Oleh:
Slamet Widodo
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro
Di ruang tamu yang sederhana namun hangat, Pak Salman duduk di kursi kayu yang tampak usang dimakan usia. Di jemarinya terjepit sebatang rokok kretek kesukaannya; asapnya mengepul pelan, menyusup ke sela-sela bilah bambu dinding rumah tanpa plafon. Di hadapannya, segelas kopi hitam pahit tinggal separuh, mulai mendingin. Wajah Pak Salman menerawang ke langit-langit rumah, seolah mencari sesuatu yang tak tampak.
Tak jauh dari sana, Fikri—putra sulungnya—duduk bersila. Matanya menunduk khusyuk, jemarinya membuka lembar demi lembar Nashā’ihul ‘Ibād, karya Syekh Imam Nawawi al-Bantani. Sesekali bibirnya bergerak lirih, memantulkan nasihat yang baru saja ia baca. Sementara itu, Bu Sami—istri Pak Salman—telah terlelap, menemani Fitri, anak keduanya yang baru duduk di kelas dua madrasah ibtidaiyah.
Di luar rumah, tanah masih basah. Air hujan menggenang di beberapa cekungan halaman. Udara dingin menusuk tulang, sisa hujan lebat yang turun sejak bakda Ashar hingga menjelang pukul sembilan malam.
Dari arah masjid, corong pengeras suara baru saja terdiam. Khatmil Quran yang dimulai bakda Isya’ telah usai. Malam Kamis Pon memang selalu begitu di Laraswangi—Khatmil Quran, kirim doa untuk ahli kubur menjelang Magrib, disusul tahlil bersama bakda Magrib pada malam Jumat Wage di serambi masjid kebanggaan warga.
“Le…” Pak Salman memanggil lirih. Pandangannya tertuju pada putranya yang baru pulang libur dari pondok selama tiga hari.
“Dalem, Pak…” jawab Fikri sambil menoleh, menatap wajah teduh bapaknya yang kini mulai dipenuhi guratan usia.
“Wingi, Ustaz Zaka diingatkan oleh Pak Haji Rasid,” tutur Pak Salman memecah keheningan, “saat mengumumkan kegiatan Megengan pada jamaah tahlil.”
“Loh, kenapa, Pak?” tanya Fikri penasaran.
“Pak Haji Rasid tidak setuju kalau Megengan dijadikan satu dengan acara kirim doa malam Jumat Wage,” jelasnya.
Pak Salman melanjutkan, menirukan nada Pak Haji Rasid yang meninggi di hadapan jamaah,
“Kata wong-wong sepuh biyen, Megengan itu diadakan sehari sebelum puasa.”
Fikri menyimak dengan serius. Ia menutup kitab yang semula terbuka di atas meja.
“Lah, seharusnya bagaimana, Pak?” tanyanya. “Memang dulu para sepuh melakukannya begitu, seperti kata Pak Haji Rasid?”
Fikri menatap wajah bapaknya. “Terus, menurut Bapak sendiri bagaimana?”
Pak Salman menghela napas pelan. Asap rokoknya kembali mengepul, lalu menghilang di udara dingin.
“Megengan iku, Le, bukan ibadah pokok. Tidak ada perintah langsung dari Nabi.”
Fikri mengangguk. “Berarti bukan sunah juga, Pak?”
“Bukan sunah khusus,” jawab Pak Salman tenang. “Tapi isinya baik. Sing ngajari ya para Wali biyen. Wong Jawa kan senang kumpul, senang mangan bareng. Itu yang kemudian dimanfaatkan.”
Ia berhenti sejenak, meneguk sisa kopi yang kini terasa semakin pahit oleh dingin.
“Lewat Megengan, orang-orang diingatkan: Ramadhan sudah dekat. Sudah waktunya megeng hawa nafsu.”
“Terus soal makanan itu, Pak?” tanya Fikri. “Apem, ketan, kolak?”
Pak Salman tersenyum tipis.
“Apem iku saka tembung afwan—nyuwun pangapura. Ketan dan kolak mengingatkan supaya manusia itu lengket karo iman lan tansah eling marang Pangeran.”
Fikri terdiam. Matanya berbinar kecil.
“Berarti tujuannya bukan makan-makannya, ya, Pak?”
“Yo ora,” jawab Pak Salman cepat. “Makan itu hanya sarana. Sing utama itu sedekah, doa, dan ingat mati.”
“Terus soal dipisah atau digabung dengan tahlil, Pak?” Fikri kembali bertanya.
Pak Salman tersenyum getir.
“Nah, iki sing sok dadi rame. Wong sepuh biyen nglakoni sedino sadurunge pasa. Sekarang, orang-orang menyesuaikan dengan waktunya jamaah tahlil. Semua itu niatnya apik, Le.”
Ia menatap Fikri dalam-dalam.
“Sing ora apik iku jika Megengan jadi ajang pamer, atau sampai meninggalkan salat.”
Fikri menunduk.
“Nggeh, Pak. Berarti tugas kita meluruskan niat, bukan memperdebatkan adatnya.”
Pak Salman mengangguk pelan.
“Ngono kuwi. Islam tidak menentang budaya, Le… asal budaya tidak menentang Islam.”
Sunyi kembali menyelimuti ruang tamu itu. Di luar, air hujan masih menggenang. Di dalam, hati Fikri terasa lebih terang. Jarum jam menunjuk angka sebelas tepat.
***
Waktu Megengan—atas usulan para sesepuh yang kemudian disepakati bersama—akhirnya tiba. Malam Senin Wage dipilih sebagai pelaksanaannya. Esoknya, Selasa Kliwon, pemerintah dijadwalkan menggelar sidang isbat, sementara menurut perhitungan kalender, awal puasa diperkirakan jatuh pada Kamis Pahing.
Bakda Ashar, Dusun Laraswangi tampak ramai. Langit cerah, seolah ikut memberi restu. Laki-laki bersarung, berkoko, dan berpeci lalu-lalang di jalan-jalan kecil dusun, berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Di tangan mereka tergenggam plastik kresek berisi aneka makanan. Bagi warga, inilah adat Megengan yang diwariskan turun-temurun—tradisi yang tak boleh ditinggalkan, apalagi dihilangkan.
“Saat-saat kaya ngene iki, ahli kubur mulih menyang omah-omahé kanggo menjenguk keluarganya,” celetuk Mbah Suro di sela-sela mengikuti Megengan dari rumah ke rumah.
Ucapan itu bergaung lirih di antara langkah kaki dan salam-salaman.
Tak lama kemudian, makam dusun pun ramai. Laki-laki dan perempuan berdatangan, sebagian mengajak anak-anaknya. Mereka menabur bunga, mengirim doa, dan menundukkan kepala—nyekar—di hadapan pusara orang-orang tercinta.
***
Bakda Maghrib, orang-orang berkumpul di serambi masjid dengan membawa wadah berisi aneka makanan, terutama kue apem. Mereka duduk bersila membentuk lingkaran. Pak Salman dan Fikri turut larut di antara jamaah yang sebagian besar bapak-bapak dan para sepuh. Anak-anak muda nyaris tak tampak—entah karena pekerjaan, entah oleh kesibukan lain.
Sebelum memimpin tahlil dan doa, Ustaz Zaka memberi pengantar. Ia menjelaskan bahwa Megengan bukan ibadah pokok, melainkan laku budaya yang baik, sehingga waktu pelaksanaannya tidak harus terpaku pada hari tertentu. Di beberapa desa, tuturnya, Megengan bahkan dimulai sejak Nisfu Sya’ban hingga menjelang Ramadhan.
Jamaah menyimak dengan khusyuk. Sementara itu, pandangan Pak Salman berkeliling. Hanya satu dua pemuda yang tampak ikut duduk bersama.
Hatinya pun gelisah. Akankah tradisi ini tetap hidup ketika para sepuh telah tiada? Masih adakah generasi yang sudi melanjutkannya?
***
Pak Salman masih duduk bersila di serambi masjid yang mulai lengang. Jamaah satu per satu pamit pulang, membawa wadah kosong bekas kue apem.
“Le…” panggilnya pelan.
“Nggeh, Pak?” Fikri mendekat.
Pak Salman menarik napas. “Bapak kepikiran Megengan. Yang datang kok hanya orang-orang sepuh. Sing enom meh ora katon.”
Fikri terdiam, memandang daun pisang dan plastik bekas jajanan yang tergeletak di serambi.
“Bapak ndak khawatir adat ini hilang,” lanjutnya lirih. “Yang Bapak khawatirkan, maknanya yang hilang.”
“Maknanya?” tanya Fikri.
“Ingat marang Gusti Allah, ingat marang orang tua yang sudah mati, dan ingat jika hidup itu hanya mampir ngombe,” ucap Pak Salman pelan. “Jika tidak ada yang neruske, sapa maneh sing bakal ngelingke?”
Fikri menunduk. Dadanya terasa sesak.
“Bapak tidak memintamu menjaga Megengan ini karena adat,” sambungnya. “Tapi menjaga niatnya.”
“Nggeh, Pak. InsyaAllah,” jawab Fikri mantap. “Adat bukan tujuan. Hanya jalan.”
Pak Salman tersenyum lega. Melihat putranya yang sebentar lagi lulus Madrasah Aliyah. “Iya, Le. Jalan untuk saling mengingatkan. Jika nanti Bapak sudah tiada, itu yang Bapak titipkan kepadamu.”
Malam makin larut. Di serambi masjid itu, dua generasi duduk berdampingan—menjaga makna agar tak padam, meski angin zaman terus berembus.
Laraswangi, 06 Februari 2026 Bakda Isyak.
Editor : Yuan Edo Ramadhana