Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Bioskop di Bojonegoro: dari Layar Mati ke Layar Hidup Lagi

Yuan Edo Ramadhana • Jumat, 25 Juli 2025 | 17:54 WIB
SABAR DULU: Penonton film horor harus sabar dengan rela antre membeli tiket bioskop demi mengobati penasaran film horor. (HAKAM ALGHIFARI/RADAR BOJONEGORO)
SABAR DULU: Penonton film horor harus sabar dengan rela antre membeli tiket bioskop demi mengobati penasaran film horor. (HAKAM ALGHIFARI/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COMBojonegoro pernah kehilangan denyut hiburan layar lebar. Kota minyak ini sempat lama tanpa bioskop, hingga generasi muda hanya mengenal film dari gawai dan televisi rumah. Namun kini, geliat itu hidup lagi. New Star Cineplex (NSC) hadir sebagai harapan baru,bahkan jadi pusat hiburan yang membuktikan Bojonegoro masih cinta bioskop.

Dulu Ramai, Lalu Mati Perlahan

Sekitar era 1980–1990-an, Bojonegoro memiliki beberapa bioskop populer: Pakri, OK, Rajekwesi, hingga Sineplak. Lokasinya strategis dan sering jadi tujuan hiburan akhir pekan warga kota. Tiket masih sangat terjangkau, dan menonton film di layar besar menjadi gaya hidup.

Namun seiring waktu, berbagai faktor membuat bioskop-bioskop tersebut tutup: Perkembangan teknologi (VCD, DVD, hingga internet), kurangnya film berkualitas, dan minimnya minat investor lokal. Saat era 2000-an, nyaris tak ada satu pun bioskop tersisa. Kota ini mengalami “layar mati”.

Kebangkitan yang Tak Diduga

Kondisi itu berubah sejak 2017, ketika NSC Bojonegoro membuka bioskop di Jalan Hayam Wuruk. Antusiasme warga luar biasa: Ratusan penonton rela antre untuk menonton Transformers dan Jailangkung di hari-hari awal. Tak hanya nostalgia, tapi juga kebutuhan akan hiburan yang lebih immersive dan sosial.

Kini NSC Bojonegoro menjadi satu-satunya bioskop aktif di kabupaten ini. Dengan dua studio dan kapasitas ratusan kursi, NSC berhasil menarik ribuan penonton per minggu. Tiket berkisar Rp 30.000–40.000, tergantung hari dan jenis film.

Saat libur Lebaran 2025, jumlah penonton di NSC membludak. Film seperti Qodrat 2, Komang, dan Siksa Kubur ludes dalam waktu singkat. Bahkan, menurut catatan NSC, lebih dari 1.200 tiket terjual hanya dalam sehari. Antrean terjadi sejak pagi, bahkan beberapa penonton gagal dapat tiket meski sudah datang jauh-jauh dari kecamatan luar kota.

Ini bukan hanya soal film. Antusiasme itu menunjukkan:

Film Lokal, Harapan Baru

Pada Januari 2023, film Autobiography, karya sutradara Makbul Mubarak yang syutingnya banyak dilakukan di Bojonegoro, tayang perdana di NSC. Film ini disambut meriah, dan menjadi momentum bagi komunitas film lokal bahwa Bojonegoro punya potensi menjadi “lokasi film” yang layak jual. Penonton bisa melihat rumah-rumah, jalan, hingga karakter khas Bojonegoro di layar lebar, hal yang sebelumnya hanya angan.

Meski berkembang, NSC belum memiliki sistem pemesanan online yang efektif. Banyak warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan tiket pada momen padat. Selain itu, belum ada kompetitor atau variasi bioskop lain, padahal Bojonegoro sudah punya potensi pasar lebih dari 1,2 juta penduduk.

Kebangkitan bioskop di Bojonegoro bukan sekadar soal hiburan. Ini menyangkut identitas budaya, interaksi sosial, dan ekonomi lokal. Dari kota yang sempat kehilangan layar lebar, kini Bojonegoro kembali memiliki tempat menonton bersama yang dirindukan warganya.

Bioskop bukan mati karena waktu, tapi karena tak diberi ruang. Kini, layar besar itu hidup lagi. Dan Bojonegoro membuktikan minat nonton tak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu waktu untuk menyala kembali. (feb)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#tiket #Layar Lebar #penonton #pusat hiburan #bojonegoro #film #bioskop #Kebangkitan #Hiburan #sinema