alexametrics
30.6 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Nikmati Durian di Lokasi Tersembunyi, Ditanam sejak Zaman Belanda

FEATURES – Sesekali luangkan waktu menjelajah bagian selatan Bojonegoro. Nikmati durian, buah dari Desa Klino, Kecamatan Sekar yang kini sedang naik daun. Sejak dikenalkan Bupati Bojonegoro Suyoto,  durian dari Klino dinamai Jemblung.  Kini banyak durian jemblung yang mencarinya. Bagaimana asal usul durian di Klino? 

Cuaca cukup bersahabat Minggu (25/2) lalu. Matahari tak menyengat tapi hangat. Semilir angin, menghembus pelan dan sejuk. Alamnya mengingatkan pada cerita novel 7 Manusia Harimau karya Motinggo Busye.

Membayangkan tokoh Harwati sedang bertarung, bermain jurus silat tingkat tinggi dengan Pitaloka di atas perbukitan. Lalu keduanya seperti terbang melayang, saling melompat di atas dahan pohon. Bertarung berkelebatan.   

Berkunjung ke wilayah bagian selatan Bojonegoro pada musim hujan adalah saat yang tepat. Sungai yang jernih airnya. Hutan jati yang daunnya lebat. Terasa segar saat melintas di jalur Bojonegoro-Gondang-Sekar. 

Menuju Desa Klino, Kecamatan Sekar cukup lumayan jauh. Tapi suasana sepanjang perjalanan cukup segar. Badan lelah pun tak terasa. Apalagi jika melihat Kali Pacal yang jernih mengalir, terasa ingin turun dari kendaraan. Lalu mandi di sungai. 

Desa Klino, lokasinya sekitar 50 km dari Bojonegoro. Jarak tempuhnya jika menggunakan kendaraan roda 4 sekitar 2 jam. Menggunakan kendaraan roda 2 sekitar 1 jam lebih sedikit. 

Tiba di Klino, langsung menuju ke rumah kepala desa (kades) setempat. Kades Maryono cukup ramah. Istrinya juga baik. Dia bercerita, ketika Bupati Bojonegoro Suyoto datang ke Klino sebenarnya tanpa sengaja.

Bupati yang akrab disapa Kang Yoto ini tiba-tiba datang, dan ingin mencicipi durian dari Klino. Beruntung, di depan rumah sekretaris desa, ada pohon durian.

Tidak tinggi tapi buahnya lumayan banyak. Ada sekitar sembilan buah durian. Dari sembilan buah, ada dua yang sudah masak. Kang Yoto dan Bu Yoto sempat memetiknya langsung dari pohon. 

Baca Juga :  43 Objek Wisata Bojonegoro Masih Tutup Total

Beberapa kali liputan di Klino, tapi baru mendengar ada durian di sana. Seorang teman yang sudah lama bekerja di Sekar, juga baru mendengar ada durian di Klino. 

Padahal,  tak banyak daerah yang bisa ditanami pohon durian. Pohon yang buah bergerigi ini harus ditanam di atas 60 meter di atas permukaan laut (dpl).

Sementara, di Bojonegoro rata-rata ketinggian tanahnya adalah 10m-20m dpl. “Tapi dataran di wilayah selatan Bojonegoro banyak yang tinggi, hawa di Klino juga dingin, jadi wajar jika ada durian,” kata petani buah dari Baureno, Ismail Hariaji. 

Siapa sebenarnya yang kali pertama menanam durian di Klino? Saya diajak Kades Maryono ke rumah Dapran. Akrab disapa Mbah Dapran.  

Rumahnya di Dusun Kedaton, Desa Klino.  Dari bunderan Klino atau tugu Pancasila ke kiri. Ada jalan bercabang, ambillah jalan yang tak beraspal. Jalan lumayan rusak. Terakhir diperbaiki pada 2013. Agak ber-geronjal. Berbatu.

Tapi kanan kiri jalan hamparan sawah berbentuk terasiring cukup menyenangkan mata. Tampak pula Gunung Pandan, menambah hamparan sawah dan gunung seperti dalam pelajaran bergambar di kelas sekolah dasar. 

Apalagi ada aliran air kecil yang airnya cukup jernih. Jalan ber-geronjal naik turun seperti tak terasa. Di pertigaan Dusun Kedaton, belok ke kiri. Lurus sekitar 50 meter. Kendaraan parkir di halaman rumah warga.

Rumah Mbah Dapran masih masuk ke dalam di belakang. Menyusuri jalan setapak. Agak berlumpur karena usai hujan. Meski jalan berlumpur tapi sedikit bagus karena ada batu kricak, sehingga tak terasa berlumpur.  

Tiba di rumah Mbah Dapran, disambut istrinya. Mbah Dapran sedang keluar rumah. Lalu di mana kebun duriannya? Ternyata di belakang rumah Mbah Dapran. Luas lahan  sekitar 0,5 hektare. Banyak tumbuh pohon porang di kebun Mbah Dapran. 

Baca Juga :  APBD Bojonegoro Tahun Depan Diproyeksi Capai Rp 4,5 Triliun

Ada satu pohon durian yang cukup besar, di pojok kebun. Buahnya sangat lebat. Di sekitarnya juga ada pohon durian yang buahnya tak kalah lebat. Bukan hanya pohon durian yang ditanam. Tapi juga alpukat, rambutan, mangga, matoa, srikaya jumbo. 

Nah,  ini yang unik, ada pohon buah duku. Jumlahnya ada tiga pohon. Belum berbuah tapi sudah cukup tinggi pohonnya.  

Oh ya…pohon durian yang di pojok ternyata usianya cukup tua. Sekitar 30 tahun. Pohon itu ditanam oleh Mbah Dapran sendiri. Kala itu, dia ingin merasakan buah durian. Anaknya kebetulan beli dari Nganjuk. Biji buah durian lalu ditanam di kebunnya. Beruntung, biji yang ditanam tumbuh baik.  

Hingga 30 tahun kemudian, pohon tersebut tumbuh baik. Dalam satu pohon, saat  musim buah ada 200 buah durian. Padahal, Mbah Dapran memiliki 20 pohon durian yang ditanam. 

Lalu untuk apa durian tersebut?  Selain dimakan sendiri oleh keluarga Mbah Dapran, durian tersebut ternyata dijual ke orang lain. Terutama, orang dari luar  Bojonegoro yang kenal dengan Mbah Dapran. 

Pohon durian di Klino ternyata usianya bukan hanya 30 tahun saja. Dari keterangan Mbah Dapran, sejak zaman kolonialisme Belanda, durian sudah ditanam di Klino.

“Mbah saya sudah menanam pohon durian sejak zaman Belanda. Lalu saat itu tak laku, sama anak-anaknya pohon itu ditebangi, lahannya ditanami tanaman lain,” ungkap Mbah Dapran. 

Bagaimana Klino akan menjadi sentra buah di Bojonegoro? Ikuti tulisan esok.

FEATURES – Sesekali luangkan waktu menjelajah bagian selatan Bojonegoro. Nikmati durian, buah dari Desa Klino, Kecamatan Sekar yang kini sedang naik daun. Sejak dikenalkan Bupati Bojonegoro Suyoto,  durian dari Klino dinamai Jemblung.  Kini banyak durian jemblung yang mencarinya. Bagaimana asal usul durian di Klino? 

Cuaca cukup bersahabat Minggu (25/2) lalu. Matahari tak menyengat tapi hangat. Semilir angin, menghembus pelan dan sejuk. Alamnya mengingatkan pada cerita novel 7 Manusia Harimau karya Motinggo Busye.

Membayangkan tokoh Harwati sedang bertarung, bermain jurus silat tingkat tinggi dengan Pitaloka di atas perbukitan. Lalu keduanya seperti terbang melayang, saling melompat di atas dahan pohon. Bertarung berkelebatan.   

Berkunjung ke wilayah bagian selatan Bojonegoro pada musim hujan adalah saat yang tepat. Sungai yang jernih airnya. Hutan jati yang daunnya lebat. Terasa segar saat melintas di jalur Bojonegoro-Gondang-Sekar. 

Menuju Desa Klino, Kecamatan Sekar cukup lumayan jauh. Tapi suasana sepanjang perjalanan cukup segar. Badan lelah pun tak terasa. Apalagi jika melihat Kali Pacal yang jernih mengalir, terasa ingin turun dari kendaraan. Lalu mandi di sungai. 

Desa Klino, lokasinya sekitar 50 km dari Bojonegoro. Jarak tempuhnya jika menggunakan kendaraan roda 4 sekitar 2 jam. Menggunakan kendaraan roda 2 sekitar 1 jam lebih sedikit. 

Tiba di Klino, langsung menuju ke rumah kepala desa (kades) setempat. Kades Maryono cukup ramah. Istrinya juga baik. Dia bercerita, ketika Bupati Bojonegoro Suyoto datang ke Klino sebenarnya tanpa sengaja.

Bupati yang akrab disapa Kang Yoto ini tiba-tiba datang, dan ingin mencicipi durian dari Klino. Beruntung, di depan rumah sekretaris desa, ada pohon durian.

Tidak tinggi tapi buahnya lumayan banyak. Ada sekitar sembilan buah durian. Dari sembilan buah, ada dua yang sudah masak. Kang Yoto dan Bu Yoto sempat memetiknya langsung dari pohon. 

Baca Juga :  Lebih Teliti Membaca Resep Dokter

Beberapa kali liputan di Klino, tapi baru mendengar ada durian di sana. Seorang teman yang sudah lama bekerja di Sekar, juga baru mendengar ada durian di Klino. 

Padahal,  tak banyak daerah yang bisa ditanami pohon durian. Pohon yang buah bergerigi ini harus ditanam di atas 60 meter di atas permukaan laut (dpl).

Sementara, di Bojonegoro rata-rata ketinggian tanahnya adalah 10m-20m dpl. “Tapi dataran di wilayah selatan Bojonegoro banyak yang tinggi, hawa di Klino juga dingin, jadi wajar jika ada durian,” kata petani buah dari Baureno, Ismail Hariaji. 

Siapa sebenarnya yang kali pertama menanam durian di Klino? Saya diajak Kades Maryono ke rumah Dapran. Akrab disapa Mbah Dapran.  

Rumahnya di Dusun Kedaton, Desa Klino.  Dari bunderan Klino atau tugu Pancasila ke kiri. Ada jalan bercabang, ambillah jalan yang tak beraspal. Jalan lumayan rusak. Terakhir diperbaiki pada 2013. Agak ber-geronjal. Berbatu.

Tapi kanan kiri jalan hamparan sawah berbentuk terasiring cukup menyenangkan mata. Tampak pula Gunung Pandan, menambah hamparan sawah dan gunung seperti dalam pelajaran bergambar di kelas sekolah dasar. 

Apalagi ada aliran air kecil yang airnya cukup jernih. Jalan ber-geronjal naik turun seperti tak terasa. Di pertigaan Dusun Kedaton, belok ke kiri. Lurus sekitar 50 meter. Kendaraan parkir di halaman rumah warga.

Rumah Mbah Dapran masih masuk ke dalam di belakang. Menyusuri jalan setapak. Agak berlumpur karena usai hujan. Meski jalan berlumpur tapi sedikit bagus karena ada batu kricak, sehingga tak terasa berlumpur.  

Tiba di rumah Mbah Dapran, disambut istrinya. Mbah Dapran sedang keluar rumah. Lalu di mana kebun duriannya? Ternyata di belakang rumah Mbah Dapran. Luas lahan  sekitar 0,5 hektare. Banyak tumbuh pohon porang di kebun Mbah Dapran. 

Baca Juga :  Batas Pengesahan APBD 2021 Akhir Bulan Ini

Ada satu pohon durian yang cukup besar, di pojok kebun. Buahnya sangat lebat. Di sekitarnya juga ada pohon durian yang buahnya tak kalah lebat. Bukan hanya pohon durian yang ditanam. Tapi juga alpukat, rambutan, mangga, matoa, srikaya jumbo. 

Nah,  ini yang unik, ada pohon buah duku. Jumlahnya ada tiga pohon. Belum berbuah tapi sudah cukup tinggi pohonnya.  

Oh ya…pohon durian yang di pojok ternyata usianya cukup tua. Sekitar 30 tahun. Pohon itu ditanam oleh Mbah Dapran sendiri. Kala itu, dia ingin merasakan buah durian. Anaknya kebetulan beli dari Nganjuk. Biji buah durian lalu ditanam di kebunnya. Beruntung, biji yang ditanam tumbuh baik.  

Hingga 30 tahun kemudian, pohon tersebut tumbuh baik. Dalam satu pohon, saat  musim buah ada 200 buah durian. Padahal, Mbah Dapran memiliki 20 pohon durian yang ditanam. 

Lalu untuk apa durian tersebut?  Selain dimakan sendiri oleh keluarga Mbah Dapran, durian tersebut ternyata dijual ke orang lain. Terutama, orang dari luar  Bojonegoro yang kenal dengan Mbah Dapran. 

Pohon durian di Klino ternyata usianya bukan hanya 30 tahun saja. Dari keterangan Mbah Dapran, sejak zaman kolonialisme Belanda, durian sudah ditanam di Klino.

“Mbah saya sudah menanam pohon durian sejak zaman Belanda. Lalu saat itu tak laku, sama anak-anaknya pohon itu ditebangi, lahannya ditanami tanaman lain,” ungkap Mbah Dapran. 

Bagaimana Klino akan menjadi sentra buah di Bojonegoro? Ikuti tulisan esok.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/