RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ada orang yang merasa tidak masalah ketika kursi dipenuhi baju, lemari sesak oleh barang lama, atau sudut rumah menyimpan benda yang belum tentu akan digunakan kembali.
Bagi mereka, menyimpan terasa lebih aman daripada melepas. Kebiasaan ini sering dianggap wajar dan manusiawi. Namun, dalam psikologi, perilaku tersebut tidak dipandang netral.
Psikologi kepribadian melihat kebiasaan menumpuk barang sebagai refleksi dari cara seseorang berpikir, mengelola rasa aman, dan menghadapi ketidakpastian.
Bukan soal malas atau tidak rapi, melainkan tentang pola mental yang terbentuk dan terus diulang dalam kehidupan sehari-hari.
1. Cenderung Berhati Hati dan Berorientasi pada Masa Depan
Orang yang menyimpan barang dengan alasan “nanti dipakai” umumnya memiliki pola pikir antisipatif. Mereka terbiasa membayangkan kemungkinan yang akan datang, termasuk skenario yang belum tentu terjadi. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan future oriented thinking yang kuat.
Sifat ini sering ditemukan pada pribadi yang:
-
tidak impulsif,
-
mempertimbangkan banyak kemungkinan,
-
lebih nyaman ketika memiliki cadangan.
Namun, ketika orientasi masa depan terlalu dominan, individu bisa kesulitan hidup di masa kini dan cenderung menahan lebih banyak hal daripada yang dibutuhkan.
2. Memiliki Keterikatan Emosional terhadap Benda
Bagi sebagian orang, barang bukan sekadar alat, tetapi simbol. Psikologi menyebutnya sebagai keterikatan emosional terhadap objek. Barang bisa merepresentasikan usaha, fase hidup, atau identitas diri.
Kepribadian dengan ciri ini biasanya reflektif dan memiliki memori emosional yang kuat. Masalah muncul ketika keterikatan tersebut tidak disadari. Barang disimpan bukan karena fungsinya, melainkan karena emosi yang melekat di dalamnya.
3. Sulit Mengambil Keputusan yang Bersifat Final
Membuang barang adalah keputusan yang sifatnya final. Bagi kepribadian yang cenderung hati hati dan menghindari penyesalan, keputusan semacam ini terasa tidak nyaman. Psikologi menyebutnya sebagai kecenderungan decision avoidance.
Orang dengan pola ini biasanya:
-
ingin mengambil keputusan paling aman,
-
takut membuat pilihan yang salah,
-
lebih memilih menunda daripada menyesal.
Menumpuk barang menjadi jalan tengah yang terasa aman secara emosional.
4. Kebutuhan Tinggi terhadap Rasa Aman dan Kontrol
Psikologi kepribadian menunjukkan bahwa sebagian individu memiliki kebutuhan rasa aman yang lebih tinggi dibanding yang lain. Menyimpan barang memberi ilusi kontrol atas masa depan, seolah seseorang sudah siap menghadapi kemungkinan buruk.
Sifat ini sering berkembang pada orang yang:
-
pernah mengalami ketidakstabilan hidup,
-
tumbuh dalam kondisi serba terbatas,
-
terbiasa mengandalkan diri sendiri.
Barang menjadi bentuk perlindungan yang konkret dan mudah diakses.
5. Bertanggung Jawab, tetapi Rentan Lelah Mental
Menariknya, banyak orang dengan kebiasaan ini dikenal bertanggung jawab dan dapat diandalkan. Mereka terbiasa memikirkan banyak hal sekaligus dan jarang bertindak sembarangan.
Namun, sisi lainnya adalah kelelahan mental. Terlalu banyak hal yang disimpan, baik secara fisik maupun emosional, membuat otak terus bekerja tanpa jeda. Rumah pun kehilangan fungsi sebagai ruang pemulihan.
6. Bukan Tanda Gangguan Kepribadian
Perlu ditegaskan, kebiasaan menumpuk barang bukan gangguan kepribadian dan tidak identik dengan hoarding disorder. Selama rumah masih berfungsi, relasi sosial berjalan normal, dan tidak menimbulkan tekanan berat, perilaku ini berada dalam batas kebiasaan psikologis yang umum.
Psikologi memandangnya sebagai spektrum perilaku, bukan label hitam putih.
7. Apa yang Bisa Dipahami dari Kebiasaan Ini
Alih alih memaksa diri berubah secara ekstrem, psikologi menyarankan refleksi. Kebiasaan menumpuk barang sering kali menjadi sinyal bahwa seseorang:
-
sedang membutuhkan rasa aman,
-
lelah mengambil terlalu banyak keputusan,
-
atau belum siap melepas fase tertentu dalam hidupnya.
Perubahan yang sehat biasanya dimulai dari kesadaran, bukan paksaan.
Orang yang terbiasa menumpuk barang dan berpikir “nanti dipakai” sering kali bukan orang yang bermasalah, melainkan orang yang berhati hati, bertanggung jawab, dan sangat menghargai rasa aman. Masalah muncul ketika kebiasaan ini berjalan tanpa disadari dan perlahan membebani ruang hidup serta pikiran.
Psikologi tidak menuntut hidup serba kosong, tetapi hidup yang sadar. Karena pada akhirnya, yang paling melelahkan bukan kekurangan, melainkan terlalu banyak hal yang terus disimpan tanpa benar benar dipahami alasannya. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari