alexametrics
24.1 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Khawatir Anjlok Pasca Kebijakan Impor

TUBAN – Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Tuban memastikan, kebutuhan garam di Tuban tercukupi dari produksi petani garam lokal. Termasuk untuk sejumlah perusahaan. Bahkan, produksi garam di Tuban yang ditaksir sekitar 35 ribu ton per tahun masuk kategori surplus.

‘’Yang pasti, hasil produski garam kita sudah melebihi dari kebutuhan sendiri,’’ kata Kepala Diskoperindag Tuban Agus Wijaya.Berapa angka persentase surplus garam di Tuban? Mantan kabag humas dan protokol setda ini belum bisa membeberkan datanya.

‘’Untuk data berapa pastinya (kebutuhan garam di Tuban, Red), kita belum memiliki yang valid,’’ kata dia yang berjanji segera mengiventarisir kebutuhan riil di Bumi Wali.

Dengan produksi yang surplus, maka Tuban tidak membutuhkan impor garam. ‘’Kalau secara kebutuhan (garam lokal, Red) memang tidak butuh impor,’’ tegasnya.

Baca Juga :  2.657 Sarjana Menganggur

Hanya, karena impor adalah kebijakan pemerintah pusat, pemerintah daerah tidak tidak bisa berbuat banyak. Disinggung terkait adanya kemungkinan garam impor masuk Tuban, Agus tidak bisa memberikan jawaban pasti.

Begitu juga saat ditanya dampak harga garam lokal akibat garam impor. ‘’Untuk memastikan masalah ini (adanya dampak, Red), kita membutuhkan kajian terlebih dahulu. Apalagi saat ini tidak lagi musim tanam garam,’’ imbuh dia. 

Mudi, salah satu petani garam di Kecamatan Palang mengeluhkan kebijakan impor garam. Dia khawatir garam impor merusak merusak harga garam lokal. ‘’Setiap kali keluar kebijakan impor, harga garam ikut anjlok,’’ ujarnya.

Sekadar diketahui, saat ini harga garam di tingkat petani pada kisaran Rp 210-230 per kilogram (kg). Harga tersebut turun beberapa digit dibanding awal Januari yang masih pada kisaran Rp 280-300 per kg.

Baca Juga :  Proyek Perbaikan Tahun Depan

TUBAN – Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Tuban memastikan, kebutuhan garam di Tuban tercukupi dari produksi petani garam lokal. Termasuk untuk sejumlah perusahaan. Bahkan, produksi garam di Tuban yang ditaksir sekitar 35 ribu ton per tahun masuk kategori surplus.

‘’Yang pasti, hasil produski garam kita sudah melebihi dari kebutuhan sendiri,’’ kata Kepala Diskoperindag Tuban Agus Wijaya.Berapa angka persentase surplus garam di Tuban? Mantan kabag humas dan protokol setda ini belum bisa membeberkan datanya.

‘’Untuk data berapa pastinya (kebutuhan garam di Tuban, Red), kita belum memiliki yang valid,’’ kata dia yang berjanji segera mengiventarisir kebutuhan riil di Bumi Wali.

Dengan produksi yang surplus, maka Tuban tidak membutuhkan impor garam. ‘’Kalau secara kebutuhan (garam lokal, Red) memang tidak butuh impor,’’ tegasnya.

Baca Juga :  Warga Protes Trotoar Rusak

Hanya, karena impor adalah kebijakan pemerintah pusat, pemerintah daerah tidak tidak bisa berbuat banyak. Disinggung terkait adanya kemungkinan garam impor masuk Tuban, Agus tidak bisa memberikan jawaban pasti.

Begitu juga saat ditanya dampak harga garam lokal akibat garam impor. ‘’Untuk memastikan masalah ini (adanya dampak, Red), kita membutuhkan kajian terlebih dahulu. Apalagi saat ini tidak lagi musim tanam garam,’’ imbuh dia. 

Mudi, salah satu petani garam di Kecamatan Palang mengeluhkan kebijakan impor garam. Dia khawatir garam impor merusak merusak harga garam lokal. ‘’Setiap kali keluar kebijakan impor, harga garam ikut anjlok,’’ ujarnya.

Sekadar diketahui, saat ini harga garam di tingkat petani pada kisaran Rp 210-230 per kilogram (kg). Harga tersebut turun beberapa digit dibanding awal Januari yang masih pada kisaran Rp 280-300 per kg.

Baca Juga :  Kader Posyandu Balita giat mengembangkan Hortikultura

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/