alexametrics
32.6 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Tyas Agusta, Ilustrator Muda asal Kecamatan Trucuk

BOKS – Matahari pagi hangat di  Alun-Alun Bojonegoro. Jawa Pos Radar Bojonegoro telah membuat janji dengan salah seorang ilustrator muda. Konon, dia jarang pulang ke Bojonegoro, karena dia sibuk merantau ke Jakarta. Jalanan pun cukup lengang pagi itu, namun sisi utara Masjid Darussalam terlihat cukup ramai petugas dinas lingkungan hidup yang hendak memotong pohon yang sudah terlalu menjulang tinggi. Roda motor berhenti di depan trotoar alun-alun, diparkir dan bergegas mencari si gadis ilustrator tersebut.

Tak lama kemudian, seorang gadis berjilbab warna hitam bergaris putih menghampiri, ketika wartawan koran ini mencoba untuk menghubunginya lewat sambungan telepon. Kemudian, obrolan pun dimulai bersamanya. Sayangnya, ada sedikit gangguan, karena obrolan sempat terganggu oleh suara gergaji mesin yang sedang memotong batang-batang pohon.

Gadis itu bernama asli Tri Isnur Agus Ning Tyas, tetapi banyak orang mengenalnya dengan nama Tyas Agusta. Dia merupakan seorang ilustrator lepas yang sudah memiliki ratusan karya. Dia kerap memeroleh job dari berbagai klien dan pernah hobi ikut pameran. Kini, jarang ikut, karena dirinya sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya pada Juli mendatang. Bahkan, kepulangannya di Bojonegoro juga hanya untuk mengurus keperluan momen bahagianya tersebut. “Saya bela-belain pulang Bojonegoro, karena memang sedang mengurus pernikahan, sebelumnya saya kerja di Jakarta,” tutur gadis asal Desa Sumbangtimun, Kecamatan Trucuk itu.

Tyas pun berbagi pengalaman serunya selama hampir dua tahun merantau di Jakarta sejak 2016. Alumni mahasiswi jurusan seni rupa murni Universitas Brawijaya Malang 2016 itu awalnya bekerja di sebuah sekolah menggambar. Dia pun menjadi salah satu guru menggambar di sana. “Awalnya iseng ngelamar, eh ternyata masuk dan harus merantau ke Jakarta,” terangnya. 

Baca Juga :  Ingin Dua Gelar Sekaligus

Akhirnya, dengan skill yang ia miliki, dia bisa menaklukkan Jakarta. Hidup dengan penuh kehirukpikukan urban, sekaligus mencari rezeki di tengah kemacetan yang begitu memuakkan. “Bahkan, saya pernah membuat seni mural secara berturut-turut di daerah Pantai Indah Kapuk (Town House Cordoba) dan salah satu apartemen di daerah Kelapa Gading, setelah semua selesai, saya tumbang, sakit campak selama setengah bulan,” katanya.

Selain menjadi guru di kantornya, Tyas juga mengambil les privat di luar kantor. Itung-itung buat tambahan uang jajan dan modal nikah. “Cari uang di Jakarta tergantung usaha kita, karena kesempatannya terhampar sangat luas,” jelasnya. 

Tyas juga menerima commission art dari berbagai klien. Hal yang paling dia suka ketika di Jakarta ialah bertemu dengan beragam karakter manusia. Salah satu contohnya ia bertemu dengan bocah-bocah yang notabene merupakan anak didiknya, justru banyak memberikan pembelajaran hidup dari mereka secara tidak langsung. Hasil dari kantor dan guru privat sangat lumayan, belum lagi ditambah hasil dari commission art. “Kalau kantor gaji bulanan, sedangkan guru privat, Rp 100 ribu per jam. Sedangkan commission art antara Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta per gambar,” jelasnya. Bahkan, saat itu, dia punya 50 murid yang privat dengannya, sehingga waktu dia di sana sangat padat, tak kenal hari libur.

Baca Juga :  Pertokoan Eks Tanggul Jalan MH Thamrin Diminta Dibongkar

Kemudian, awal 2018, Tyas memilih resign dan mencoba hidup mandiri dari karya-karyanya. Dia pun mengisi kesibukan menjadi volunteer di sebuah galeri di Jakarta. “Di galeri itu justru saya bisa mengasah hobi saya menulis, di sana saya menulis seputar seni, jadi para pekarya pakai jasa saya untuk mendeskripsikan karyanya,” ujarnya. 

Dia mengaku, sebenarnya dulu hobi lainnya selain gambar ialah menulis, karena dia juga mencintai dunia sastra. Adapun proyek impiannya ialah membuat sebuah karya novel yang ditulis olehnya sendiri dan isi ilustrasi sekaligus sampulnya ia yang menggambar.

Apabila ditarik ke belakang, Tyas pernah merasa salah jurusan ketika masuk di jurusan seni rupa murni. Modalnya tak terlalu mumpuni untuk bisa menggambar, namun imajinasi dan kesukaannya terhadap kartun sangat tinggi, sehingga dia bisa beradaptasi pada jurusannya. “Semester pertama saya sudah berencana untuk pindah jurusan, tetapi kedua orang tua saya terus memotivasi saya,” katanya. 

Dia menemukan pola dan ritme dengan dunia seni rupa. Karena dalam dunia seni rupa itu sangat luas. Ketika mencari kerja, buka nilai IPK yang dilihat, tapi skill. Jadi, semakin tinggi skill dan portofolio yang bagus, tentu pekarya akan memeroleh daya jual yang tinggi. 

Dia sangat menikmati proses itu, bahkan tiap hari dia harus menggambar. “Karena menggambar itu harus dilatih terus menerus, kalau malas, tangan akan kaku,” pungkasnya.

BOKS – Matahari pagi hangat di  Alun-Alun Bojonegoro. Jawa Pos Radar Bojonegoro telah membuat janji dengan salah seorang ilustrator muda. Konon, dia jarang pulang ke Bojonegoro, karena dia sibuk merantau ke Jakarta. Jalanan pun cukup lengang pagi itu, namun sisi utara Masjid Darussalam terlihat cukup ramai petugas dinas lingkungan hidup yang hendak memotong pohon yang sudah terlalu menjulang tinggi. Roda motor berhenti di depan trotoar alun-alun, diparkir dan bergegas mencari si gadis ilustrator tersebut.

Tak lama kemudian, seorang gadis berjilbab warna hitam bergaris putih menghampiri, ketika wartawan koran ini mencoba untuk menghubunginya lewat sambungan telepon. Kemudian, obrolan pun dimulai bersamanya. Sayangnya, ada sedikit gangguan, karena obrolan sempat terganggu oleh suara gergaji mesin yang sedang memotong batang-batang pohon.

Gadis itu bernama asli Tri Isnur Agus Ning Tyas, tetapi banyak orang mengenalnya dengan nama Tyas Agusta. Dia merupakan seorang ilustrator lepas yang sudah memiliki ratusan karya. Dia kerap memeroleh job dari berbagai klien dan pernah hobi ikut pameran. Kini, jarang ikut, karena dirinya sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya pada Juli mendatang. Bahkan, kepulangannya di Bojonegoro juga hanya untuk mengurus keperluan momen bahagianya tersebut. “Saya bela-belain pulang Bojonegoro, karena memang sedang mengurus pernikahan, sebelumnya saya kerja di Jakarta,” tutur gadis asal Desa Sumbangtimun, Kecamatan Trucuk itu.

Tyas pun berbagi pengalaman serunya selama hampir dua tahun merantau di Jakarta sejak 2016. Alumni mahasiswi jurusan seni rupa murni Universitas Brawijaya Malang 2016 itu awalnya bekerja di sebuah sekolah menggambar. Dia pun menjadi salah satu guru menggambar di sana. “Awalnya iseng ngelamar, eh ternyata masuk dan harus merantau ke Jakarta,” terangnya. 

Baca Juga :  Pertokoan Eks Tanggul Jalan MH Thamrin Diminta Dibongkar

Akhirnya, dengan skill yang ia miliki, dia bisa menaklukkan Jakarta. Hidup dengan penuh kehirukpikukan urban, sekaligus mencari rezeki di tengah kemacetan yang begitu memuakkan. “Bahkan, saya pernah membuat seni mural secara berturut-turut di daerah Pantai Indah Kapuk (Town House Cordoba) dan salah satu apartemen di daerah Kelapa Gading, setelah semua selesai, saya tumbang, sakit campak selama setengah bulan,” katanya.

Selain menjadi guru di kantornya, Tyas juga mengambil les privat di luar kantor. Itung-itung buat tambahan uang jajan dan modal nikah. “Cari uang di Jakarta tergantung usaha kita, karena kesempatannya terhampar sangat luas,” jelasnya. 

Tyas juga menerima commission art dari berbagai klien. Hal yang paling dia suka ketika di Jakarta ialah bertemu dengan beragam karakter manusia. Salah satu contohnya ia bertemu dengan bocah-bocah yang notabene merupakan anak didiknya, justru banyak memberikan pembelajaran hidup dari mereka secara tidak langsung. Hasil dari kantor dan guru privat sangat lumayan, belum lagi ditambah hasil dari commission art. “Kalau kantor gaji bulanan, sedangkan guru privat, Rp 100 ribu per jam. Sedangkan commission art antara Rp 100 ribu hingga Rp 1 juta per gambar,” jelasnya. Bahkan, saat itu, dia punya 50 murid yang privat dengannya, sehingga waktu dia di sana sangat padat, tak kenal hari libur.

Baca Juga :  Bantu Persalinan di Rumah Berlantai Tanah

Kemudian, awal 2018, Tyas memilih resign dan mencoba hidup mandiri dari karya-karyanya. Dia pun mengisi kesibukan menjadi volunteer di sebuah galeri di Jakarta. “Di galeri itu justru saya bisa mengasah hobi saya menulis, di sana saya menulis seputar seni, jadi para pekarya pakai jasa saya untuk mendeskripsikan karyanya,” ujarnya. 

Dia mengaku, sebenarnya dulu hobi lainnya selain gambar ialah menulis, karena dia juga mencintai dunia sastra. Adapun proyek impiannya ialah membuat sebuah karya novel yang ditulis olehnya sendiri dan isi ilustrasi sekaligus sampulnya ia yang menggambar.

Apabila ditarik ke belakang, Tyas pernah merasa salah jurusan ketika masuk di jurusan seni rupa murni. Modalnya tak terlalu mumpuni untuk bisa menggambar, namun imajinasi dan kesukaannya terhadap kartun sangat tinggi, sehingga dia bisa beradaptasi pada jurusannya. “Semester pertama saya sudah berencana untuk pindah jurusan, tetapi kedua orang tua saya terus memotivasi saya,” katanya. 

Dia menemukan pola dan ritme dengan dunia seni rupa. Karena dalam dunia seni rupa itu sangat luas. Ketika mencari kerja, buka nilai IPK yang dilihat, tapi skill. Jadi, semakin tinggi skill dan portofolio yang bagus, tentu pekarya akan memeroleh daya jual yang tinggi. 

Dia sangat menikmati proses itu, bahkan tiap hari dia harus menggambar. “Karena menggambar itu harus dilatih terus menerus, kalau malas, tangan akan kaku,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/