Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Lembar Budaya: Kepenggak Weton Hitungan Jawa

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 20 Juli 2025 | 02:48 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
SLAMET WIDODO
Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro

Malam mulai larut. Sunyi. Sepi. Hanya suara jangkrik yang menyelip di antara jeda waktu. Rembulan tanggal dua puluh dua menggantung temaram di langit Dusun Laraswangi, seolah menahan tangis yang tak sempat tumpah.


DI dalam rumah-rumah, semua orang terlelap, menghangatkan diri dalam peluk selimut—sementara udara dingin perlahan menusuk hingga ke tulang.

Mungkin, musim kemarau telah benar-benar tiba. Atau barangkali, hanya hatinya saja yang mulai mengering, diam-diam.

Sementara itu, di dalam kamar. Di atas sajadah merah, Alya masih mengenakan mukena. Ia duduk bersimpuh khusyuk di hadapan Rabb-nya. Tasbih masih setia di tangan kanannya, berputar pelan namun pasti, seiring zikir yang lirih mengalir dari bibirnya.

“Ya Rabb... Hamba ikhlas menerima takdir-Mu. Jika pun takdirku adalah sendiri seumur hidupku, aku ridha... asalkan Engkau tetap bersamaku. Namun kumohon... jangan pernah, sedetik pun, Engkau tinggalkan aku. Jangan biarkan hamba tersesat dalam sunyi dunia, dalam gelapnya hati yang kehilangan arah.”

Alya terdiam sejenak. Tangannya yang memutar tasbih mulai gemetar. Bibirnya masih berzikir, namun suaranya nyaris tak terdengar. Air mata jatuh, satu per satu, membasahi mukenanya—hingga basah seperti hujan yang turun tanpa aba-aba.

Lalu ia berbisik, lirih... nyaris hanya terdengar oleh malaikat pencatat:

Baca Juga: Lembar Budaya: Ruwatan Tanpa Kelir

’’Ya Rabb, Engkau Maha Tahu. Saat menyulam doa ini... air mataku tumpah. Aku sungguh tak mampu membendungnya. Bukan karena aku lemah. Tapi karena aku tahu, hanya kepada-Mu tempatku bergantung. Dan hanya kepada-Mu, aku menyerahkan seluruh luka... dan harapanku.”

Alya terduduk di atas sajadah merah. Perlahan, pintu kamarnya terbuka—ternyata tidak terkunci. Dari balik cahaya lampu temaram, tampak sosok Ibu berdiri di ambang pintu.

’’Ndhuk, kok durung turu?” suara Ibu lirih, nyaris seperti bisikan angin.

Naluri seorang ibu memang tak pernah salah. Ia bisa merasakan gemuruh di dada putri bungsunya, meski tak satu kata pun diucap. Saat Bu Diyah larut dalam tahajud di kamarnya, ia mendengar rintihan—pelan, nyaris tak terdengar—namun bagi telinganya, suara itu lebih nyaring dari apa pun.

’’Dereng, Buk,” jawab Alya, singkat dan sopan.

Jawaban yang tenang, tapi menyimpan makna yang dalam. Tangan kirinya sibuk menyeka air mata yang terus membanjir, sementara tangan kanannya masih memegang mushaf Qur’an kesayangannya—terbuka di halaman yang baru ia baca.

’’Niki… tasik muroja’ah…” suaranya pecah. Terisak. Dan air matanya tumpah makin deras.

’’Ibu boleh masuk, Ndhuk?” tanya Ibu, lembut, penuh iba—dengan hati yang juga nyaris roboh melihat putrinya bersedih begitu dalam.

’’Angsal, Buk... mangga mlebet.”

Alya menatap wajah ibunya yang teduh, dalam-dalam, seperti hendak menyelami ketenangan yang selalu dipancarkannya. Namun justru dari tatapan itu, air matanya kembali tumpah—deras, seolah tak lagi bisa ia bendung.

Perlahan, ibunya melangkah masuk ke dalam kamar. Tak ada suara. Hanya kesunyian yang terasa hangat oleh kehadiran seorang ibu.

’’Ibu…”

Satu kata itu meluncur lirih dari bibir Alya, sebelum tubuhnya terjatuh dalam pelukan sang bunda. Ia dekap erat—seerat rasa yang selama ini disimpannya sendiri. Semua beban, semua gundah, ia tumpahkan dalam pelukan yang menjadi tempat pulang paling aman.

Bu Diyah pun memeluk putrinya erat, seolah ingin menyerap seluruh luka itu, menghapus setiap tangis yang belum sempat terucap, dan menjadi penawar bagi duka yang tak pernah diminta datang.

Baca Juga: Lembar Budaya: Senandung Suro di Sendang Wangi

Dalam diam, dua hati itu saling bicara tanpa kata. Antara seorang ibu dan putrinya, yang hanya dengan pelukan, sudah saling memahami luka.

Alya masih dalam pelukan ibunya. Tubuhnya gemetar. Isaknya mulai pecah, tak bisa lagi ditahan.

’’Ibu…”

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskannya dengan lirih, ’’Alya capek, Buk… Lelah sekali…”

Bu Diyah hanya membalas dengan elusan lembut di punggungnya. Diam. Mendengarkan sepenuh jiwa.

’’Usiaku sudah tiga puluh, Buk… tapi aku masih sendiri…” suaranya parau.

’’Bukan karena tidak ada yang datang… bukan karena tak ada yang mau… tapi karena Ayah selalu mematok syarat yang rumit.”

Ia menahan tangis, tapi gagal. Air matanya kembali deras.

’’Dulu… pernah, ada yang benar-benar membuatku yakin. Seorang santri. Hafiz. Akhlaknya baik, tutur katanya lembut. Aku bisa melihat diriku bersamanya, menghafal Qur’an, membangun rumah yang sederhana tapi berkah. Tapi… hanya karena weton kami tibo pati… Ayah melarang. Katanya bisa membawa celaka.”

Ia terisak keras. Bu Diyah menghela napas pelan. Tapi tetap diam. Ia tahu, saat ini anaknya hanya butuh ruang untuk menumpahkan semua yang tertahan.

’’Kemudian datang lagi… seorang ustaz dari dusun sebelah. Shalih, mengajar ngaji, hidup sederhana… Tapi Ayah bilang: ‘Dia miskin! Bagaimana nanti kalian hidup?’ Lagi-lagi... aku harus mengubur harapanku sendiri, Buk...”

Alya menunduk dalam pelukan ibunya.

Baca Juga: Lembar Budaya: Teman Sebangku

’’Maafkan aku, Buk… malam ini aku tak kuat lagi menyimpannya sendiri...”

Alya masih terisak dalam pelukan ibunya, namun tangisnya perlahan berubah menjadi keluh lirih yang mengalir seperti sungai kecil—tenang tapi menghanyutkan.

’’Buk… bahkan waktu Bu Nyai di pondok menjodohkanku dengan Kang Santri Ndalem… yang jelas-jelas shalih, ngurus ndalem, dan hafal Qur’an, Ayah tetap saja menolak...”

Ia mengangkat wajahnya, matanya sembab, suaranya bergetar.

’’Alasannya tetap sama… wetonnya, Buk… katanya kurang cocok. Kurang cocok buat siapa, Buk? Buat aku… atau buat perhitungan langit yang hanya bisa Ayah baca dari kalender Jawa?”

Bu Diyah menarik napas panjang. Kali ini ia tak mampu membendung air matanya sendiri. Ia tahu, anaknya bukan sedang membangkang.

Alya sedang berjuang menjemput takdirnya yang terhalang oleh garis-garis hitungan yang tak pernah ia pilih.

Alya melanjutkan dengan suara parau, ’’Kadang aku bingung, Buk… apakah Ayah ingin aku menikah, atau lebih suka melihat aku tua dalam kesendirian?”

Hening. Lalu ia tunduk lagi, kali ini lebih dalam.

’’Mungkin… mungkin aku memang harus belajar mencintai takdir ini, meski terasa pahit… Tapi, Buk… bolehkah malam ini saja aku menangis sepuasnya? Tanpa harus kuat, tanpa harus sabar…”

Bu Diyah memejamkan mata. Dalam hatinya, ia ikut menjerit. Namun ia sadar, seorang ibu tak boleh hanyut. Ia harus menjadi sandaran yang tetap kokoh.

Ia kecup kening putrinya perlahan, lalu berbisik, ’’Sing sabar, Ndhuk… Gusti Allah pasti nyimpen sing paling apik kanggo kowe. Kadang, kita kudu meksa nrimo, mergo sing dikarepke dudu sing dikersakke.”

Malam semakin hening. Jarum jam menunjuk angka tiga. Dua wanita— ibu dan anak—nyaris tak
tidur sepanjang malam. Sunyi terasa begitu tebal, seakan waktu pun ikut berhenti sejenak, memberi ruang bagi tangis yang tak sempat tersampaikan selama bertahun-tahun.

Sebentar lagi Subuh menjelang. Dari kejauhan terdengar kokok ayam bersahutan, mengingatkan bahwa malam akan segera pamit.

Mereka masih duduk di kamar itu, dalam pelukan yang tak hanya menghangatkan tubuh, tapi juga jiwa yang telah lama terluka dan tak punya tempat berteduh.

Sementara itu, Pak Sarjo—ayah Alya—masih di luar kota, mengurus gabah yang baru saja dijual di gudang besar.

Baca Juga: Lembar Budaya: Teman Sebangku

Rumah besar itu terasa lebih lengang dari biasanya. Tak ada suara televisi, tak ada obrolan ringan di teras. Hanya suara zikir, tangis yang pelan, dan detak jam yang tak kenal lelah. ’’Istirahatlah dulu, Ndhuk… Jaga kesehatanmu, ya,” pinta Bu Diyah lembut, sambil mengusap pelan kepala putrinya.

’’Besok pagi kamu harus berangkat ke sekolah. Murid-muridmu pasti sudah menunggumu… Apalagi mereka masih kelas empat SD—anak-anak kecil yang masih sangat membutuhkan perhatian ekstra darimu.”

’’Mboten, Buk…” Alya menggeleng pelan. Suaranya lirih, parau.

Lehernya terasa tercekat, seolah menahan beban yang belum sepenuhnya terlepas. ’’Alya ingin melanjutkan muroja’ah… sekalian menunggu waktu Subuh.”

Ia teringat murid-muridnya—anak-anak lucu dan menggemaskan, dengan celoteh polos yang sering kali membuatnya tersenyum dan diam-diam menunduk.

Kadang, mereka melontarkan pertanyaan yang sulit dijawab: ’’Bu Guru cantik kok belum menikah to, Bu?”

Waktu itu, Alya hanya tersenyum lembut, penuh kasih, seolah tak terguncang. Tapi di balik senyum itu, hatinya seakan tertimpa bogem besar—nyeri, mendadak, dan tak bisa dilawan. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Sendiri #cerpen #kisah #weton #weton jawa #jodoh #jawa #takdir #menikah #Murojaah #Cerita