alexametrics
23.9 C
Bojonegoro
Thursday, May 26, 2022

Angkat Karya tentang Kesetaraan Gender

Bukan hanya seorang nenek saja. Mufidah juga seorang profesor saat ini. Dia telah dikukuhkan akhir tahun lalu.

Senyumnya merekah. Mufidah akhirnya telah dikukuhkan menjadi guru besar di bidang ilmu sosiologi hukum islam. Dia kini tercatat sebagai profesor di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

Perempuan yang memiliki cucu ini mengangkat karya tentang kesetaraan gender dalam hukum islam. Semua orang tidak mengira Mufidah bisa berhasil meraih gelar profesor.

Dia mengaku cukup berat untuk sampai di titik tersebut.

“Pertama mengajukan pada 2013 dan 2014 ditolak karena dinilai tidak sesuai konsentrasi. Kemudian pada 2015 kembali dikaji dan akhirnya disetujui,” ujar dia.

Mufidah mengaku konsentrasinya dalam bidang keilmuan ini sudah digeluti sejak lama. Bahkan, karya buku dan penelitiannya cukup banyak.

Baca Juga :  Promosi Alat Peraga Kampanye Belum Kerek Order Percetakan

Seperti Paradigma Gender, Haruskah Perempuan dan Anak Dikorbankan, Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender, Bingkai Sosial Gender: Islam.

Strukturasi dan Konstruksi Sosial, Gender di Pesantren Salaf Why Not?, Mengapa Mereka Diperdagangkan?, Panduan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan, Membangun Relasi Setara antara Perempuan dan Laki-Laki Melalui Pendidikan Islam.

Mufidah lahir di Baureno. Dia menceritakan, sejak kecil dia ditempa dengan didikan agama yang cukup kuat. Sebagai bentuk dedikasinya terhadap Bojonegoro, Mufidah tidak pernah lupa. Dia masih saja menyempatkan untuk memberikan berbagai macam seminar di kota kelahirannya. Meski saat ini tinggal di Malang.

“Sejak kecil saya hidup di desa,” kenangnya.

Mufidah lahir 10 September 1960 di Pasinan, Baureno, Bojonegoro. Berpendidikan awal di Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Baureno. Hingga akhirnya kini telah menyandang gelar doktor dari IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Baca Juga :  Ainur Rofiq Bongkar Dapur HTI

Selain aktif dalam pemikiran tentang gender. Mufidah adalah seorang penggerak masjid. Dia bahkan banyak ngopeni masjid hingga akhirnya masjid tersebut bisa menjadi unggulan. Dalam mengembangkan masyarakat di sekitar masjid.

Mufidah menjelaskan, dalam gerakan ini dia mengajak mahasiswa dan dosen untuk berada di dalam masjid. Namun, masjid bukan lagi menjadi tempat sentra ibadah akhirat saja. Melainkan, juga untuk memberdayakan masyarakat.

Contohnya, dari masjid akhirnya bisa berdiri peternakan hingga gerakan yang menumbukan perekonomian masyarakat. Artinya, geliat pengembangan masyarkat itu disesuaikan dengan potensi yang ada di sekitar masjid. Dengan begitu, jamaah masjid bisa menjadi sentra pengembangan masyarakat di sekitarnya.

Bukan hanya seorang nenek saja. Mufidah juga seorang profesor saat ini. Dia telah dikukuhkan akhir tahun lalu.

Senyumnya merekah. Mufidah akhirnya telah dikukuhkan menjadi guru besar di bidang ilmu sosiologi hukum islam. Dia kini tercatat sebagai profesor di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

Perempuan yang memiliki cucu ini mengangkat karya tentang kesetaraan gender dalam hukum islam. Semua orang tidak mengira Mufidah bisa berhasil meraih gelar profesor.

Dia mengaku cukup berat untuk sampai di titik tersebut.

“Pertama mengajukan pada 2013 dan 2014 ditolak karena dinilai tidak sesuai konsentrasi. Kemudian pada 2015 kembali dikaji dan akhirnya disetujui,” ujar dia.

Mufidah mengaku konsentrasinya dalam bidang keilmuan ini sudah digeluti sejak lama. Bahkan, karya buku dan penelitiannya cukup banyak.

Baca Juga :  Gesekan Penambang Pasir Antarkabupaten

Seperti Paradigma Gender, Haruskah Perempuan dan Anak Dikorbankan, Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender, Bingkai Sosial Gender: Islam.

Strukturasi dan Konstruksi Sosial, Gender di Pesantren Salaf Why Not?, Mengapa Mereka Diperdagangkan?, Panduan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan, Membangun Relasi Setara antara Perempuan dan Laki-Laki Melalui Pendidikan Islam.

Mufidah lahir di Baureno. Dia menceritakan, sejak kecil dia ditempa dengan didikan agama yang cukup kuat. Sebagai bentuk dedikasinya terhadap Bojonegoro, Mufidah tidak pernah lupa. Dia masih saja menyempatkan untuk memberikan berbagai macam seminar di kota kelahirannya. Meski saat ini tinggal di Malang.

“Sejak kecil saya hidup di desa,” kenangnya.

Mufidah lahir 10 September 1960 di Pasinan, Baureno, Bojonegoro. Berpendidikan awal di Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Baureno. Hingga akhirnya kini telah menyandang gelar doktor dari IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Baca Juga :  Sebanyak 3.658 Surat Suara Rusak

Selain aktif dalam pemikiran tentang gender. Mufidah adalah seorang penggerak masjid. Dia bahkan banyak ngopeni masjid hingga akhirnya masjid tersebut bisa menjadi unggulan. Dalam mengembangkan masyarakat di sekitar masjid.

Mufidah menjelaskan, dalam gerakan ini dia mengajak mahasiswa dan dosen untuk berada di dalam masjid. Namun, masjid bukan lagi menjadi tempat sentra ibadah akhirat saja. Melainkan, juga untuk memberdayakan masyarakat.

Contohnya, dari masjid akhirnya bisa berdiri peternakan hingga gerakan yang menumbukan perekonomian masyarakat. Artinya, geliat pengembangan masyarkat itu disesuaikan dengan potensi yang ada di sekitar masjid. Dengan begitu, jamaah masjid bisa menjadi sentra pengembangan masyarakat di sekitarnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/