alexametrics
33.2 C
Bojonegoro
Tuesday, August 9, 2022

Harga Telur Turun, Harga Pakan Naik

Radar Bojonegoro – Peternak ayam petelur resah karena harga telur tren turun. Peternak semakin kelimpungan karena harga pakan ayam justru naik. Peternak lokal tak bisa menentukan harga telur sendiri. Serbuan pasokan telur dari Kabupaten Blitar dan Kediri begitu masif dan harganya lebih rendah.

Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) memicu telur dari dua kabupaten itu tidak bisa masuk ke kota-kota besar. Sehingga, pilihannya menyerang ke kota sekitar, termasuk Bojonegoro.

Peternak berharap pemerintah menstabilkan harga pakan agar tak terus merugi. Jumain salah satu peternak ayam mengatakan, harga telur di tingkat peternak sekitar Rp 18.500 per kilogram.

Bahkan sempat menyentuh harga Rp 16.800. Biasanya harganya sekitar Rp 20.000 atau lebih. Peternak asal Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, itu terpaksa ikut menurunkan harga telur produksinya dan mengikuti harga telur dari Kabupaten Blitar dan Kediri.

Banyak sales telur dari kedua wilayah tersebut masuk ke Bojonegoro. Sehingga tidak bisa menentukan harga sendiri. “Jika membuat harga sendiri tidak akan laku,” keluhnya kemarin.

Baca Juga :  Terinspirasi Limbah Pohon Pisang Berserakan

Keadaan itu diperparah naiknya harga pakan ayam. Dari Rp 285.000 per karung sekarang mencapai Rp 320.000. “Sempat Rp 289.500 per karung dan Rp 310.000 per karung,” jelas dia.

Jumain mengaku bingung meminimalisir kerugian akibat harga telur turun, sebaliknya harga pakan justru naik. “Pemerintah perlu menstabilkan harga telur dan mengembalikan harga pakan seperti semula, di bawah Rp 300 ribu per karung,” harapnya.

Kabid Peternakan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro Elfia Nuraini mengatakan, penurunan harga telur tidak hanya terjadi di Bojonegoro, namun di semua daerah. Imbas dari kabupetan penghasil telur seperti Blitar tidak bisa masuk secara maksimal ke Jakarta. “Karena PPKM,” ujarnya. Serta program bantuan pangan nontunai (BNPT) tahun ini belum jelas. Bantuan tersebut biasanya terdapat paket telur.

Baca Juga :  Panwaskab Mengaku Belum Temukan Politik UangĀ 

“Akhirnya banyak telur masuk ke Bojonegoro dengan harga di bawah break event point (BEP) di Bojonegoro,” jelasnya. Elfia membenarkan harga pakan ternak ayam petelur naik, khususnya konsentrat. Kenaikan terjadi karena banyak bahan impor. “Terkait stok jagung (bahan pakan) Bojonegoro tidak terpengaruh,” ungkapnya.

Di Bojonegoro terdapat sekitar 80 peternak ayam petelur. Untuk bisa bertahan terdapat beberapa cara bisa dilakukan. Seperti memasarkan telur langsung ke konsumen, pedagang eceran, atau menjual sendiri secara daring kemasan menarik. Sehingga harga bisa lebih tinggi. “Tidak dijual ke pedagang besar,” ujar Elfia.

Selain itu, mengajak asosiasi peternak ayam petelur bergabung dan melakukan pembelian pakan ternak dalam satu pintu ke distributor. Sehingga harga bisa lebih murah. Ditambah memberi pakan campuran daripada pakan jadi pabrikan. “Menggunakan pakan campuran jagung 50 persen, konsentrat 35 persen, dan dedak 15 persen. Sehingga lebih ekonomis,” jelasnya. (irv)

Radar Bojonegoro – Peternak ayam petelur resah karena harga telur tren turun. Peternak semakin kelimpungan karena harga pakan ayam justru naik. Peternak lokal tak bisa menentukan harga telur sendiri. Serbuan pasokan telur dari Kabupaten Blitar dan Kediri begitu masif dan harganya lebih rendah.

Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) memicu telur dari dua kabupaten itu tidak bisa masuk ke kota-kota besar. Sehingga, pilihannya menyerang ke kota sekitar, termasuk Bojonegoro.

Peternak berharap pemerintah menstabilkan harga pakan agar tak terus merugi. Jumain salah satu peternak ayam mengatakan, harga telur di tingkat peternak sekitar Rp 18.500 per kilogram.

Bahkan sempat menyentuh harga Rp 16.800. Biasanya harganya sekitar Rp 20.000 atau lebih. Peternak asal Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, itu terpaksa ikut menurunkan harga telur produksinya dan mengikuti harga telur dari Kabupaten Blitar dan Kediri.

Banyak sales telur dari kedua wilayah tersebut masuk ke Bojonegoro. Sehingga tidak bisa menentukan harga sendiri. “Jika membuat harga sendiri tidak akan laku,” keluhnya kemarin.

Baca Juga :  Mengajar di Negeri Jiran

Keadaan itu diperparah naiknya harga pakan ayam. Dari Rp 285.000 per karung sekarang mencapai Rp 320.000. “Sempat Rp 289.500 per karung dan Rp 310.000 per karung,” jelas dia.

Jumain mengaku bingung meminimalisir kerugian akibat harga telur turun, sebaliknya harga pakan justru naik. “Pemerintah perlu menstabilkan harga telur dan mengembalikan harga pakan seperti semula, di bawah Rp 300 ribu per karung,” harapnya.

Kabid Peternakan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro Elfia Nuraini mengatakan, penurunan harga telur tidak hanya terjadi di Bojonegoro, namun di semua daerah. Imbas dari kabupetan penghasil telur seperti Blitar tidak bisa masuk secara maksimal ke Jakarta. “Karena PPKM,” ujarnya. Serta program bantuan pangan nontunai (BNPT) tahun ini belum jelas. Bantuan tersebut biasanya terdapat paket telur.

Baca Juga :  Pemain Siap Berkompetisi

“Akhirnya banyak telur masuk ke Bojonegoro dengan harga di bawah break event point (BEP) di Bojonegoro,” jelasnya. Elfia membenarkan harga pakan ternak ayam petelur naik, khususnya konsentrat. Kenaikan terjadi karena banyak bahan impor. “Terkait stok jagung (bahan pakan) Bojonegoro tidak terpengaruh,” ungkapnya.

Di Bojonegoro terdapat sekitar 80 peternak ayam petelur. Untuk bisa bertahan terdapat beberapa cara bisa dilakukan. Seperti memasarkan telur langsung ke konsumen, pedagang eceran, atau menjual sendiri secara daring kemasan menarik. Sehingga harga bisa lebih tinggi. “Tidak dijual ke pedagang besar,” ujar Elfia.

Selain itu, mengajak asosiasi peternak ayam petelur bergabung dan melakukan pembelian pakan ternak dalam satu pintu ke distributor. Sehingga harga bisa lebih murah. Ditambah memberi pakan campuran daripada pakan jadi pabrikan. “Menggunakan pakan campuran jagung 50 persen, konsentrat 35 persen, dan dedak 15 persen. Sehingga lebih ekonomis,” jelasnya. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/