alexametrics
30.3 C
Bojonegoro
Wednesday, May 18, 2022

Dana Patungan, Wujudkan Mimpi Anak Sekolah

FEATURES – Memiliki cita  – cita tinggi, tapi terhalang kondisi ekonomi dan restu orang tua. Keadaan itulah yang ingin diubah anggota Komunitas Kertas Kosong. Puluhan anak tertolong untuk meraih mimpinya kembali. 

Wajah Ainul gelisah. Kecemasan tergambar di wajah remaja tersebut. Sesekali, dia menelan ludah dan menundukkan kepalanya. Dia memilih tidak gabung dengan teman lainnya. 

Saat itu, sekolahnya sedang melalukan rapat wali murid. Rapat tersebut membahas salah satunya mengenai rencana anak – anak setelah lulus SMA nanti. Teman – temannya bergerombol di setiap sudut ruangan untuk membicarakan rencana ke depan. 

Ada yang memilih kuliah di luar kota. Bahkan, seorang temannya sudah diterima pada universitas ternama di Jogjakarta. Ainul mulai berpikir untuk menyampaikan hasratnya kepada orang tuanya. Dia memiliki mimpi tinggi untuk pendidikannya. 

Beranjak dari lorong tempatnya duduk di depan kelas, Ainul berjalan menuju aula rapat. Tepat arah jarum jam pukul 15.00, dia melihat sosok ibu paro baya letih dan mengusap keringat di wajahnya.

Guratan keriput dari pipi ibu tersebut tidak bisa dihilangkan. Dia tergerus oleh usia. Ida, ibu kandung Ainul, telah berjuang dengan keras menyekolahkannya sampai bangku SMA. 

Pekerjaan sebagai penjual sayur membuat sang ibu harus bekerja keras untuk membiayai sekolahnya. Apalagi sang ayah sudah meninggal sejak dia duduk di bangku SD. 

Melihat wajah ibunya, angan – angan Aniul dibuyarkan. Bayangan untuk mengenyam pendidikan ke bangku kuliah dibuang jauh – jauh. Ainul mengurungkan niatnya, dan memilih kembali ke kelas. 

Saat itu, anggota komunitas Kertas Kosong kebetulan menjadi salah satu pemateri dalam rapat. Komunitas ini terbentuk untuk memotivasi anak agar terus meraih mimpi dan jangan merasa terbunuh oleh kondisi ekonomi orang tua.

Salah satu anggota komunitas, Santi, mendapati Ainul mengintip saat wali murid rapat. Dia  mulai mendekati dan mengajak ngobrol. “Hai, bisa ngobrol sedikit,” tutur  Santi. 

Baca Juga :  Tidak Sarankan Daun Direbus Dulu

Semula Ainul memilih pergi. Namun, Santi terus mengejarnya dan mengajak bicara. Saat itu, Ainul mulai bercerita mengenai kegelisahan jelang lulus sekolah. Kegelisahan itu bukan karena takut nilai ujiannya jelek.

Dia takut ketika lulus sekolah bagaimana dengan masa depannya. Sedangkan dirinya memiliki cita-cita tinggi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. 

Sementara orang tua memintanya untuk segera bekerja supaya bisa meringankan beban keluarga. “Teman-teman saya sudah diterima di perguruan tinggi, sedangkan saya hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. 

Ainul memang dibesarkan oleh ibunya. Besar harapan ibunya untuk melihat anaknya tumbuh dewasa dan memiliki pekerjaan. Ainul diminta segera menentukan daerah tujuan untuk merantau. 

Dengan merantau, anak gadisnya akan mendapatkan pengalaman dan banyak uang. Apalagi, di kota besar seperti Surabaya dan Semarang. Sang ibu merasa Ainul bisa bekerja sebagai karyawati karena memiliki bekal lulusan SMA. 

Harapan sang ibu itu mengubur semua mimpi Ainul. Di sekolah, guru – gurunya kerap menyarankan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Ainul merupakan anak rajin dengan segudang prestasi di sekolahnya. Dia selalu masuk urutan tiga besar di sekolah. 

Cerita Ainul tersebut membuat Santi tergerak. Setelah mengisi kegiatan rapat, dia tergerak untuk mendiskusikan dengan teman komunitasnya. Mereka akhirnya setuju membantu mengentaskan masalah Ainul.

Santi dkk kemudian menemui Ainul. Dia mendorong agar jangan menyerah untuk meraih mimpi. 

Mereka juga menemui ibunya Ainul. Pertemuan pertama itu, Santi menangkap Ida sangat marah, tapi tidak diperlihatkan. 

Setelah satu persatu anggota komunitasnya pamit, kemarahan ibu dua anak itu membeludak. Buku-buku Ainul dilempar ke halaman. Ida meminta Ainul untuk tidak mengikuti ujian.

Setelah itu, Ainul sulit dihubungi. Hingga akhirnya Eko, anggota komunitas, menemui Ainul di sekolah. 

Baca Juga :  Amankan Dua Warga Tiongkok 

Ternyata, Ainul sudah patah semangat. Dia mengurungkan niatnya untuk kuliah dengan alasan tidak mendapat restu ibu.  Keesokan harinya, Eko mendatangi rumah Ainul bersama teman – temannya. 

Pada pertemuan itu, dia berusaha meyakinkan Ida dengan sejumlah testimoni. Eko menekankan bahwa pendidikan itu tidak selalu masalah biaya.

Pemerintah sudah membuka kesempatan seluas – luasnya supaya anak – anak Indonesia terus mengejar cita-citanya. Budaya putus sekolah atau menikah muda, sudah tidak ada lagi. Meski terlahir di desa, semangat serta mimpi harus tinggi. 

Mendengar cerita itu, Ida mulai menyerahkan semua keputusan pada Ainul. Akhirnya, anggota komunitas membagi tugas agar Ainul bisa masuk perguruan tinggi favorit tanpa biaya.

Berbekal jaringan anggota di Jogjakarta, Semarang, Malang, Solo, dan Surabaya, informasi tentang keinginan Ainul untuk kuliah cepat menyebar.

Ada yang membagikan cerita tersebut kepada komunitas lain di luar kota untuk menjaring informasi beasiswa bidikmisi di universitas.

Ada yang menyiapkan strategi bimbingan belajar (bimbel) untuk Ainul mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri (SMPTN). Beruntungnya, Ainul bisa masuk seleksi SMPTN di Universitas Airlangga dan mendapatkan bidikmisi.

Bahkan dia akhirnya banyak meraih prestasi di fakultas Sastra dan Bahasa Indonesia. “Setiap tahunnya, setidaknya ada 20 anak didampingi memasuki perguruan tinggi,” tuturnya. 

Selama ini, berbagai expo kampus, seminar, bimbel, bahkan mengantarkan anak yang didampingi ke perguruan tinggi dananya dari hasil patungan anggota. “Jadi tidak ada pungutan sedikitpun dari siswa didampingi,” imbuhnya. 

Komunitas ini berharap anak – anak Lamongan jangan sampai putus sekolah. Atau, kesulitan untuk meraih cita – cita. Asalkan ada kemauan, pasti akan ada jalan.

Apalagi, banyak anak memiliki nasib sama tapi bisa sukses. Ketika mendapati permasalahan sama di kampungnya, anggota komunitas kertas kosong akan berdiri paling depan untuk merangkulnya. 

FEATURES – Memiliki cita  – cita tinggi, tapi terhalang kondisi ekonomi dan restu orang tua. Keadaan itulah yang ingin diubah anggota Komunitas Kertas Kosong. Puluhan anak tertolong untuk meraih mimpinya kembali. 

Wajah Ainul gelisah. Kecemasan tergambar di wajah remaja tersebut. Sesekali, dia menelan ludah dan menundukkan kepalanya. Dia memilih tidak gabung dengan teman lainnya. 

Saat itu, sekolahnya sedang melalukan rapat wali murid. Rapat tersebut membahas salah satunya mengenai rencana anak – anak setelah lulus SMA nanti. Teman – temannya bergerombol di setiap sudut ruangan untuk membicarakan rencana ke depan. 

Ada yang memilih kuliah di luar kota. Bahkan, seorang temannya sudah diterima pada universitas ternama di Jogjakarta. Ainul mulai berpikir untuk menyampaikan hasratnya kepada orang tuanya. Dia memiliki mimpi tinggi untuk pendidikannya. 

Beranjak dari lorong tempatnya duduk di depan kelas, Ainul berjalan menuju aula rapat. Tepat arah jarum jam pukul 15.00, dia melihat sosok ibu paro baya letih dan mengusap keringat di wajahnya.

Guratan keriput dari pipi ibu tersebut tidak bisa dihilangkan. Dia tergerus oleh usia. Ida, ibu kandung Ainul, telah berjuang dengan keras menyekolahkannya sampai bangku SMA. 

Pekerjaan sebagai penjual sayur membuat sang ibu harus bekerja keras untuk membiayai sekolahnya. Apalagi sang ayah sudah meninggal sejak dia duduk di bangku SD. 

Melihat wajah ibunya, angan – angan Aniul dibuyarkan. Bayangan untuk mengenyam pendidikan ke bangku kuliah dibuang jauh – jauh. Ainul mengurungkan niatnya, dan memilih kembali ke kelas. 

Saat itu, anggota komunitas Kertas Kosong kebetulan menjadi salah satu pemateri dalam rapat. Komunitas ini terbentuk untuk memotivasi anak agar terus meraih mimpi dan jangan merasa terbunuh oleh kondisi ekonomi orang tua.

Salah satu anggota komunitas, Santi, mendapati Ainul mengintip saat wali murid rapat. Dia  mulai mendekati dan mengajak ngobrol. “Hai, bisa ngobrol sedikit,” tutur  Santi. 

Baca Juga :  Hore, Air Mancur Mini di Alun-Alun

Semula Ainul memilih pergi. Namun, Santi terus mengejarnya dan mengajak bicara. Saat itu, Ainul mulai bercerita mengenai kegelisahan jelang lulus sekolah. Kegelisahan itu bukan karena takut nilai ujiannya jelek.

Dia takut ketika lulus sekolah bagaimana dengan masa depannya. Sedangkan dirinya memiliki cita-cita tinggi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. 

Sementara orang tua memintanya untuk segera bekerja supaya bisa meringankan beban keluarga. “Teman-teman saya sudah diterima di perguruan tinggi, sedangkan saya hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. 

Ainul memang dibesarkan oleh ibunya. Besar harapan ibunya untuk melihat anaknya tumbuh dewasa dan memiliki pekerjaan. Ainul diminta segera menentukan daerah tujuan untuk merantau. 

Dengan merantau, anak gadisnya akan mendapatkan pengalaman dan banyak uang. Apalagi, di kota besar seperti Surabaya dan Semarang. Sang ibu merasa Ainul bisa bekerja sebagai karyawati karena memiliki bekal lulusan SMA. 

Harapan sang ibu itu mengubur semua mimpi Ainul. Di sekolah, guru – gurunya kerap menyarankan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Ainul merupakan anak rajin dengan segudang prestasi di sekolahnya. Dia selalu masuk urutan tiga besar di sekolah. 

Cerita Ainul tersebut membuat Santi tergerak. Setelah mengisi kegiatan rapat, dia tergerak untuk mendiskusikan dengan teman komunitasnya. Mereka akhirnya setuju membantu mengentaskan masalah Ainul.

Santi dkk kemudian menemui Ainul. Dia mendorong agar jangan menyerah untuk meraih mimpi. 

Mereka juga menemui ibunya Ainul. Pertemuan pertama itu, Santi menangkap Ida sangat marah, tapi tidak diperlihatkan. 

Setelah satu persatu anggota komunitasnya pamit, kemarahan ibu dua anak itu membeludak. Buku-buku Ainul dilempar ke halaman. Ida meminta Ainul untuk tidak mengikuti ujian.

Setelah itu, Ainul sulit dihubungi. Hingga akhirnya Eko, anggota komunitas, menemui Ainul di sekolah. 

Baca Juga :  Hukuman Produsen Arak Kian Menyesakkan

Ternyata, Ainul sudah patah semangat. Dia mengurungkan niatnya untuk kuliah dengan alasan tidak mendapat restu ibu.  Keesokan harinya, Eko mendatangi rumah Ainul bersama teman – temannya. 

Pada pertemuan itu, dia berusaha meyakinkan Ida dengan sejumlah testimoni. Eko menekankan bahwa pendidikan itu tidak selalu masalah biaya.

Pemerintah sudah membuka kesempatan seluas – luasnya supaya anak – anak Indonesia terus mengejar cita-citanya. Budaya putus sekolah atau menikah muda, sudah tidak ada lagi. Meski terlahir di desa, semangat serta mimpi harus tinggi. 

Mendengar cerita itu, Ida mulai menyerahkan semua keputusan pada Ainul. Akhirnya, anggota komunitas membagi tugas agar Ainul bisa masuk perguruan tinggi favorit tanpa biaya.

Berbekal jaringan anggota di Jogjakarta, Semarang, Malang, Solo, dan Surabaya, informasi tentang keinginan Ainul untuk kuliah cepat menyebar.

Ada yang membagikan cerita tersebut kepada komunitas lain di luar kota untuk menjaring informasi beasiswa bidikmisi di universitas.

Ada yang menyiapkan strategi bimbingan belajar (bimbel) untuk Ainul mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri (SMPTN). Beruntungnya, Ainul bisa masuk seleksi SMPTN di Universitas Airlangga dan mendapatkan bidikmisi.

Bahkan dia akhirnya banyak meraih prestasi di fakultas Sastra dan Bahasa Indonesia. “Setiap tahunnya, setidaknya ada 20 anak didampingi memasuki perguruan tinggi,” tuturnya. 

Selama ini, berbagai expo kampus, seminar, bimbel, bahkan mengantarkan anak yang didampingi ke perguruan tinggi dananya dari hasil patungan anggota. “Jadi tidak ada pungutan sedikitpun dari siswa didampingi,” imbuhnya. 

Komunitas ini berharap anak – anak Lamongan jangan sampai putus sekolah. Atau, kesulitan untuk meraih cita – cita. Asalkan ada kemauan, pasti akan ada jalan.

Apalagi, banyak anak memiliki nasib sama tapi bisa sukses. Ketika mendapati permasalahan sama di kampungnya, anggota komunitas kertas kosong akan berdiri paling depan untuk merangkulnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Seleksi Persibo Dibanjiri Pemain

Motivasi Lewati Bek Tertangguh

MASIH ADA TIGA LAGA

Artikel Terbaru


/