RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah Anda merasa baru saja membicarakan sebuah produk dengan teman, lalu tiba-tiba iklan produk tersebut muncul di layar ponsel?
Atau mungkin Anda sering menerima telepon dari nomor tidak dikenal yang menawarkan pinjaman online? Jika iya, itu adalah tanda nyata bahwa data pribadi Anda sedang "berkeliling" di dunia maya.
Tepat hari ini, 28 Januari 2026, dunia merayakan Hari Privasi Data Internasional (Data Privacy Day). Momen ini bukan sekadar seremoni kalender, melainkan pengingat keras bagi kita semua bahwa di era serba digital ini, privasi adalah kemewahan yang harus diperjuangkan sendiri.
Mengapa Tahun 2026 Menjadi Titik Balik?
Di Indonesia, kesadaran akan keamanan digital sedang berada di puncaknya. Netizen kini tidak lagi hanya berbagi foto makanan, tetapi juga mulai aktif mengedukasi satu sama lain tentang pentingnya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).
Undang-undang ini adalah "perisai" hukum yang memastikan bahwa setiap perusahaan atau pihak yang mengelola data kita tidak bisa semena-mena. Jika mereka ceroboh dan data kita bocor, ada sanksi berat yang menanti.
Tips Sederhana agar Tetap Aman (Tanpa Perlu Jadi Ahli IT)
Banyak orang malas mengurus privasi karena dianggap rumit. Padahal, ada tiga langkah sederhana yang bisa Anda lakukan sekarang juga:
Ganti Password "Pasaran" Anda: Lupakan tanggal lahir atau nama peliharaan. Gunakan kombinasi unik atau lebih baik lagi, gunakan Passkey atau Password Manager. Ingat, satu kata sandi untuk semua akun adalah undangan terbuka bagi peretas.
Aktifkan 2FA (Two-Factor Authentication): Ini adalah kunci ganda. Meski peretas tahu kata sandi Anda, mereka tetap tidak bisa masuk tanpa kode verifikasi yang masuk ke ponsel Anda.
Berhenti Jadi "Si Paling Update": Hindari memposting foto KTP, tiket pesawat, atau kartu vaksin di media sosial. Kode QR pada tiket mengandung data pribadi yang bisa dibaca dengan aplikasi sederhana.
Ada anggapan keliru yang berbunyi, "Saya tidak perlu privasi karena saya tidak menyembunyikan apa pun."
Ini adalah pola pikir yang berbahaya. Privasi bukan tentang memiliki rahasia gelap, melainkan tentang hak untuk menentukan siapa yang boleh mengakses identitas kita.
Data Anda, mulai dari lokasi, kebiasaan belanja, hingga riwayat kesehatan, adalah komoditas mahal. Jangan biarkan orang lain mengambil untung dari data Anda tanpa izin.
Hari Privasi Data adalah waktu yang tepat untuk "bersih-bersih" digital. Mulailah dengan memeriksa izin aplikasi di ponsel Anda dan lebih selektif dalam membagikan informasi.
Jangan tunggu sampai menjadi korban penipuan online baru Anda mulai peduli. Yuk, jadi netizen yang cerdas dan berdaya! (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko