alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Membuat Sudetan Baru Sungai Gandong di Kedungsumber

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Alat-alat berat mulai berdatangan di kawasan Dusun Sugihan, Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang. Kemarin (31/7), mulai pengerjaan penyudetan Sungai Gandong di desa kerap dilanda banjir bandang tersebut.

Proses penyudetan diperkirakan selama empat bulan. Penyudetan membuat jalur air baru tersebut akan membelah tiga bukit. ’’Kami target empat bulan selesai,’’ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sumber Daya Air (SDA) Bojonegoro Edi Susanto kemarin (31/7).

Edi menjelaskan, ada tiga bukit akan disudet karena dilewati arus air. Lebar sudetan 50 meter. Juga berimbas pemotongan pohon jati milik Perhutani. Jumlahnya 130 pohon jati. ’’Selama pelaksanaan penyudetan, dilakukan penghitungan biaya ganti tegakan atau pohon itu,’’ ungkap Edi.

Pria pernah menjabat kepala dinas perhubungan ini menjelaskan, panjang penyudetan sekitar 800 meter. Mulai Sungai Gandong barat hingga ke sisi timur. ’’Nanti itu potong kompas aliran sungainya. Langsung menuju ke timur,’’ beber dia.

Baca Juga :  Kasus Sales Oppo Kunyah Terasi, Kanit Belum Laporan

Aliran Sungai Gandong meliuk-liuk melintasi desa. Saat hujan deras, sungai tidak mampu menampung debit air. Sehingga, air meluber ke jalan dan masuk ke permukiman warga. Sudetan itu nantinya membuat aliran sungai terbelah menjadi dua. 

’’Jadi ada yang mengarah ke sungai lama, juga ke sungai baru (sudetan). Sungai yang lama masih tetap difungsikan,’’ ujar pria pernah menjabat Kepala Kelurahan Ledok Kulon ini.

Kedalaman sudetan bervariasi. Mulai 3 meter hingga 13 meter. Sudetan paling dalam ada di bukit. Sebab, tergantung ketinggian bukit. ’’Jika tidak dalam, airnya tidak bisa mengalir,’’ jelasnya.

Dimulainya penyudetan dihadiri Bupati Anna Mu’awanah. Anna meminta masyarakat menjaga sudetan baru itu. Jangan sampai sungai menjadi tempat pembuangan sampah. ’’Jika akan longsor segera ditanami bambu. Biar kuat. Tidak kena abrasi,’’ ujar Bu Anna ketika ditemui di lokasi.

Baca Juga :  Pendaftar Bantuan Membeludak, Dinkop Verifikasi 2.100 Pelaku UMKM

Bu Anna menjelaskan, proses pelaksanaan sudetan itu panjang dan melelahkan. Harus meminta izin ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Bulan lalu izin baru diberikan. 

Kepala Desa Kedungsumber Karji menjelaskan, banjir bandang di Dusun Sugihan berlangsung belasan tahun. Pengajuan penyudetan sungai sudah diajukan sejak 2009. Namun, selama ini belum ada respons. ’’Namun setelah penantian panjang, baru saat ini terealisasi,’’ jelasnya.

Menurut Karji, dalam setahun Dusun Sugihan bisa tujuh kali terkena banjir bandang. Hal itu membuat warga selalu gelisah saat musim hujan tiba. ’’Semoga setelah sudetan ini dibuat tidak ada lagi bandang di desa kami,’’ ungkap pria berkacamata itu.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Alat-alat berat mulai berdatangan di kawasan Dusun Sugihan, Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang. Kemarin (31/7), mulai pengerjaan penyudetan Sungai Gandong di desa kerap dilanda banjir bandang tersebut.

Proses penyudetan diperkirakan selama empat bulan. Penyudetan membuat jalur air baru tersebut akan membelah tiga bukit. ’’Kami target empat bulan selesai,’’ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sumber Daya Air (SDA) Bojonegoro Edi Susanto kemarin (31/7).

Edi menjelaskan, ada tiga bukit akan disudet karena dilewati arus air. Lebar sudetan 50 meter. Juga berimbas pemotongan pohon jati milik Perhutani. Jumlahnya 130 pohon jati. ’’Selama pelaksanaan penyudetan, dilakukan penghitungan biaya ganti tegakan atau pohon itu,’’ ungkap Edi.

Pria pernah menjabat kepala dinas perhubungan ini menjelaskan, panjang penyudetan sekitar 800 meter. Mulai Sungai Gandong barat hingga ke sisi timur. ’’Nanti itu potong kompas aliran sungainya. Langsung menuju ke timur,’’ beber dia.

Baca Juga :  Kasus Sales Oppo Kunyah Terasi, Kanit Belum Laporan

Aliran Sungai Gandong meliuk-liuk melintasi desa. Saat hujan deras, sungai tidak mampu menampung debit air. Sehingga, air meluber ke jalan dan masuk ke permukiman warga. Sudetan itu nantinya membuat aliran sungai terbelah menjadi dua. 

’’Jadi ada yang mengarah ke sungai lama, juga ke sungai baru (sudetan). Sungai yang lama masih tetap difungsikan,’’ ujar pria pernah menjabat Kepala Kelurahan Ledok Kulon ini.

Kedalaman sudetan bervariasi. Mulai 3 meter hingga 13 meter. Sudetan paling dalam ada di bukit. Sebab, tergantung ketinggian bukit. ’’Jika tidak dalam, airnya tidak bisa mengalir,’’ jelasnya.

Dimulainya penyudetan dihadiri Bupati Anna Mu’awanah. Anna meminta masyarakat menjaga sudetan baru itu. Jangan sampai sungai menjadi tempat pembuangan sampah. ’’Jika akan longsor segera ditanami bambu. Biar kuat. Tidak kena abrasi,’’ ujar Bu Anna ketika ditemui di lokasi.

Baca Juga :  BBM dan Generasi Suka Move On

Bu Anna menjelaskan, proses pelaksanaan sudetan itu panjang dan melelahkan. Harus meminta izin ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Bulan lalu izin baru diberikan. 

Kepala Desa Kedungsumber Karji menjelaskan, banjir bandang di Dusun Sugihan berlangsung belasan tahun. Pengajuan penyudetan sungai sudah diajukan sejak 2009. Namun, selama ini belum ada respons. ’’Namun setelah penantian panjang, baru saat ini terealisasi,’’ jelasnya.

Menurut Karji, dalam setahun Dusun Sugihan bisa tujuh kali terkena banjir bandang. Hal itu membuat warga selalu gelisah saat musim hujan tiba. ’’Semoga setelah sudetan ini dibuat tidak ada lagi bandang di desa kami,’’ ungkap pria berkacamata itu.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/