29.3 C
Bojonegoro
Wednesday, November 30, 2022

Tonase Berlebih Perburuk Jalur Barat

- Advertisement -

BOJONEGORO – Kondisi jalan di kawasan jalur barat Bojonegoro kian parah. Selain dampak dari cuaca hujan, banyaknya lubang di kawasan (Kalitidu, Ngasem, dan Gayam) juga disebabkan maraknya kendaraan melebihi tonase yang melintas. Sehingga, berdampak pada banyaknya lubang di jalan. Terutama di Desa Setren Kecamatan Ngasem, banyak lubang berukuran besar mulai terlihat. 

Kepala UPTD VII DPU Bina Marga Bojonegoro, Fajar Dwi Nurrizki mengatakan, cuaca ekstrim dan curah hujan tinggi memang masih menjadi kendala pemeliharaan jalan.

Sebab, konstruksi aspal di kawasan UPTD VII (Kalitidu, Ngasem, Gayam) mudah mengelupas karena tergerus air. Ditambah lagi adanya sejumlah angkutan dengan tonase berlebih memperburuk struktur jalan. 

“Memang itu menjadi kendala kita, selain cuaca hujan juga kendaraan dengan tonase berlebih,” ucap Fajar kemarin (31/1) 

Baca Juga :  Persibo Bojonegoro Batal ke Pasuruan, Lawan Klub Lokal

Fajar menjelaskan, sejumlah kawasan di jalur barat memang banyak lubang. Terutama di kawasan Desa Trenggulun Ngasem- Desa Ngambon Kecamatan Ngambon.

- Advertisement -

Di jalur sepanjang 2 kilometer dengan lebar enam meter itu, memang banyak ditemui lubang di tengah jalan raya. Penyebabnya tentu cuaca buruk dan mobilitas kendaraan dengan tonase berlebih.

Meski hanya bersifat tanggap darurat, kata dia, jalur tersebut kini sedang mulai diperbaiki. Dengan anggaran untuk UPTD VII sebesar Rp 450 juta, dia mengaku hanya memperbaiki kawasan prioritas.

Setidaknya, kawasan-kawasan yang memang dalam kondisi kerusakan parah. Seperti kawasan di Trenggulun-Ngambon tersebut.

meski belum bisa mencakup seluruh kawasan karena keterbatasan anggaran, dia berharap agar para pengguna jalan lebih mematuhi aturan tonase agar tidak memperburuk kondisi jalan.

Baca Juga :  Berkat NPK Pelangi JOS, Produktivitas Sawi Putih di Cianjur Naik 49 Persen

Sebab, dia mengaku, banyak kendaraan berat masih bebas melintas. 

Selain banyaknya kendaraan bertonase berat melintasi jalan kabupaten, rawannya kerusakan di jalanan tersebut juga disebabkan banyaknya masyarakat setempat melubangi badan jalan dengan pipa paralon.

Tentu saja, kondisi itu bisa memicu badan jalan retak. Sayangnya, belum banyak masyarakat menyadari hal itu. Sejumlah penyebab itu memicu kawasan tersebut identik dengan jalan berlubang. 

“Bahkan  masih sering ditemui kegiatan mengurangi debit air sawah dengan dibuang di badan jalan. Tentu itu berdampak buruk bagi struktur aspal,” pungkas dia.    

BOJONEGORO – Kondisi jalan di kawasan jalur barat Bojonegoro kian parah. Selain dampak dari cuaca hujan, banyaknya lubang di kawasan (Kalitidu, Ngasem, dan Gayam) juga disebabkan maraknya kendaraan melebihi tonase yang melintas. Sehingga, berdampak pada banyaknya lubang di jalan. Terutama di Desa Setren Kecamatan Ngasem, banyak lubang berukuran besar mulai terlihat. 

Kepala UPTD VII DPU Bina Marga Bojonegoro, Fajar Dwi Nurrizki mengatakan, cuaca ekstrim dan curah hujan tinggi memang masih menjadi kendala pemeliharaan jalan.

Sebab, konstruksi aspal di kawasan UPTD VII (Kalitidu, Ngasem, Gayam) mudah mengelupas karena tergerus air. Ditambah lagi adanya sejumlah angkutan dengan tonase berlebih memperburuk struktur jalan. 

“Memang itu menjadi kendala kita, selain cuaca hujan juga kendaraan dengan tonase berlebih,” ucap Fajar kemarin (31/1) 

Baca Juga :  Rekom Raperda RTRW dari Kementerian Belum Turun

Fajar menjelaskan, sejumlah kawasan di jalur barat memang banyak lubang. Terutama di kawasan Desa Trenggulun Ngasem- Desa Ngambon Kecamatan Ngambon.

- Advertisement -

Di jalur sepanjang 2 kilometer dengan lebar enam meter itu, memang banyak ditemui lubang di tengah jalan raya. Penyebabnya tentu cuaca buruk dan mobilitas kendaraan dengan tonase berlebih.

Meski hanya bersifat tanggap darurat, kata dia, jalur tersebut kini sedang mulai diperbaiki. Dengan anggaran untuk UPTD VII sebesar Rp 450 juta, dia mengaku hanya memperbaiki kawasan prioritas.

Setidaknya, kawasan-kawasan yang memang dalam kondisi kerusakan parah. Seperti kawasan di Trenggulun-Ngambon tersebut.

meski belum bisa mencakup seluruh kawasan karena keterbatasan anggaran, dia berharap agar para pengguna jalan lebih mematuhi aturan tonase agar tidak memperburuk kondisi jalan.

Baca Juga :  Calon Jemaah Haji Bojonegoro Menunggu Pembagian Koper

Sebab, dia mengaku, banyak kendaraan berat masih bebas melintas. 

Selain banyaknya kendaraan bertonase berat melintasi jalan kabupaten, rawannya kerusakan di jalanan tersebut juga disebabkan banyaknya masyarakat setempat melubangi badan jalan dengan pipa paralon.

Tentu saja, kondisi itu bisa memicu badan jalan retak. Sayangnya, belum banyak masyarakat menyadari hal itu. Sejumlah penyebab itu memicu kawasan tersebut identik dengan jalan berlubang. 

“Bahkan  masih sering ditemui kegiatan mengurangi debit air sawah dengan dibuang di badan jalan. Tentu itu berdampak buruk bagi struktur aspal,” pungkas dia.    

Artikel Terkait

Perantara Sabu Divonis Lima Tahun

Perjuangan DBH sejak 2009 Lalu

Dinas PMD Masih Konsultasi dengan Pakar

Tensi Tinggi, Dua Pemain Dikartu Merah

Most Read

Artikel Terbaru

Demi Cewek di Luar Negeri, Curi HP

Suka Mewarnai Spongebob

Tingkatkan Sinergi Hadapi Resesi

Volume Waduk 50 Persen


/