alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Sosok KH Sholeh, Imam Masjid Darussalam

Embrio berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) di Bojonegoro tak lepas dari jasa sosok KH Sholeh bin Hasyim. Sosok kiai bersahaja kelahiran Desa/Kecamatan Padangan, ini tinggal di Desa Kauman, Kecamatan Bojonegoro Kota. Hijrah ke wilayah perkotaan, karena ingin membesarkan NU di Bumi Rajekwesi. 

Jawa Pos Radar Bojonegoro berusaha menelusuri sosok KH. Sholeh melalui keturunannya. Sosok pembawa keorganisasian NU ke wilayah kota ini belum banyak tersibak di literatur buku. Bahkan, foto sosok sang kiai ini belum banyak diketahui. Akhirnya, bisa bertemu dua cucunya yang bernama Moh. Fakhruddin dan Luluatul Fuadiyah.

Kedua cucu tersebut merupakan anak dari anak kelima KH Sholeh Hasyim yang bernama Siti Tsuraiya. Adapun KH Sholeh Hasyim memiliki tujuh anak. Di antaranya Masruroh tinggal di Cepu, Blora.

Abdul Muim tinggal di Lampung, Abdul Rohman tinggal di Jakarta, Abdul Rosyad tinggal di Jogjakarta, Siti Tsuraiya tinggal di Bojonegoro, Siti Zahroh tinggal di Jakarta, dan Chunaini tinggal di Jakarta. Namun, dari ketujuh anaknya, saat ini yang masih hidup yakni Abdul Rosyad dan Chunaini.

Tak banyak cerita dari sosok KH Sholeh Hasyim. Karena, ketika Moh. Fakhruddin lahir 1967, KH Sholeh Hasyim telah wafat. Pertemuan dengan pria yang akrab disapa Gus Ud itu di rumahnya turut Desa Bondol, Kecamatan Ngambon. Secuil cerita mungkin Gus Ud dapatkan dari Mbah Mursidah atau istri KH Sholeh Hasyim.

KH Sholeh Hasyim memang dikenal sebagai imam dan khatib di Masjid Besar Darussalam Bojonegoro. Jamaah masjid maupun warga Desa Kauman kerap mengagumi merdunya suara KH Sholeh Hasyim setiap memimpin salat maupun saat mengaji.

Merasa kurang paham sepak terjang KH. Sholeh Hasyim, Gus Ud menghubungi anak bungsu KH. Sholeh Hasyim yakni Chunaini melalui sambungan telepon. Akhirnya, dia mendapat cerita bahwa KH Sholeh Hasyim merupakan ahli qari, pembaca Alquran dengan suara merdu.

Suara membaca Alquran yang merdu itu pun membawa KH. Sholeh berpetualang berdakwah. “Sehingga, saat masa-masa berdirinya NU di berbagai kabupaten sekitar 1928-an itu, Mbah Sholeh Hasyim sering diajak Mbah Wahab Hasbullah untuk qari di acara peresmian NU,” ujarnya menirukan cerita dari Chunaini.

Baca Juga :  MK Tolak Gugatan Pilkada, Kans Yes Bro Dilantik Akhir Bulan Ini

KH Wahab Hasbullah merupakan salah satu pendiri NU dan kini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Bagaimana kedekatannya KH Wahab Hasubullah dengan KH. Sholeh? Ternyata, awal berdirinya NU pada 1926 itu, tak lepas dari peran KH. Wahab Hasbulloh, yang sering melakukan perjalanan dari Jombang menuju kediaman KH Asnawi di Kudus.

Nah, selama perjalanan darat itu, ulama pengarang syair “Subhanul Lal Wathon”, kerap kali silaturahmi ke beberapa koleganya. Mulai di Babat, Padangan, Cepu, Rembang, dan Pati. Ketika di Bojonegoro, KH. Wahab Hasbullah singgah di kediamam KH. Hasyim di Dusun Jala’an, Desa/Kecamatan Padangan. Sehingga, mengetahui sosok KH Sholeh, putra KH. Hasyim yang memiliki suara merdu membaca Alquran.

Tetapi, cerita terkait KH Sholeh Hasyim pun tak begitu banyak dari Chunaini, karena KH Sholeh Hasyim wafat saat Chunaini masih bayi. KH Sholeh Hasyim wafat di usia 48 tahun, pada 1948.

Menurut cerita dari Chunaini, KH Sholeh Hasyim wafat akibat sakit hipertensi. Sedangkan, istri KH Sholeh Hasyim, Mbah Mursidah meninggal pada 1990. Keduanya dimakamkan tempat pemakaman umum (TPU) belakang Masjid Besar Darussaalam Bojonegoro. Kenangan diingat semasa hidup KH Sholeh Hasyim yakni telah mendirikan madrasah khusus putri di Desa Kauman. “Sekolah tersebut merupakan cikal bakal dari MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri) Kepatihan,” imbuh Gus Ud.

Namun, selama perjalanan membawa NU ke Bojonegoro, KH Sholeh Hasyim, tentu mendapat pengawasan kolonial Belanda dan Jepang. Kebetulan masa dakwahnya bersamaan dengan masa penjajahan. Cerita perihal perjuangan KH Sholeh Hasyim di masa itu juga tidak diketahui. Tetapi, Chunaini bercerita di rumah Desa Kauman itu ada satu kamar kecil berisi tombak, pedang, keris, dan bambu runcing.

Sepeninggal KH Sholeh Hasyim, tidak ada satupun anak maupun cucunya yang boleh memegang senjata-senjata tersebut oleh Mbah Mursidah. “Kemungkinan senjata-senjata itu dipakai untuk melindungi pada masa penjajahan. Tapi, cerita detail perjuangan Mbah Sholeh Hasyim, kami kurang tahu,” ucap anak keempat dari sepuluh bersaudara pasangan Siti Tsuraiya dan Mashudi tersebut.

Baca Juga :  Muslimat Klaim Suara Jokowi 60 Persen Lebih

Berdasar buku NU Bojonegoro dalam Lintas Sejarah, penulis H. Anas Yusuf memastikan, sebelum ada NU Bojonegoro, awalnya berdiri dulu NU di Padangan. Berdasar buku diterbitkan 2008 itu, NU Padangan berdiri pada 1938. Berdiri saat penjajahan kolonial masih mencengkeram.

Sementara, NU Bojonegoro berdiri secara kelembagaan pada 1953. Berdasar penuturan Anas Yusuf ditemui Januari 2019, pada 1942, Bojonegoro di bawah kepemimpinan Residen Scheltema pun tumbang. Jepang telah memenangkan peperangan.

Pada 9 Maret 1942, bupati Bojonegoro saat itu adalah Raden Tumenggung Aryo Achmad Soeryoadi. Nah, di zaman itu NU tetap bergerak meski belum terlembaga. Ketokohan KH Hasyim Jala’an menjadi perhatian Residen Bojonegoro. Akhirnya, mengangkat KH Sholeh Hasyim sebagai imam dan khatib Masjid Agung Darussalam. Dan, KH Sholeh tak lain putra KH Hasyim Jala’an diangkat diambil menantu K. Yahya Kauman.

Awal pengabdian KH. Sholeh Hasyim di Bojonegoro menjadi embrio kelahiran NU di Bojonegoro. Meskipun saat itu sudah ada beberapa pendidikan pesantren seperti di Kendal, Sumbertlaseh, Sukorejo, Banjarsari, Wedi, Kalitidu, hingga Desa Sekaran, Kecamatan Balen. Gencar berdakwah, akhirnya KH Sholeh wafat pada 1948. Tepatnya diusinya 48 tahun. Dan dimakamkan di belakang Masjid Agung Darussalam Bojonegoro.

Berdasar buku NU Bojonegoro dalam Lintas Sejarah, sepeninggal KH. Sholeh, upaya menggerakkan NU dilanjutkan K. Rachmat Zuber, dari Ponpes Al Falah Mangunsari, Tulungagung. Kiai Rachmat Zuber diboyong ke Bojonegoro oleh residen. Seperti KH Sholeh, Kiai Rachmat Zuber diberi tugas menjadi imam Masjid Agung Darussalam.

Sejak menetap di Desa Kauman, Kiai Rachmat Zuber mengenalkan NU melalui pengajian dan kemampuan dakwah yang handal. Setahun teguh berdakwah, hingga berita keputusan Muktamar NU 1952 memastikan NU keluar dari Masyumi. Gayung bersambut, pada 1953 digelar Muktamar NU di Kediri. Kiai Rachmat Zuber, bersama Kiai Balya dan Kiai Dimyati hadir di konferensi. Dan, saat itu meresmikan NU Bojonegoro.

Embrio berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) di Bojonegoro tak lepas dari jasa sosok KH Sholeh bin Hasyim. Sosok kiai bersahaja kelahiran Desa/Kecamatan Padangan, ini tinggal di Desa Kauman, Kecamatan Bojonegoro Kota. Hijrah ke wilayah perkotaan, karena ingin membesarkan NU di Bumi Rajekwesi. 

Jawa Pos Radar Bojonegoro berusaha menelusuri sosok KH. Sholeh melalui keturunannya. Sosok pembawa keorganisasian NU ke wilayah kota ini belum banyak tersibak di literatur buku. Bahkan, foto sosok sang kiai ini belum banyak diketahui. Akhirnya, bisa bertemu dua cucunya yang bernama Moh. Fakhruddin dan Luluatul Fuadiyah.

Kedua cucu tersebut merupakan anak dari anak kelima KH Sholeh Hasyim yang bernama Siti Tsuraiya. Adapun KH Sholeh Hasyim memiliki tujuh anak. Di antaranya Masruroh tinggal di Cepu, Blora.

Abdul Muim tinggal di Lampung, Abdul Rohman tinggal di Jakarta, Abdul Rosyad tinggal di Jogjakarta, Siti Tsuraiya tinggal di Bojonegoro, Siti Zahroh tinggal di Jakarta, dan Chunaini tinggal di Jakarta. Namun, dari ketujuh anaknya, saat ini yang masih hidup yakni Abdul Rosyad dan Chunaini.

Tak banyak cerita dari sosok KH Sholeh Hasyim. Karena, ketika Moh. Fakhruddin lahir 1967, KH Sholeh Hasyim telah wafat. Pertemuan dengan pria yang akrab disapa Gus Ud itu di rumahnya turut Desa Bondol, Kecamatan Ngambon. Secuil cerita mungkin Gus Ud dapatkan dari Mbah Mursidah atau istri KH Sholeh Hasyim.

KH Sholeh Hasyim memang dikenal sebagai imam dan khatib di Masjid Besar Darussalam Bojonegoro. Jamaah masjid maupun warga Desa Kauman kerap mengagumi merdunya suara KH Sholeh Hasyim setiap memimpin salat maupun saat mengaji.

Merasa kurang paham sepak terjang KH. Sholeh Hasyim, Gus Ud menghubungi anak bungsu KH. Sholeh Hasyim yakni Chunaini melalui sambungan telepon. Akhirnya, dia mendapat cerita bahwa KH Sholeh Hasyim merupakan ahli qari, pembaca Alquran dengan suara merdu.

Suara membaca Alquran yang merdu itu pun membawa KH. Sholeh berpetualang berdakwah. “Sehingga, saat masa-masa berdirinya NU di berbagai kabupaten sekitar 1928-an itu, Mbah Sholeh Hasyim sering diajak Mbah Wahab Hasbullah untuk qari di acara peresmian NU,” ujarnya menirukan cerita dari Chunaini.

Baca Juga :  Tanpa Momen, Penjualan Lesu

KH Wahab Hasbullah merupakan salah satu pendiri NU dan kini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Bagaimana kedekatannya KH Wahab Hasubullah dengan KH. Sholeh? Ternyata, awal berdirinya NU pada 1926 itu, tak lepas dari peran KH. Wahab Hasbulloh, yang sering melakukan perjalanan dari Jombang menuju kediaman KH Asnawi di Kudus.

Nah, selama perjalanan darat itu, ulama pengarang syair “Subhanul Lal Wathon”, kerap kali silaturahmi ke beberapa koleganya. Mulai di Babat, Padangan, Cepu, Rembang, dan Pati. Ketika di Bojonegoro, KH. Wahab Hasbullah singgah di kediamam KH. Hasyim di Dusun Jala’an, Desa/Kecamatan Padangan. Sehingga, mengetahui sosok KH Sholeh, putra KH. Hasyim yang memiliki suara merdu membaca Alquran.

Tetapi, cerita terkait KH Sholeh Hasyim pun tak begitu banyak dari Chunaini, karena KH Sholeh Hasyim wafat saat Chunaini masih bayi. KH Sholeh Hasyim wafat di usia 48 tahun, pada 1948.

Menurut cerita dari Chunaini, KH Sholeh Hasyim wafat akibat sakit hipertensi. Sedangkan, istri KH Sholeh Hasyim, Mbah Mursidah meninggal pada 1990. Keduanya dimakamkan tempat pemakaman umum (TPU) belakang Masjid Besar Darussaalam Bojonegoro. Kenangan diingat semasa hidup KH Sholeh Hasyim yakni telah mendirikan madrasah khusus putri di Desa Kauman. “Sekolah tersebut merupakan cikal bakal dari MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri) Kepatihan,” imbuh Gus Ud.

Namun, selama perjalanan membawa NU ke Bojonegoro, KH Sholeh Hasyim, tentu mendapat pengawasan kolonial Belanda dan Jepang. Kebetulan masa dakwahnya bersamaan dengan masa penjajahan. Cerita perihal perjuangan KH Sholeh Hasyim di masa itu juga tidak diketahui. Tetapi, Chunaini bercerita di rumah Desa Kauman itu ada satu kamar kecil berisi tombak, pedang, keris, dan bambu runcing.

Sepeninggal KH Sholeh Hasyim, tidak ada satupun anak maupun cucunya yang boleh memegang senjata-senjata tersebut oleh Mbah Mursidah. “Kemungkinan senjata-senjata itu dipakai untuk melindungi pada masa penjajahan. Tapi, cerita detail perjuangan Mbah Sholeh Hasyim, kami kurang tahu,” ucap anak keempat dari sepuluh bersaudara pasangan Siti Tsuraiya dan Mashudi tersebut.

Baca Juga :  Pagu Siswa Kurang Mampu Sebanyak 15 Persen di Setiap SMPN

Berdasar buku NU Bojonegoro dalam Lintas Sejarah, penulis H. Anas Yusuf memastikan, sebelum ada NU Bojonegoro, awalnya berdiri dulu NU di Padangan. Berdasar buku diterbitkan 2008 itu, NU Padangan berdiri pada 1938. Berdiri saat penjajahan kolonial masih mencengkeram.

Sementara, NU Bojonegoro berdiri secara kelembagaan pada 1953. Berdasar penuturan Anas Yusuf ditemui Januari 2019, pada 1942, Bojonegoro di bawah kepemimpinan Residen Scheltema pun tumbang. Jepang telah memenangkan peperangan.

Pada 9 Maret 1942, bupati Bojonegoro saat itu adalah Raden Tumenggung Aryo Achmad Soeryoadi. Nah, di zaman itu NU tetap bergerak meski belum terlembaga. Ketokohan KH Hasyim Jala’an menjadi perhatian Residen Bojonegoro. Akhirnya, mengangkat KH Sholeh Hasyim sebagai imam dan khatib Masjid Agung Darussalam. Dan, KH Sholeh tak lain putra KH Hasyim Jala’an diangkat diambil menantu K. Yahya Kauman.

Awal pengabdian KH. Sholeh Hasyim di Bojonegoro menjadi embrio kelahiran NU di Bojonegoro. Meskipun saat itu sudah ada beberapa pendidikan pesantren seperti di Kendal, Sumbertlaseh, Sukorejo, Banjarsari, Wedi, Kalitidu, hingga Desa Sekaran, Kecamatan Balen. Gencar berdakwah, akhirnya KH Sholeh wafat pada 1948. Tepatnya diusinya 48 tahun. Dan dimakamkan di belakang Masjid Agung Darussalam Bojonegoro.

Berdasar buku NU Bojonegoro dalam Lintas Sejarah, sepeninggal KH. Sholeh, upaya menggerakkan NU dilanjutkan K. Rachmat Zuber, dari Ponpes Al Falah Mangunsari, Tulungagung. Kiai Rachmat Zuber diboyong ke Bojonegoro oleh residen. Seperti KH Sholeh, Kiai Rachmat Zuber diberi tugas menjadi imam Masjid Agung Darussalam.

Sejak menetap di Desa Kauman, Kiai Rachmat Zuber mengenalkan NU melalui pengajian dan kemampuan dakwah yang handal. Setahun teguh berdakwah, hingga berita keputusan Muktamar NU 1952 memastikan NU keluar dari Masyumi. Gayung bersambut, pada 1953 digelar Muktamar NU di Kediri. Kiai Rachmat Zuber, bersama Kiai Balya dan Kiai Dimyati hadir di konferensi. Dan, saat itu meresmikan NU Bojonegoro.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/