Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Tahu vs Tempe: Sama-Sama Terbuat dari Kedelai, Mana yang Lebih Tinggi Protein?

Bhagas Dani Purwoko • Kamis, 25 September 2025 | 02:11 WIB
Tahu vs Tempe.
Tahu vs Tempe.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Produk olahan kedelai sudah menjadi bagian penting dari pola konsumsi masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lalu.

Dua di antaranya yang paling terkenal adalah tahu dan tempe. Hampir setiap daerah memiliki cara unik dalam mengolahnya, mulai dari gorengan, tumisan, sup, hingga hidangan khas tradisional.

Selain harga yang terjangkau, kandungan gizi yang dimiliki keduanya membuat tahu dan tempe tetap populer di meja makan berbagai kalangan.

Baca Juga: Luas Lahan Kedelai Bojonegoro Berkurang, Dipicu Kekurangan Suplai Air

Namun, muncul pertanyaan yang sering diajukan: jika sama-sama berbahan dasar kedelai, manakah yang lebih unggul dari segi kandungan protein, tahu atau tempe?

Tahu diperkirakan berasal dari Tiongkok, dibawa ke Indonesia pada abad ke-10 hingga 13 melalui jalur perdagangan.

Sejak itu, tahu berkembang dan diterima luas oleh masyarakat, hingga kini dikenal dengan beragam jenis: tahu putih, tahu kuning, tahu sutra, tahu pong, dan banyak lagi.

Berbeda dengan tahu, tempe merupakan makanan asli Indonesia yang keberadaannya tercatat sejak abad ke-16 di Jawa.

Tempe bahkan diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada tahun 2021. Proses fermentasi yang khas membuat tempe tidak hanya menjadi makanan sehari-hari, tetapi juga identitas kuliner bangsa.

Baca Juga: Desa Banjarejo Panen Kacang Hijau, Kedelai, dan Tembakau Bersamaan

Meski sama-sama berbahan dasar kedelai, proses produksi tahu dan tempe sangat berbeda.

Tahu dibuat dengan cara menggumpalkan sari kedelai yang telah disaring, kemudian dipadatkan hingga terbentuk blok putih.

Proses ini menyisakan cairan dan mengurangi sebagian kandungan serat. Teksturnya lembut, rasanya netral, sehingga mudah menyerap bumbu dan cocok diolah menjadi berbagai hidangan.

Tempe diproduksi melalui fermentasi kedelai utuh yang telah direbus, dikupas, dan diberi ragi Rhizopus oligosporus.

Fermentasi berlangsung sekitar 24–48 jam hingga kedelai menyatu menjadi padatan padat dengan serabut putih.

Proses ini bukan hanya mempertahankan nutrisi kedelai, tetapi juga meningkatkan ketersediaan zat gizi tertentu serta menambah kandungan vitamin B, probiotik, dan serat pangan.

Baca Juga: Perajin Tempe di Kedungadem Mengeluh Harga Kedelai yang Mahal, Mas Teguh Siap Tampung Aspirasi.

Salah satu hal yang paling sering diperbincangkan adalah kandungan protein pada kedua makanan ini. Dalam 100 gram bahan mentah, rata-rata kandungan proteinnya adalah:

Perbedaan yang cukup signifikan ini terjadi karena tahu hanya menggunakan sari kedelai, sedangkan tempe tetap mempertahankan biji kedelai utuh yang difermentasi.

Proses fermentasi juga membuat protein pada tempe lebih mudah dicerna oleh tubuh, sehingga kualitas proteinnya lebih baik.

Selain aspek gizi, tahu dan tempe juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial-ekonomi masyarakat.

Industri tahu dan tempe banyak digerakkan oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di seluruh Indonesia. Ribuan pengrajin menggantungkan hidup pada produksi ini.

Selain itu, keberadaan tahu dan tempe mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan kedelai sebagai sumber protein nabati yang murah meriah.

Baca Juga: Tren Jalan Sehat Merambah Setiap Kampung di Bojonegoro: Aneka Hadiah Unik, Seperti Tempe Raksasa dan Lele Jumbo Seberat Lima Kilogram

Tahu yang berasal dari luar negeri kemudian membaur dengan budaya Indonesia, sementara tempe menjadi simbol kuliner nusantara yang mendunia.

Meski sama-sama berbahan dasar kedelai, kandungan gizi tahu dan tempe berbeda cukup signifikan.

Tempe memiliki kandungan protein hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan tahu, serta dilengkapi serat, probiotik, dan vitamin tambahan dari hasil fermentasi. Namun, tahu tetap memiliki keunggulan sebagai makanan rendah kalori dan mudah diolah.

Pada akhirnya, bukan soal memilih salah satu, tetapi bagaimana mengombinasikan keduanya sesuai kebutuhan tubuh.

Baca Juga: Petani Kedelai di Bojonegoro Keluhkan Hama Tikus, Bagaimana Solusinya?

Tahu dan tempe adalah bukti nyata bahwa makanan sederhana pun bisa menjadi sumber gizi luar biasa bagi masyarakat, sekaligus menjaga warisan kuliner bangsa Indonesia. (lul)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#ragi #kedelai #protein #kesehatan #tempe #tahu #Fermentasi