Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kenapa Kita Baik kepada Orang Lain, tapi Galak kepada Pasangan Sendiri?

F
Ilustrasi perempuan yang mampu memberikan dukungan emosional kepada pasangannya, tanpa menghakimi
Ilustrasi perempuan yang mampu memberikan dukungan emosional kepada pasangannya, tanpa menghakimi

Advertisement

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pernah merasa bisa bersikap ramah kepada teman, sabar menghadapi rekan kerja, bahkan tetap tersenyum kepada orang asing, tetapi justru mudah marah ketika berhadapan dengan pasangan sendiri? Hal ini cukup sering terjadi dalam hubungan. Seseorang bisa menjaga tutur kata saat berbicara dengan orang lain, tetapi kehilangan kesabaran ketika pasangan melakukan kesalahan kecil. Padahal, pasangan adalah orang yang seharusnya mendapat perhatian dan kasih sayang.

Lantas, mengapa kita bisa bersikap baik kepada orang lain, tetapi justru lebih galak kepada pasangan sendiri?

1. Merasa Terlalu Nyaman dengan Pasangan

Advertisement

Salah satu penyebabnya adalah perasaan nyaman. Ketika bersama orang lain, kita cenderung menjaga sikap karena ingin memberikan kesan baik. Kita juga mempertimbangkan bagaimana orang lain akan menilai perilaku kita.

Namun, ketika bersama pasangan, batasan tersebut terkadang mulai mengendur. Kita merasa pasangan akan tetap menerima diri kita, bahkan ketika sedang marah atau bersikap buruk. Akibatnya, kita menjadi lebih mudah menunjukkan emosi tanpa memikirkan dampaknya. Padahal, merasa nyaman dengan pasangan seharusnya membuat seseorang lebih leluasa menjadi diri sendiri, bukan menjadikan pasangan sebagai tempat melampiaskan emosi.

Advertisement

2. Ekspektasi terhadap Pasangan Lebih Tinggi

Kita sering memiliki harapan lebih besar terhadap pasangan dibandingkan orang lain.

Kita berharap pasangan memahami perasaan tanpa harus selalu dijelaskan, mengetahui apa yang dibutuhkan, dan menyadari kesalahan tanpa perlu diingatkan berkali-kali. Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, rasa kecewa bisa muncul dan berubah menjadi kemarahan.

Misalnya, seseorang mungkin tidak mempermasalahkan teman yang lupa membalas pesan. Namun, ketika pasangan melakukan hal yang sama, ia merasa diabaikan atau tidak diprioritaskan. Perbedaan respons ini bisa terjadi karena hubungan romantis melibatkan kebutuhan emosional dan harapan yang lebih mendalam. Sayangnya, pasangan tidak selalu bisa memahami keinginan kita tanpa komunikasi yang jelas.

3. Pasangan Menjadi Tempat Melampiaskan Stres

Tekanan pekerjaan, masalah keuangan, kelelahan, dan persoalan keluarga dapat memengaruhi cara seseorang memperlakukan orang terdekatnya.

Saat berada di luar rumah, seseorang mungkin berusaha menahan emosi agar tetap profesional. Namun, setelah bertemu pasangan, seluruh kelelahan yang selama ini dipendam justru keluar dalam bentuk kemarahan.

Hal kecil, seperti pasangan yang lupa membeli sesuatu atau terlambat memberi kabar, akhirnya menjadi pemicu pertengkaran. Dalam kondisi ini, sumber kemarahan sebenarnya belum tentu berasal dari pasangan. Bisa jadi, ada tekanan lain yang belum terselesaikan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Setelah Menikah Jangan Saling Diam, Ini 7 Cara Menjaga Komunikasi dengan Pasangan

Setelah Menikah Jangan Saling Diam, Ini 7 Cara Menjaga Komunikasi dengan Pasangan

Setelah menikah, berbagai kesibukan, perbedaan kebiasaan, hingga masalah rumah tangga dapat menjadi tantangan yang memengaruhi hubungan suami istri.

7 Cara Memahami Perasaan Pasangan Setelah Menikah, Bukan Sekadar Bertanya 'Kamu Kenapa?'

7 Cara Memahami Perasaan Pasangan Setelah Menikah, Bukan Sekadar Bertanya 'Kamu Kenapa?'

Kehidupan setelah menikah menghadirkan banyak perubahan, mulai dari pembagian tanggung jawab, kondisi ekonomi, pekerjaan, hingga hubungan dengan keluarga.

Ingin Anak Laki-Laki Tumbuh Jadi Pria Baik? Tanamkan 7 Kebiasaan Ini Sejak Kecil

Ingin Anak Laki-Laki Tumbuh Jadi Pria Baik? Tanamkan 7 Kebiasaan Ini Sejak Kecil

Setiap orang tua tentu ingin anak laki-lakinya tumbuh menjadi pribadi yang baik, mandiri, bertanggung jawab, dan mampu menghargai orang lain. Namun, karakter tersebut tidak terbentuk begitu saja ketika anak sudah dewasa.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer