Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

6 Prinsip Perempuan Bernilai Tinggi dalam Pandangan Psikologi yang Perlu Kamu Ketahui

Hakam Alghivari • Kamis, 10 April 2025 | 02:33 WIB
Ilustrasi prinsip perempuan bernilai tinggi dalam pandangan psikologi
Ilustrasi prinsip perempuan bernilai tinggi dalam pandangan psikologi

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di era modern saat ini, definisi perempuan yang "bernilai tinggi" tidak lagi terbatas pada aspek fisik atau status sosial semata. Perspektif psikologi menempatkan kualitas internal seperti konsistensi nilai, kejelasan konsep diri (self-concept clarity), dan keseimbangan peran sosial sebagai indikator utama. Penelitian terbaru oleh Russo, Barni, Zagrean, dan Danioni dalam artikel ilmiahnya pada tahun 2021, menyoroti pentingnya konsistensi nilai yang dibawa oleh individu dalam berbagai peran relasional sebagai kunci untuk mencapai kepuasan psikologis yang sehat.

Dilansir dari studi tersebut, mereka menyimpulkan bahwa perempuan yang mampu menjaga nilai-nilai yang sama baik dalam peran sebagai pasangan, ibu, profesional, maupun individu pribadi, lebih mungkin untuk memenuhi kebutuhan psikologis dasarnya, seperti otonomi, kompetensi, dan relasi. Hal ini hanya mungkin tercapai bila individu memiliki self-concept clarity, yakni pemahaman yang jelas tentang siapa dirinya dan apa yang penting baginya.

Melalui temuan ini, kita memahami bahwa perempuan bernilai tinggi bukan hanya tampil percaya diri di permukaan, namun juga ditopang oleh fondasi psikologis yang kokoh. Poin-poin yang dijelaskan dalam artikel ini seperti kejelasan identitas, kemandirian emosional, komunikasi otentik, hingga batasan sehat merupakan pengembangan tematik dari hasil studi tersebut, serta dilengkapi oleh teori klasik dari Deci & Ryan (2000) dalam Self-Determination Theory dan Maslow (1943) mengenai aktualisasi diri.

1. Kejelasan Diri (Self-Concept Clarity)

Perempuan bernilai tinggi tahu siapa dirinya. Ia memahami kekuatan, kekurangan, serta nilai-nilai yang menjadi prinsip hidupnya. Dalam psikologi, ini disebut self-concept clarity, yaitu kemampuan untuk mengenali dan memaknai jati diri secara jelas dan konsisten. Penelitian oleh Russo et al. (2021) menyatakan bahwa perempuan yang memiliki kejelasan tentang dirinya akan lebih mampu meraih keseimbangan emosi, relasi sehat, dan otonomi pribadi.

Dalam konteks ini, Carl Jung, seorang psikiater dan pendiri psikologi analitik menyebut proses mengenal diri ini sebagai individuasi, yakni proses menjadi diri sejati yang utuh. Ia mengatakan, “The privilege of a lifetime is to become who you truly are.” Jung sangat relevan dalam pembahasan ini karena ia mendorong manusia, termasuk perempuan, untuk tidak hidup memakai topeng sosial (persona), melainkan menjadi versi asli dirinya, inilah inti dari nilai sejati seorang perempuan.

2. Konsistensi Nilai dalam Setiap Peran

Perempuan bernilai tinggi tidak berubah-ubah nilai dan sikapnya hanya karena berubah peran atau lingkungan. Baik sebagai ibu, pemimpin, pasangan, maupun sahabat, ia tetap memegang prinsip hidup yang sama, seperti kejujuran, empati, dan tanggung jawab. Artikel penelitian yang dilakukan pada tahun 2021 menunjukkan bahwa konsistensi nilai di berbagai peran relasional sangat erat kaitannya dengan kepuasan psikologis.

Untuk memperkuat pemahaman ini, kita bisa melihat pada filosofi Mahatma Gandhi, tokoh kemerdekaan India yang banyak dijadikan rujukan dalam psikologi moral. Ia mengatakan, “Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.” Meskipun Gandhi bukan seorang psikolog, pemikirannya tentang keharmonisan antara pikiran, ucapan, dan tindakan menjadi sangat relevan dalam menggambarkan perempuan bernilai tinggi sebagai pribadi yang hidup dalam integritas, bukan kontradiksi.

3. Mandiri Secara Emosional

Mandiri secara emosional bukan berarti tidak membutuhkan siapa pun, melainkan tidak menggantungkan harga diri dan kebahagiaan pada pengakuan dari luar. Perempuan bernilai tinggi mampu merawat dirinya secara emosional. Ia bisa mencintai dan menjalin hubungan, tetapi tidak kehilangan identitasnya di dalamnya.

Pandangan ini diperkuat oleh Viktor Frankl, seorang psikiater Austria dan pendiri Logoterapi, pendekatan psikologi yang fokus pada pencarian makna hidup, terutama melalui penderitaan. Dalam bukunya Man’s Search for Meaning, ia menulis: “When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves.” Frankl sangat relevan dalam pembahasan ini karena perempuan bernilai tinggi tidak pasrah pada keadaan; ia justru membangun makna dari pengalaman, mengolah luka menjadi kekuatan, dan tumbuh dari dalam.

4. Mampu Menetapkan Batas Sehat

Salah satu ciri perempuan bernilai tinggi adalah kemampuannya menetapkan batas. Ia tahu kapan harus berkata “tidak” dan tidak merasa bersalah karena melakukannya. Ia paham bahwa batas yang sehat adalah bentuk perlindungan terhadap kesehatan mental dan emosionalnya.

Dalam konteks ini, Brene Brown, seorang profesor dan peneliti terkemuka dalam bidang kerentanan, keberanian, dan harga diri dari University of Houston berkata,“Daring to set boundaries is about having the courage to love ourselves, even when we risk disappointing others.” Brown sangat berperan dalam psikologi kontemporer, terutama dalam menjelaskan pentingnya self-worth dan keberanian emosional, dua hal yang membentuk fondasi perempuan bernilai tinggi. Ia mengajarkan bahwa mencintai diri bukan egois, melainkan bentuk keberanian untuk melindungi diri dari situasi dan hubungan yang tidak selaras dengan nilai hidup kita.

5. Komitmen untuk Terus Bertumbuh

Perempuan bernilai tinggi tidak merasa cukup hanya menjadi "baik". Ia ingin terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Ia belajar dari pengalaman, memperbaiki diri, dan mencari makna dalam pertumbuhan. Konsep ini dikenal dalam psikologi sebagai aktualisasi diri, yakni kebutuhan tertinggi dalam hierarki kebutuhan menurut Abraham Maslow, seorang psikolog humanistik asal Amerika.

Maslow menulis, “What a man can be, he must be.” Artinya, setiap orang memiliki panggilan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Maslow masih sangat relevan hingga kini, karena gagasannya tentang pertumbuhan diri menjadi dasar banyak terapi modern dan pelatihan pengembangan karakter. Diperkuat pula oleh Carl Jung yang berkata, “You are not what happened to you. You are what you choose to become.” Ini menunjukkan bahwa perempuan yang tumbuh bukan dikendalikan masa lalu, tetapi oleh kesadaran untuk melangkah maju.

6. Komunikasi yang Otentik dan Empatik

Perempuan bernilai tinggi berbicara dengan jujur, jelas, dan penuh empati. Ia tidak menggunakan kata-kata untuk memanipulasi, menyindir, atau menyenangkan orang lain secara tidak jujur. Sebaliknya, ia mengkomunikasikan perasaannya secara langsung, tanpa kehilangan kelembutan.

Konsep ini diperkuat oleh Marshall Rosenberg, psikolog Amerika dan pencetus Nonviolent Communication (NVC), metode komunikasi yang mengedepankan empati dan kejelasan dalam menyampaikan kebutuhan tanpa menyakiti. Rosenberg mengatakan, “Speak honestly, with empathy, and listen as if the other person is sacred.” Dalam konteks perempuan bernilai tinggi, komunikasi otentik adalah salah satu bentuk keberanian, yaitu keberanian untuk didengar, untuk mengungkapkan perasaan, dan untuk tetap setia pada kejujuran diri dalam setiap relasi. (nnd/mgg)

 

Editor : Hakam Alghivari
#Perempuan #psikologi #Prinsip #bernilai tinggi