alexametrics
32.6 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Meski 70% Memilih Tatap Muka, SD-SMP Tetap Belajar Daring

Radar Bojonegoro – Lembaga SD dan SMP tetap menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada semester genap dimulai Senin (4/1) nanti. Dinas pendidikan (disdik) Bojonegoro telah memutuskan belum akan menerapkan pembelajaran tatap muka terbatas (TMT).

Kepala Disdik Bojonegoro Dandi Suprayitno mengatakan, keputusan itu diambil mengingat tren kasus Covid-19 di Bojonegoro terus meningkat. Bahkan kini Kota Ledre berstatus zona merah dengan tingkat risiko penularan tinggi. Sehingga tak bisa diabaikan dan bisa membahayakan warga sekolah. “Karena kondisi saat ini masih mengenaskan,” katanya kemarin (1/1).

Menurut dia, semua pihak perlu memahami kondisi saat ini. Bagaimanapun keamanan dan keselamatan warga sekolah menjadi hal terpenting. Sehingga untuk sementara ia berharap lembaga sekolah memaksimalkan metode yang ada. “Tetap daring, bisa memaksimalkan juga Sifajargoro (aplikasi pembelajaran disdik),” ujar mantan kepala dinas kepemudaan dan olahraga (dispora) itu.

Baca Juga :  Petani Temukan Mortir Berdaya Ledak Tinggi

Menurut Dandi, sedianya disdik telah menerbitkan surat edaran (SE) 23 Desember lalu. Kaitannya agar lembaga sekolah membuat standard operating procedure (SOP) pembelajaran TMT berbentuk proposal dan mengajukannya. Dan batas pengajuan telah ditutup 29 Desember lalu. “Kami sudah rekap ada sekitar 500 lembaga. Baik SD maupun SMP,” jelas dia.

Ia menambahkan, proses rekap proposal pengajuan dari lembaga belum selesai seluruhnya. Sehingga belum bisa memastikan kaitannya seluruh lembaga sudah mengajukan proposal atau belum. Mengingat jumlah lembaga SD dan SMP mencapai 800- an lembaga. “Memang belum selesai kami merekap,” imbuhnya.

Dalam proposal tersebut, tutur Dandi, lembaga sekolah wajib melampirkan persetujuan orang tua siswa. Untuk melihat sejauh mana respons orang tua dan siswa jika nantinya diterapkan pembelajaran TMT. Dan untuk sementara sebagian besar setuju. “Hampir 70 persen masyarakat menghendaki tatap muka,” ungkap dia.

Baca Juga :  Komisi B DPRD Bojonegoro Ingin Bahas Ulang PI Sumur Baru

Menurutnya, untuk sementara waktu masyarakat perlu bersabar dan memahami kondisi saat ini. Sehingga, meski pada 4 Januari belum menerapkan TMT, proposal ini menjadi aspek penting. Untuk pemetaan sejauh mana respons warga sekolah sekaligus kesiapan sarana dan prasarananya. “Proposal itu kami perlukan jika sewaktu-waktu izin tatap muka terbatas keluar. Jadi lembaga telah mengajukan ini nanti berpeluang menerapkan,” jelasnya.

Radar Bojonegoro – Lembaga SD dan SMP tetap menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada semester genap dimulai Senin (4/1) nanti. Dinas pendidikan (disdik) Bojonegoro telah memutuskan belum akan menerapkan pembelajaran tatap muka terbatas (TMT).

Kepala Disdik Bojonegoro Dandi Suprayitno mengatakan, keputusan itu diambil mengingat tren kasus Covid-19 di Bojonegoro terus meningkat. Bahkan kini Kota Ledre berstatus zona merah dengan tingkat risiko penularan tinggi. Sehingga tak bisa diabaikan dan bisa membahayakan warga sekolah. “Karena kondisi saat ini masih mengenaskan,” katanya kemarin (1/1).

Menurut dia, semua pihak perlu memahami kondisi saat ini. Bagaimanapun keamanan dan keselamatan warga sekolah menjadi hal terpenting. Sehingga untuk sementara ia berharap lembaga sekolah memaksimalkan metode yang ada. “Tetap daring, bisa memaksimalkan juga Sifajargoro (aplikasi pembelajaran disdik),” ujar mantan kepala dinas kepemudaan dan olahraga (dispora) itu.

Baca Juga :  Kembangkan ­P­ertanian Organik 

Menurut Dandi, sedianya disdik telah menerbitkan surat edaran (SE) 23 Desember lalu. Kaitannya agar lembaga sekolah membuat standard operating procedure (SOP) pembelajaran TMT berbentuk proposal dan mengajukannya. Dan batas pengajuan telah ditutup 29 Desember lalu. “Kami sudah rekap ada sekitar 500 lembaga. Baik SD maupun SMP,” jelas dia.

Ia menambahkan, proses rekap proposal pengajuan dari lembaga belum selesai seluruhnya. Sehingga belum bisa memastikan kaitannya seluruh lembaga sudah mengajukan proposal atau belum. Mengingat jumlah lembaga SD dan SMP mencapai 800- an lembaga. “Memang belum selesai kami merekap,” imbuhnya.

Dalam proposal tersebut, tutur Dandi, lembaga sekolah wajib melampirkan persetujuan orang tua siswa. Untuk melihat sejauh mana respons orang tua dan siswa jika nantinya diterapkan pembelajaran TMT. Dan untuk sementara sebagian besar setuju. “Hampir 70 persen masyarakat menghendaki tatap muka,” ungkap dia.

Baca Juga :  Trend Gowes, Toko Kewalahan Rakit Sepeda

Menurutnya, untuk sementara waktu masyarakat perlu bersabar dan memahami kondisi saat ini. Sehingga, meski pada 4 Januari belum menerapkan TMT, proposal ini menjadi aspek penting. Untuk pemetaan sejauh mana respons warga sekolah sekaligus kesiapan sarana dan prasarananya. “Proposal itu kami perlukan jika sewaktu-waktu izin tatap muka terbatas keluar. Jadi lembaga telah mengajukan ini nanti berpeluang menerapkan,” jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/