiga jam. ‘’Mereka hanya butuh didengarkan saja. Juga memandikan dan membersihkan tempat tinggalnya. Ada juga lansia sudah lama tidak mandi,’’ paparnya.

Lanjut Sobri, pendampingan untuk pasive income lansia juga diberikan. Sobri mengajarkan pada lansia memiliki tabungan di hari tua.

 ‘’Jadi kita mengajarkan bercocok tanam. Hasilnya bisa dijual atau untuk buah tangan anak-anaknya. Biasanya lansia suka memberikan semua hal dia miliki pada anak cucu. Sehingga hari tuanya sudah tidak bermartabat lagi,’’ ucap pria tinggal di Ledok Kulon itu.

Pendampingan ibadah juga perlu karena rerata lansia tidak pandai mengaji dan salat. ‘’Kita ajarkan pelan-pelan huruf hijaiyah,’’ sambil menunjukkan video lansia terbata-bata mengucapkan huruf hijaiyah.

Baca Juga :  Selamat Menjalankan Tugas Sebagai Wakil Rakyat

Bahkan, Sobri mengajak para lansia untuk wisata keluar. ‘’Sekalian salat bersama lansia yang lain. Kalau diajak jalan-jalan pasti mereka semangat. Biasanya jarang cerita, jadi banyak cerita karena kumpul bersama teman-temannya,’’ ucapnya ikut semangat.

Menurutnya, para lansia hanya butuh kasih sayang dan perhatian. ‘’Kalau hati mereka senang. Fisiknya jadi ikut membaik,’’ ucap dosen hobi bersepeda di kala pagi itu.

Sementara, sumber dana dari pendamping lansia saat ini terbatas dari donatur. ‘’Kita juga punya donatur tetap untuk keberlangsungan kegiatan. Untuk beli obat atau meracik obat herbal juga membutuhkan biaya. Sponsor tetap untuk operasional pendampingan adalah BMT Amanah dan KSPPS Akas,’’ katanya.

Sobri mengaku kesulitan mencari perawat home care yang berdedikasi. ‘’Sampai saat ini, saya sudah mengubungi sekolah-sekolah keperawatan meminta bantuan tenaga perawat. Tapi tidak ada kabarnya. Sebetulnya ada tiga perawat. Namun yang satu ditugaskan di luar kota,’’ ucap lelaki hobi membaca buku ini.

Sementara sampai saat ini bantuan perawat berasal dari mahasiswa Stikes Maboro. ‘’Baru dua orang ini saja yang bersedia merawat lansia di sini,’’ jelasnya.

Mirisnya kesejahteraan para nenek dan kakek lanjut usia menggerakkan hati Muhammad Sobri. Bersama mahasiswa mendampingi kakek dan nenek lebih bahagia. Mengajak wisata dan bercerita.

Ruangan sempit ini menjadi aktivitas mendiskusikan pendampingan terhadap kakek dan nenek usia lanjut atau biasa disebut lansia.

Ruangan berukuran 3×3 menjadi jujukan Mumahmmad Sobri dengan para relawan pendamping lansia.

Aktivitasnya masih fokus mendampingi lansia di Kelurahan Ledok Kulon, Bojonegoro. Dia menceritakan, dari 100 lansia di kelurahan dialiri Sungai Bengawan Solo itu, ada 20 yang kondisinya memprihatinkan. Pendampingan lansia dilakukan lebih satu tahun ini hingga tersisa 15 lansia, karena sisanya meninggal dunia.

Sambil membenahi letak kacamatanya, Sobri sapaannya menceritakan kondisi lansia mereka dampingi. Ada lansia memiliki keluarga. Ada juga tinggal sebatang kara dengan kondisi rumah memprihatinkan.

‘’Saya dan teman-teman ingin mengetuk hati dari keluarga lansia sendiri. Apakah tidak terenyuh hatinya, orang tua mereka sendiri dirawat orang lain?’’ ucapnya pilu.

Beberapa lansia ada yang tinggal memisah dengan sanak saudaranya.

‘’Jadi orang tuanya ditinggal sendirian di rumah lain. Sementara anak-anaknya di rumah yang berbeda. Tapi wilayahnya ya masih berdekatan,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Usai Rapat, Janji Daftarkan ke Liga 3

Pendampingan lansia mulai dari kesehatan. Mengukur berkala kadar kolesterol, gula darah, hingga tekanan darah para lansia. ‘’Hal itu kita lakukan langsung ke rumah para lansia. Biasanya sehari rekan perawat bisa mengunjungi tiga orang lansia. Tergantung apakah hari itu lansianya butuh teman bicara atau tidak,’’ kata pria juga dosen tersebut.

Jika lansia butuh teman bicara, bisa memakan waktu hampir tiga jam. ‘’Mereka hanya butuh didengarkan saja. Juga memandikan dan membersihkan tempat tinggalnya. Ada juga lansia sudah lama tidak mandi,’’ paparnya.

Lanjut Sobri, pendampingan untuk pasive income lansia juga diberikan. Sobri mengajarkan pada lansia memiliki tabungan di hari tua.

 ‘’Jadi kita mengajarkan bercocok tanam. Hasilnya bisa dijual atau untuk buah tangan anak-anaknya. Biasanya lansia suka memberikan semua hal dia miliki pada anak cucu. Sehingga hari tuanya sudah tidak bermartabat lagi,’’ ucap pria tinggal di Ledok Kulon itu.

Pendampingan ibadah juga perlu karena rerata lansia tidak pandai mengaji dan salat. ‘’Kita ajarkan pelan-pelan huruf hijaiyah,’’ sambil menunjukkan video lansia terbata-bata mengucapkan huruf hijaiyah.

Baca Juga :  Helm Karakter Anak Diminati 

Bahkan, Sobri mengajak para lansia untuk wisata keluar. ‘’Sekalian salat bersama lansia yang lain. Kalau diajak jalan-jalan pasti mereka semangat. Biasanya jarang cerita, jadi banyak cerita karena kumpul bersama teman-temannya,’’ ucapnya ikut semangat.

Menurutnya, para lansia hanya butuh kasih sayang dan perhatian. ‘’Kalau hati mereka senang. Fisiknya jadi ikut membaik,’’ ucap dosen hobi bersepeda di kala pagi itu.

Sementara, sumber dana dari pendamping lansia saat ini terbatas dari donatur. ‘’Kita juga punya donatur tetap untuk keberlangsungan kegiatan. Untuk beli obat atau meracik obat herbal juga membutuhkan biaya. Sponsor tetap untuk operasional pendampingan adalah BMT Amanah dan KSPPS Akas,’’ katanya.

Sobri mengaku kesulitan mencari perawat home care yang berdedikasi. ‘’Sampai saat ini, saya sudah mengubungi sekolah-sekolah keperawatan meminta bantuan tenaga perawat. Tapi tidak ada kabarnya. Sebetulnya ada tiga perawat. Namun yang satu ditugaskan di luar kota,’’ ucap lelaki hobi membaca buku ini.

Sementara sampai saat ini bantuan perawat berasal dari mahasiswa Stikes Maboro. ‘’Baru dua orang ini saja yang bersedia merawat lansia di sini,’’ jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Kenaikan Gaji PNS Belum Jelas

Bendera Hitam Masih Terpasang

Awalnya Sempat Mengagetkan Keluarga

Artikel Terbaru


/