RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Perasaan “tidak pernah cukup” kerap dirasakan oleh banyak perempuan, terutama di usia dewasa muda.
Mereka merasa kurang sukses, kurang menarik, kurang pintar, atau bahkan kurang berharga meskipun telah melakukan berbagai pencapaian.
Fenomena ini bukan sekadar perasaan sesaat, tetapi berkaitan erat dengan konstruksi psikologis dan tekanan sosial yang dialami perempuan selama bertahun-tahun.
Tekanan Sosial dan Standar Ganda terhadap Perempuan
Salah satu faktor utama yang mendorong perasaan ini adalah standar sosial yang tidak realistis terhadap perempuan. Penelitian dari American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan mengalami tekanan dari ekspektasi ganda: harus sukses di karier, tampil menarik secara fisik, menjadi pasangan yang baik, serta menjalani peran domestik.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Psychology of Women Quarterly (2019), perempuan dilaporkan lebih sering mengalami tekanan untuk memenuhi standar “ideal” yang tidak jarang saling bertentangan. Tekanan ini menimbulkan beban mental tersendiri, yang kemudian melahirkan rasa bahwa apapun yang dilakukan selalu belum cukup.
Budaya Perfeksionisme dan Self-Criticism
Psikolog klinis Dr. Kristin Neff dari University of Texas mengemukakan bahwa perempuan cenderung memiliki tingkat self-criticism (kritik terhadap diri sendiri) yang lebih tinggi dibanding laki-laki. Hal ini diperkuat oleh budaya perfeksionisme yang ditanamkan sejak kecil, mulai dari tuntutan akademis hingga penampilan fisik.
Dalam bukunya Self-Compassion, Dr. Neff menyatakan bahwa banyak perempuan merasa nilai dirinya ditentukan dari seberapa baik ia memenuhi ekspektasi orang lain. Akibatnya, ketika gagal sedikit saja, mereka merasa diri mereka tidak cukup baik secara keseluruhan.
Peran Media Sosial dan Banding Sosial yang Tak Sehat
Media sosial juga berperan besar dalam memperkuat perasaan ini. Riset dari Journal of Social and Clinical Psychology (2018) menemukan bahwa semakin sering seseorang menggunakan media sosial, semakin tinggi pula risiko mengalami social comparison yang negatif. Perempuan yang melihat kesuksesan atau kebahagiaan orang lain di media sosial cenderung membandingkan dirinya sendiri secara tidak realistis.
Kondisi ini sering memunculkan pikiran seperti: “Kenapa hidupku tidak seindah dia?”, “Aku harusnya sudah menikah di usia ini”, atau “Aku belum sebagus mereka dalam karier.” Tanpa disadari, pikiran-pikiran semacam ini memupuk rasa tidak puas dan tidak cukup terhadap diri sendiri.
Efek Psikologis: Kecemasan hingga Imposter Syndrome
Perasaan tidak cukup bisa berkembang menjadi masalah psikologis seperti kecemasan (anxiety), burnout, bahkan imposter syndrome, yaitu keyakinan bahwa keberhasilan yang diraih bukan karena kemampuan sendiri, melainkan kebetulan atau keberuntungan semata.
Studi dari International Journal of Behavioral Science menyebut bahwa hampir 70% orang, terutama perempuan profesional, pernah mengalami imposter syndrome. Mereka merasa tidak pantas atas pencapaian yang sudah diraih, dan terus-menerus meragukan diri sendiri.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Psikolog menyarankan langkah awal yang bisa dilakukan adalah membangun kesadaran diri (self-awareness) dan melatih self-compassion. Alih-alih terus menuntut kesempurnaan, penting bagi perempuan untuk mengakui bahwa menjadi cukup bukan berarti harus memenuhi semua ekspektasi.
Terapi kognitif perilaku (CBT) juga terbukti efektif membantu individu mengelola pikiran negatif dan membentuk sudut pandang yang lebih realistis terhadap diri sendiri. Dalam beberapa kasus, membatasi konsumsi media sosial juga bisa mengurangi tekanan sosial yang tidak perlu. (kam)
Editor : Hakam Alghivari