alexametrics
30.6 C
Bojonegoro
Wednesday, May 18, 2022

Petani Masih Dianggap Pekerjaan Remeh

BOJONEGORO –  Stigma petani masih kerap dipandang sebelah mata. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Seksi (Kasi) Ketenagaan dan Kelembagaan Dinas Pertanian Bojonegoro Djoko Poedjowijono.

Menurutnya, masih banyak anggapan petani sebagai pekerja fisik dan bermandikan lumpur. Hal tersebut menyurutkan kaum muda untuk bercita-cita menjadi petani.

Anggapan petani pasti soal kemiskinan, tradisional, bahkan dicap orang desa. “Padahal, petani memiliki peran penting untuk negara dan masyarakat,” paparnya.

Dia menuturkan, masalah konteks sosial profesi petani menjadi acuan pemerintah dalam membasmi stigma masyarakat.

“Untuk itu kita terus melakukan penyuluhan untuk menghapus stigma masyarakat. Petani itu menjadi sumber utama bahan pangan dan petani penting,” katanya.

Dia juga menambahkan, kegiatan penyuluhan mengenai petani harus dilengkapi dengan berbagai ilmu pengetahuan.

“Supaya petani tidak dijadikan lahan rezeki oleh oknum lain. Kita bekali supaya petani menjadi dokter bagi tanamannya sendiri,” ucapnya.

Baca Juga :  Desak Cabut PP 9/2018

Djoko mengatakan, penyuluh yang mendampingi petani harus mampu memberikan pengetahuan dan sikap seorang petani.

“Penyuluhan tidak hanya sebatas memberi pengetahuan, tapi berlaku juga agar petani mampu menerapkan ilmu yang diberikan,” jelasnya.

Dia menambahkan, kelompok tani di Bojonegoro sampai 2018 sebanyak 1.526 dengan jumlah tiap kelompok tani berbeda-beda.

Sementara itu, Nuryadi, pemuda asal Margomulyo mengatakan, dia tak pernah betah berlama-lama di kampung halamannya. Sebab, peluang pekerjaan tak seperti di kota besar. Dia pun memilih merantau ke Malang.

“Ya ada sawah, tapi saya memang lebih baik merantau saja,” kata dia.

Menurut dia dan sebagian teman-temannya, menjadi petani tak ada masa depannya. Itu yang dilihat dari orang tuanya. Tak banyak memiliki harta atau dikatakan belum sejahtera.

Bukan hanya Nuryadi saja yang memilih pekerjaan lain. Bahkan, mereka lebih baik bekerja buruh pabrik ketimbang harus bertani.

Baca Juga :  Perpustakaan Daerah Bojonegoro Semakin Modern

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada sensus pertanian menyebutkan pada 2003 jumlah rumah tangga usaha pertanian di Bojonegoro terdapat 274.831.

Sedangkan, pada 2013 ternyata mengalami penurunan. Yakni menjadi 239.734. Sehingga, ada penurunan 12,77 persen.

Sementara itu, Budi Satria Maulana, petani muda Bojonegoro menekankan jika dunia pertanian harus segera direbut oleh anak-anak muda.

“Kita tak perlu malu menjadi seorang petani,” pria yang pernah menempuh studi di Universitas Brawijaya Malang itu.

Dia menjelaskan, pertanian adalah kesempatan emas paling gampang untuk pemuda mengembangkan perekonomian.

“Lahan pertanian itu mudah dan murah,” ujar dia.

Apalagi, saat ini persaingan untuk dunia pertanian juga sedikit. Terlebih, bisa menguasai produksi pertanian dan penjualan produk pertanian.

“Maka keuntungan akan berlipat,” kata dia.

Dia menambahkan, banyak yang bisa digali lagi dalam dunia pertanian untuk anak muda.

“Yang penting kreatif, urusan bondo belakangan,” tegasnya.

BOJONEGORO –  Stigma petani masih kerap dipandang sebelah mata. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Seksi (Kasi) Ketenagaan dan Kelembagaan Dinas Pertanian Bojonegoro Djoko Poedjowijono.

Menurutnya, masih banyak anggapan petani sebagai pekerja fisik dan bermandikan lumpur. Hal tersebut menyurutkan kaum muda untuk bercita-cita menjadi petani.

Anggapan petani pasti soal kemiskinan, tradisional, bahkan dicap orang desa. “Padahal, petani memiliki peran penting untuk negara dan masyarakat,” paparnya.

Dia menuturkan, masalah konteks sosial profesi petani menjadi acuan pemerintah dalam membasmi stigma masyarakat.

“Untuk itu kita terus melakukan penyuluhan untuk menghapus stigma masyarakat. Petani itu menjadi sumber utama bahan pangan dan petani penting,” katanya.

Dia juga menambahkan, kegiatan penyuluhan mengenai petani harus dilengkapi dengan berbagai ilmu pengetahuan.

“Supaya petani tidak dijadikan lahan rezeki oleh oknum lain. Kita bekali supaya petani menjadi dokter bagi tanamannya sendiri,” ucapnya.

Baca Juga :  Kreativitas Penentu Persaingan Kafe

Djoko mengatakan, penyuluh yang mendampingi petani harus mampu memberikan pengetahuan dan sikap seorang petani.

“Penyuluhan tidak hanya sebatas memberi pengetahuan, tapi berlaku juga agar petani mampu menerapkan ilmu yang diberikan,” jelasnya.

Dia menambahkan, kelompok tani di Bojonegoro sampai 2018 sebanyak 1.526 dengan jumlah tiap kelompok tani berbeda-beda.

Sementara itu, Nuryadi, pemuda asal Margomulyo mengatakan, dia tak pernah betah berlama-lama di kampung halamannya. Sebab, peluang pekerjaan tak seperti di kota besar. Dia pun memilih merantau ke Malang.

“Ya ada sawah, tapi saya memang lebih baik merantau saja,” kata dia.

Menurut dia dan sebagian teman-temannya, menjadi petani tak ada masa depannya. Itu yang dilihat dari orang tuanya. Tak banyak memiliki harta atau dikatakan belum sejahtera.

Bukan hanya Nuryadi saja yang memilih pekerjaan lain. Bahkan, mereka lebih baik bekerja buruh pabrik ketimbang harus bertani.

Baca Juga :  Hari Jadi Bojonegoro ke-343, Bu Anna Pimpin Penyematan Api Abadi

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada sensus pertanian menyebutkan pada 2003 jumlah rumah tangga usaha pertanian di Bojonegoro terdapat 274.831.

Sedangkan, pada 2013 ternyata mengalami penurunan. Yakni menjadi 239.734. Sehingga, ada penurunan 12,77 persen.

Sementara itu, Budi Satria Maulana, petani muda Bojonegoro menekankan jika dunia pertanian harus segera direbut oleh anak-anak muda.

“Kita tak perlu malu menjadi seorang petani,” pria yang pernah menempuh studi di Universitas Brawijaya Malang itu.

Dia menjelaskan, pertanian adalah kesempatan emas paling gampang untuk pemuda mengembangkan perekonomian.

“Lahan pertanian itu mudah dan murah,” ujar dia.

Apalagi, saat ini persaingan untuk dunia pertanian juga sedikit. Terlebih, bisa menguasai produksi pertanian dan penjualan produk pertanian.

“Maka keuntungan akan berlipat,” kata dia.

Dia menambahkan, banyak yang bisa digali lagi dalam dunia pertanian untuk anak muda.

“Yang penting kreatif, urusan bondo belakangan,” tegasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/