Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

BMKG Stamet Juanda Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem Melanda Jawa Timur, Begini Penyebabnya

Yuan Edo Ramadhana • Rabu, 22 Oktober 2025 | 00:40 WIB
HUJAN DI AGUSTUS: Pengendara menerjang hujan kemarin (19/8)
HUJAN DI AGUSTUS: Pengendara menerjang hujan kemarin (19/8)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Wilayah Kabupaten Bojonegoro berpotensi menghadapi cuaca ekstrem lebih awal sepanjang minggu ini mulai Senin (20/10). Hal ini diungkap oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Fisika (BMKG) Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Juanda Sidoarjo.

Melalui rilis resmi BMKG, Kepala Stamet Juanda Taufiq Hermawan menjelaskan, curah hujan yang meningkat di wilayah Jawa Timur berpotensi meningkatkan resiko bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, tanah longsor dan putting beliung hingga 29 Oktober mendatang. “Saat ini sebagian wilayah Jawa Timur berada pada masa pancaroba, sementara sebagian lainnya sudah memasuki awal musim hujan,” jelas Taufiq.

Mayoritas wilayah Jawa Timur, termasuk Bojonegoro termasuk dalam aktivitas peningkatan curah hujan yang terjadi. Pengamatan Jawa Pos Radar Bojonegoro pada Selasa (21/10) dari citra radar WOFI milik BMKG Stamet Juanda, Tuban dan Lamongan masih terpantau cerah tak berawan, sementara Bojonegoro mulai dihinggapi awan hujan dengan curah hujan ringan.

Secara spesifik, curah hujan paling tinggi terletak di wilayah Bojonegoro selatan, terutama sebagian wilayah Gayam, dan wilayah Ngambon hingga mendekati perbatasan Madiun. Pun demikian hujan diperkirakan turun dengan intensitas sedang.

Sebaliknya, wilayah perbatasan Bojonegoro-Lamongan, terutama di Kecamatan Baureno menunjukkan citra curah hujan minim. Wilayah perbatasan Bojonegoro-Blora dan Bojonegoro-Tuban menunjukkan citra hujan ringan, serupa dengan wilayah kota.

Citra radar WOFI milik BMKG Stamet Juanda menunjukkan Bojonegoro sudah diselimuti awan hujan dengan intensitas ringan. Sementara itu, Tuban dan Lamongan terpantau cerah pada Selasa sore (21/10).
Citra radar WOFI milik BMKG Stamet Juanda menunjukkan Bojonegoro sudah diselimuti awan hujan dengan intensitas ringan. Sementara itu, Tuban dan Lamongan terpantau cerah pada Selasa sore (21/10).

Menurut Taufiq, peningkatan curah hujan disebabkan oleh aktivitas gelombang atmosfer yang saat ini saling melintasi Jawa Timur. “Fenomena ini disebabkan oleh gangguan gelombang atmosfer yaitu Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby dan gelombang Kelvin yang saat ini melintasi wilayah Jawa Timur,” jelasnya.

Di samping itu, suhu muka laut di wilayah Selat Madura juga tercatat relatif hangat, sehingga mendukung penguapan air laut dan pembentukan awan konvektif yang menyebabkan turunnya hujan. Laporan BMKG Stamet Juanda menyebut suhu air laut di wilayah tersebut berkisar antara 26 hingga 30 derajat Celcius.

Sehingga dengan potensi hujan yang mulai kembali menyelimuti Jawa Timur, Taufiq mewanti-wanti agar masyarakat tetap waspada dengan perubahan cuaca di lingkungan sekitar, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah perbukitan dan pegunungan.

“BMKG Juanda menghimbau masyarakat dan instansi terkait agar senantiasa waspada terhadap perubahan cuaca mendadak serta adanya potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang selama sepekan ke depan.  Wilayah dengan topografi curam, bergunung, dan tebing diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang dapat ditimbulkan akibat cuaca ekstrem seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang serta berkurangnya jarak pandang,” paparnya. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Jawa Timur #cuaca #hujan deras #curah hujan #bmkg juanda #Cuaca Ekstrem #kabupaten bojonegoro #Hujan #tuban #bojonegoro #awan hujan #lamongan #BMKG #meteorologi