alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Kekerasan Seksual pada Anak Marak, Sebulan Terdeteksi Empat Kasus 

KOTA – Kasus tindak kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur di Lamongan cukup marak. Selama sebulan atau Januari lalu tercatat ada empat kasus yang ditangani dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (DP3A) setempat. Sedangkan selama tahun lalu (2017) terdapat 10 kasus.

Menurut Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3A Lamongan, Zumaroh, empat kasus selama bulan lalu terdiri dari tiga kasus pencabulan dan satu kasus sodomi. ‘’Cukup miris mendapat laporan kasus peleceahan seksual pada anak,’’ katanya kamis (1/2).

Lebih miris lagi, lanjut dia, pelecehan seksual itu dilakukan orang terdekat korban. Seperti tetangga, guru, teman dan keluarga. Sehingga secara moral para pelaku tersebut bisa dikategorikan tidak memiliki akal sehat. ‘’Para korban mengalami trauma berkepanjangan,’’ ujarnya. 

Dia menjelaskan, trauma para korban harus segera diatasi agar tidak memicu dendam ketika dewasa. Sebab sebagian besar pelakunya memiliki masa lalu hampir sama dengan korbannya. Sehingga muncul dendam dan dilampiaskan pada orang lain di sekelilingnya. Tidak peduli itu orang dekatnya. 

Baca Juga :  Diaudit BPK Dulu

Menurut Zumaroh, selama ini keluarga korban rata-rata memilih bungkam apabila mendapatkan perlakuan seperti itu. Mereka merasa malu atau takut untuk melapor. Sehingga permasalahan tersebut dibiarkan berlarut. 

Padahal, lanjut dia, ketika terjadi masalah, orang tua dan keluarga harus segera melapor pada pihak berwenang. Setidaknya lapor ke DP3A agar korban bisa segera mendapatkan penanganan secara medis dan psikis. ‘’Pikiran dan mental korban pasti akan terguncang setelah mendapatkan perlakuan seperti itu. Sehingga harus segera ditangani,’’ ujarnya. 

Selain itu, ungkap dia, masyarakat masih tabu dengan layanan perlindungan lembaga pemerintah. Padahal, ketika mereka bersedia membuka suara, secepat mungkin akan dilakukan tindakan. Baik tindakan hukum maupun pendampingan dengan psikolog. ‘’Tapi penanganan akan segera diupayakan apabila laporan secepatnya diterima,’’ tukasnya. 

Baca Juga :  Cemas Menanti Panen Vaname, Sebelumnya Panen Gagal

Menurutnya, korban kekerasan seksual ini umumnya mengalami trauma berkepanjangan. Sedangkan mereka masih di bawah umur dan harus tetap bersekolah ke jenjang lebih tinggi. Sehingga peran orang tua paling dominan dalam memberikan pengetahuan, wawasan, dan pendampingan kepada anaknya. “Guru hanya pendamping, kontrol sepenuhnya ada pada orang tua,” ungkapnya. 

Zumaroh mengatakan, kasus kekerasan seksual ini tidak bisa diangap sepele. Karena perkembangan kasusnya sangat cepat dan medianya sangat banyak. Pengaruh teknologi bisa membuat anak bersikap lebih dewasa dari usianya. Sehingga permasalahan seksualitas semakin kompleks. “Orang tua harus memberikan pendampingan ketika anak sedang memainkan gawainya,” tuturnya.

KOTA – Kasus tindak kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur di Lamongan cukup marak. Selama sebulan atau Januari lalu tercatat ada empat kasus yang ditangani dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (DP3A) setempat. Sedangkan selama tahun lalu (2017) terdapat 10 kasus.

Menurut Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DP3A Lamongan, Zumaroh, empat kasus selama bulan lalu terdiri dari tiga kasus pencabulan dan satu kasus sodomi. ‘’Cukup miris mendapat laporan kasus peleceahan seksual pada anak,’’ katanya kamis (1/2).

Lebih miris lagi, lanjut dia, pelecehan seksual itu dilakukan orang terdekat korban. Seperti tetangga, guru, teman dan keluarga. Sehingga secara moral para pelaku tersebut bisa dikategorikan tidak memiliki akal sehat. ‘’Para korban mengalami trauma berkepanjangan,’’ ujarnya. 

Dia menjelaskan, trauma para korban harus segera diatasi agar tidak memicu dendam ketika dewasa. Sebab sebagian besar pelakunya memiliki masa lalu hampir sama dengan korbannya. Sehingga muncul dendam dan dilampiaskan pada orang lain di sekelilingnya. Tidak peduli itu orang dekatnya. 

Baca Juga :  Jokowi Unggul di Beberapa Kecamatan

Menurut Zumaroh, selama ini keluarga korban rata-rata memilih bungkam apabila mendapatkan perlakuan seperti itu. Mereka merasa malu atau takut untuk melapor. Sehingga permasalahan tersebut dibiarkan berlarut. 

Padahal, lanjut dia, ketika terjadi masalah, orang tua dan keluarga harus segera melapor pada pihak berwenang. Setidaknya lapor ke DP3A agar korban bisa segera mendapatkan penanganan secara medis dan psikis. ‘’Pikiran dan mental korban pasti akan terguncang setelah mendapatkan perlakuan seperti itu. Sehingga harus segera ditangani,’’ ujarnya. 

Selain itu, ungkap dia, masyarakat masih tabu dengan layanan perlindungan lembaga pemerintah. Padahal, ketika mereka bersedia membuka suara, secepat mungkin akan dilakukan tindakan. Baik tindakan hukum maupun pendampingan dengan psikolog. ‘’Tapi penanganan akan segera diupayakan apabila laporan secepatnya diterima,’’ tukasnya. 

Baca Juga :  Enam Kades Akhirnya Lantik Perangkat

Menurutnya, korban kekerasan seksual ini umumnya mengalami trauma berkepanjangan. Sedangkan mereka masih di bawah umur dan harus tetap bersekolah ke jenjang lebih tinggi. Sehingga peran orang tua paling dominan dalam memberikan pengetahuan, wawasan, dan pendampingan kepada anaknya. “Guru hanya pendamping, kontrol sepenuhnya ada pada orang tua,” ungkapnya. 

Zumaroh mengatakan, kasus kekerasan seksual ini tidak bisa diangap sepele. Karena perkembangan kasusnya sangat cepat dan medianya sangat banyak. Pengaruh teknologi bisa membuat anak bersikap lebih dewasa dari usianya. Sehingga permasalahan seksualitas semakin kompleks. “Orang tua harus memberikan pendampingan ketika anak sedang memainkan gawainya,” tuturnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/