alexametrics
26.5 C
Bojonegoro
Thursday, May 26, 2022

Gambarnya Identik Ayam dan Bebek, Ada Tingkat Kerumitan

Pernah makan di warung lesehan dengan gambar lukisan ayam atau bebek? Slamet Suyoto adalah salah satu seniman yang konsisten melukis spanduk warung lesehan itu.

SLAMET Suyoto iseng-iseng melukis di sebuah kain. Lukisan itu cukup berkarakter lalu diunggah di akun media sosial (medsos). Tidak disangka beberapa akun medsos merespons gambar itu. Mulai hari itu, Suyoto sapaannya menerima banyak pesanan lukisan. Khususnya lukisan spanduk kain untuk warung makan pedagang kaki lima (PKL).
‘’Saat ini pesanan cukup banyak. Saya kerjakan sampai malam,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (30/11).
Suyoto menekuni lukis spanduk kain baru dua tahun terakhir. Persisnya saat pandemi melanda. Sebelumnya, ia bekerja di Surabaya. Pandemi membuat tempatnya bekerja tidak bisa beroperasi. Kondisi itu membuatnya terpaksa harus pulang ke kampungnya. Yakni, Desa Jatigede, Kecamatan Sumberrejo.
Kebetulan Suyoto hobi melukis. Itu adalah bakat turunan dari ayahnya yang juga seorang seniman. ‘’Bakat ini menurun dari bapak. Saya juga sudah lama melukis,’’ tutur pria 58 tahun itu.  
Suyoto masih teringat kenangan memulai melukis di kain tersebut. Suatu hari, saat tidak lagi bekerja, Suyoto melukis di kain. Lukisan yang ia buat bergambar ayam, bebek, dan sejenisnya. Hasil lukisan itu diunggahnya ke medsos. Tidak disangka, itu justru menjadi ladang usaha baginya di kemudian hari pasca tidak bekerja di Surabaya.
Bak air mengalir, berbagai pesanan lukisan berdatangan. Rata-rata dari pemilik warung makan lesehan. Seperti tempe penyet, ayam, dan bebek goreng. Pesanan datang dari berbagai daerah.
Warung makan lesehan memang masih konsisten memakai spanduk lukis dengan bahan kain. Selain kuat dan tahan lama, lukisan spanduk kain ini berkarakter dan identik dengan warung PKL dengan menu penyetan. Masih banyak PKL memilih spanduk kain meski saat ini sudah ada banner lebih cepat pembuatannya berbasis digital printing.
Serbuan banner, saat ini para seniman pelukis spanduk sudah tidak banyak. Itu membuat Suyoto optimistis akan lukisan dari kain tetap bertahan. ‘’Kalau (pesanan) dari Bojonegoro jarang. Rata-rata pesanan dari luar daerah. Mulai dari wilayah Jawa Timur, Bali, hingga Kalimantan,’’ jelasnya.  
Melukis di kain putih memang ada beberapa kerumitannya. Cat digunakan tidak sama dengan cat lukis untuk kanvas. Teknik melukisnya juga berbeda. Namun, semua itu bisa menghasilkan lukisan menarik. Lebih dari itu, agar orang tertarik untuk makan di warung tersebut.
Melukis satu spanduk itu perlu waktu cukup lama. Satu spanduk dengan ukuran 4 meter, Suyoto bisa menyelesaikannya dalam empat hari. Itu tergantung kerumitan gambarnya.
Tidak hanya melukis gambar pesanan seperti itu, awal 1990-an Suyoto pernah dipercaya melukis logo Pemkab Bojonegoro. Kala itu masih belum ada komputer. Melukisnya masih menggunakan tangan. Saat itu Pemkab Bojonegoro baru memiliki logo.
Dan, logo itu kemudian ingin dibuat dalam spanduk. Pemkab memesannya di sebuah percetakan. Suyoto kebetulan bekerja di percetakan tersebut. Oleh bosnya, Suyoto dipercaya melukis logo itu. ‘’Itu sekitar 1993 kalau tidak salah,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Kuota Penerima BPNT Daerah Tahun Depan 8.333 Ribu Keluarga

Pernah makan di warung lesehan dengan gambar lukisan ayam atau bebek? Slamet Suyoto adalah salah satu seniman yang konsisten melukis spanduk warung lesehan itu.

SLAMET Suyoto iseng-iseng melukis di sebuah kain. Lukisan itu cukup berkarakter lalu diunggah di akun media sosial (medsos). Tidak disangka beberapa akun medsos merespons gambar itu. Mulai hari itu, Suyoto sapaannya menerima banyak pesanan lukisan. Khususnya lukisan spanduk kain untuk warung makan pedagang kaki lima (PKL).
‘’Saat ini pesanan cukup banyak. Saya kerjakan sampai malam,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (30/11).
Suyoto menekuni lukis spanduk kain baru dua tahun terakhir. Persisnya saat pandemi melanda. Sebelumnya, ia bekerja di Surabaya. Pandemi membuat tempatnya bekerja tidak bisa beroperasi. Kondisi itu membuatnya terpaksa harus pulang ke kampungnya. Yakni, Desa Jatigede, Kecamatan Sumberrejo.
Kebetulan Suyoto hobi melukis. Itu adalah bakat turunan dari ayahnya yang juga seorang seniman. ‘’Bakat ini menurun dari bapak. Saya juga sudah lama melukis,’’ tutur pria 58 tahun itu.  
Suyoto masih teringat kenangan memulai melukis di kain tersebut. Suatu hari, saat tidak lagi bekerja, Suyoto melukis di kain. Lukisan yang ia buat bergambar ayam, bebek, dan sejenisnya. Hasil lukisan itu diunggahnya ke medsos. Tidak disangka, itu justru menjadi ladang usaha baginya di kemudian hari pasca tidak bekerja di Surabaya.
Bak air mengalir, berbagai pesanan lukisan berdatangan. Rata-rata dari pemilik warung makan lesehan. Seperti tempe penyet, ayam, dan bebek goreng. Pesanan datang dari berbagai daerah.
Warung makan lesehan memang masih konsisten memakai spanduk lukis dengan bahan kain. Selain kuat dan tahan lama, lukisan spanduk kain ini berkarakter dan identik dengan warung PKL dengan menu penyetan. Masih banyak PKL memilih spanduk kain meski saat ini sudah ada banner lebih cepat pembuatannya berbasis digital printing.
Serbuan banner, saat ini para seniman pelukis spanduk sudah tidak banyak. Itu membuat Suyoto optimistis akan lukisan dari kain tetap bertahan. ‘’Kalau (pesanan) dari Bojonegoro jarang. Rata-rata pesanan dari luar daerah. Mulai dari wilayah Jawa Timur, Bali, hingga Kalimantan,’’ jelasnya.  
Melukis di kain putih memang ada beberapa kerumitannya. Cat digunakan tidak sama dengan cat lukis untuk kanvas. Teknik melukisnya juga berbeda. Namun, semua itu bisa menghasilkan lukisan menarik. Lebih dari itu, agar orang tertarik untuk makan di warung tersebut.
Melukis satu spanduk itu perlu waktu cukup lama. Satu spanduk dengan ukuran 4 meter, Suyoto bisa menyelesaikannya dalam empat hari. Itu tergantung kerumitan gambarnya.
Tidak hanya melukis gambar pesanan seperti itu, awal 1990-an Suyoto pernah dipercaya melukis logo Pemkab Bojonegoro. Kala itu masih belum ada komputer. Melukisnya masih menggunakan tangan. Saat itu Pemkab Bojonegoro baru memiliki logo.
Dan, logo itu kemudian ingin dibuat dalam spanduk. Pemkab memesannya di sebuah percetakan. Suyoto kebetulan bekerja di percetakan tersebut. Oleh bosnya, Suyoto dipercaya melukis logo itu. ‘’Itu sekitar 1993 kalau tidak salah,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Pilkades Serentak di Bojonegoro Dijatah Rp 3,4 Miliar

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/