alexametrics
23.3 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Suplemen Tulang Mengandung DNA Babi, Hoax atau Fakta?

KOTA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Lamongan memilih menunggu instruksi BPOM terkait temuan dua merek suplemen menggunakan DNA babi. ‘’Saya sudah baca surat pemeriksaan dari BPOM terkait suplemen inisial E dan inisial V mengandung DNA babi. Memang itu kini menjadi viral,’’ tutur Agung, kasi Kefarmasian Dinkes Lamongan. 

Berdasarkan informasi yang diterimanya, terkuaknya dua suplemen itu berdasarkan dari pemantauan rutin yang dilakukan BPOM. Tujuannya, memantau kualitas produk yang sudah memiliki izin edar, serta apakah masih sama seperti saat pendaftaran.

‘’Dari hasil itu, BPOM di Kalimantan menemukan dua produk yang ternyata terindikasi mengandung DNA babi,’’ imbuhnya. Padahal, saat pendaftaran awal, dua suplemen itu tak terdapat kandungan DNA babi.

‘’Seharusnya, kalaupun ada kandungan DNA babi, wajib dimunculkan di kemasan. Sehingga masyarakat tahu jika produk tersebut mengandung DNA babi,’’ ujar Agung saat dikonfirmasi via ponsel. 

Selanjutnya, jelas dia, BPOM menilai ada pelanggaran izin edar yang dilakukan dua produk suplemen tersebut. Akhirnya BPOM menginstruksikan pada seluruh BPOM di seluruh provinsi, agar menarik dua produk tersebut di wilayahnya. 

Baca Juga :  Para Petani Was-Was Harga Gabah Anjlok di Lamongan

‘’Misalnya di Surabaya. Di sana kan ada distributor resminya. Nah, distributor itulah diinstruksikan menarik produknya yang sudah terdistribusi ke sarana (apotek dan toko obat),’’ tutur Agung. 

Dia memastikan kewenangan pengawasan dan registrasi masih di BPOM. Dinkes di kota/kabupaten tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan atau penarikan.

Kecuali, ada instruksi dari BPOM terkait penarikan sebuah produk. ‘’Jadi kami di masing-masing kabupaten masih mengamati,’’ katanya. 

Dia juga tidak mengetahui apakah masih ada dua suplemen mengandung DNA babi tersebut beredar di Lamongan. Sebab, hingga kini pihaknya belum mendapat surat atau instruksi pihak BPOM. 

Agung masih menunggu instruksi yang diberikan instansi pemegang kewenangan. ‘’Dimungkinkan kami akan membantu proses penarikan kalau ada instruksi.

Tapi selama belum ada instruksi, kami tidak boleh melakukan tindakan apapun terkait hal itu,’’ ujarnya. Agung menambahkan, kalaupun nantinya ada instruksi dari BPOM, kewenangan dinkes hanya sebatas karantina produk di beberapa sarana.

Baca Juga :  31 Desa Telat Ajukan Pencairan DD

Penarikan dua produk yang memiliki izin edar tersebut harus mengganti dengan uang. Kecuali, jika produk yang ditarik merupakan produk ilegal yang tak memiliki izin edar atau menjual produk menggunakan kandungan yang dilarang.

‘’Contohnya mengandung PCC. Kemudian BPOM dan dinas turun menarik dan membuat berita acara. Kita tidak ada kewenangan untuk mengganti. Karena sarana memang salah. Tapi ini kan sebaliknya,’’ jelasnya. 

Sejak viralnya temuan BPOM itu, menurut dia, organisasi apoteker di Indonesia sudah menginstruksikan pada anggotanya untuk tidak menjual dua produk suplemen tersebut.

‘’Saya kira sudah diinstruksikan seperti itu. Tapi kita siap bergerak jika ada instruksi dan perintah dari BPOM,’’ tukasnya. 

Seperti diberitakan Jawa Pos kemarin (1/2), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merilis suplemen obat merek Viostin DS dan Enzyplex mengandung DNA babi. Hal itu berdasar hasil pengujian sampel BPOM Mataram kepada BPOM Palangkaraya. 

KOTA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Lamongan memilih menunggu instruksi BPOM terkait temuan dua merek suplemen menggunakan DNA babi. ‘’Saya sudah baca surat pemeriksaan dari BPOM terkait suplemen inisial E dan inisial V mengandung DNA babi. Memang itu kini menjadi viral,’’ tutur Agung, kasi Kefarmasian Dinkes Lamongan. 

Berdasarkan informasi yang diterimanya, terkuaknya dua suplemen itu berdasarkan dari pemantauan rutin yang dilakukan BPOM. Tujuannya, memantau kualitas produk yang sudah memiliki izin edar, serta apakah masih sama seperti saat pendaftaran.

‘’Dari hasil itu, BPOM di Kalimantan menemukan dua produk yang ternyata terindikasi mengandung DNA babi,’’ imbuhnya. Padahal, saat pendaftaran awal, dua suplemen itu tak terdapat kandungan DNA babi.

‘’Seharusnya, kalaupun ada kandungan DNA babi, wajib dimunculkan di kemasan. Sehingga masyarakat tahu jika produk tersebut mengandung DNA babi,’’ ujar Agung saat dikonfirmasi via ponsel. 

Selanjutnya, jelas dia, BPOM menilai ada pelanggaran izin edar yang dilakukan dua produk suplemen tersebut. Akhirnya BPOM menginstruksikan pada seluruh BPOM di seluruh provinsi, agar menarik dua produk tersebut di wilayahnya. 

Baca Juga :  Jadi Kebutuhan, Harga Springbed Terus Mengalami Kenaikan

‘’Misalnya di Surabaya. Di sana kan ada distributor resminya. Nah, distributor itulah diinstruksikan menarik produknya yang sudah terdistribusi ke sarana (apotek dan toko obat),’’ tutur Agung. 

Dia memastikan kewenangan pengawasan dan registrasi masih di BPOM. Dinkes di kota/kabupaten tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan atau penarikan.

Kecuali, ada instruksi dari BPOM terkait penarikan sebuah produk. ‘’Jadi kami di masing-masing kabupaten masih mengamati,’’ katanya. 

Dia juga tidak mengetahui apakah masih ada dua suplemen mengandung DNA babi tersebut beredar di Lamongan. Sebab, hingga kini pihaknya belum mendapat surat atau instruksi pihak BPOM. 

Agung masih menunggu instruksi yang diberikan instansi pemegang kewenangan. ‘’Dimungkinkan kami akan membantu proses penarikan kalau ada instruksi.

Tapi selama belum ada instruksi, kami tidak boleh melakukan tindakan apapun terkait hal itu,’’ ujarnya. Agung menambahkan, kalaupun nantinya ada instruksi dari BPOM, kewenangan dinkes hanya sebatas karantina produk di beberapa sarana.

Baca Juga :  Dipanasi, Eh Mobil Malah Terbakar

Penarikan dua produk yang memiliki izin edar tersebut harus mengganti dengan uang. Kecuali, jika produk yang ditarik merupakan produk ilegal yang tak memiliki izin edar atau menjual produk menggunakan kandungan yang dilarang.

‘’Contohnya mengandung PCC. Kemudian BPOM dan dinas turun menarik dan membuat berita acara. Kita tidak ada kewenangan untuk mengganti. Karena sarana memang salah. Tapi ini kan sebaliknya,’’ jelasnya. 

Sejak viralnya temuan BPOM itu, menurut dia, organisasi apoteker di Indonesia sudah menginstruksikan pada anggotanya untuk tidak menjual dua produk suplemen tersebut.

‘’Saya kira sudah diinstruksikan seperti itu. Tapi kita siap bergerak jika ada instruksi dan perintah dari BPOM,’’ tukasnya. 

Seperti diberitakan Jawa Pos kemarin (1/2), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merilis suplemen obat merek Viostin DS dan Enzyplex mengandung DNA babi. Hal itu berdasar hasil pengujian sampel BPOM Mataram kepada BPOM Palangkaraya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/